
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. (dok. pribadi Bhima)
JawaPos.com - Kalangan ekonom memandang pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 di luar dugaan. Bahkan, ada yang meragukan akurasi data Badan Pusat Statistik (BPS). Pasalnya, produk domestik bruto (PDB) bisa tumbuh di atas 5 persen.
BPS menyebutkan, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,12 persen secara year-on-year (YoY). Sementara secara kuartalan, meningkat 4,04 persen. Sedangkan, sepanjang semester I 2025 naik 4,99 persen.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengaku kaget melihat realisasi data itu. Rilis pertumbuhan ekonomi oleh BPS tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi.
"Ada beberapa data yang janggal, salah satunya soal pertumbuhan industri pengolahan. Selisih datanya terlalu berbeda antara BPS dan PMI (purchasing managers index) manufaktur," ujar Bhima kepada Jawa Pos, Selasa (5/8).
BPS menghitung adanya pertumbuhan 5,68 persen YoY untuk industri pengolahan. Sementara akhir Juni 2025, PMI manufaktur turun dari 47,4 menjadi 46,9.
"Secara kuartalan, ekonomi diperkirakan tumbuh 3,71 persen, pulih dari kontraksi 0,98 persen pada kuartal sebelumnya," kata Asmo kepada Jawa Pos.
Dia memperkirakan, konsumsi rumah tangga akan melambat. Sejalan dengan faktor musiman dan perilaku belanja yang lebih selektif. Meskipun peningkatan bantuan sosial pemerintah dapat membantu meredam pelambatan tersebut.
Aktivitas investasi diperkirakan tumbuh secara moderat pada kuartal II 2025. Tecermin dari penjualan semen yang melemah dan penurunan penyaluran kredit produktif oleh perbankan.
"Hal ini menunjukkan pembentukan modal yang lebih berhati-hati akibat sikap wait-and-see dari pelaku usaha," ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1995 itu.
Belanja pemerintah, lanjut Asmo, nampaknya akan pulih dari kontraksi pada periode sebelumnya. Hanya saja, total pengeluaran masih lesu. Belanja pemerintah pusat terutama untuk pegawai dan program sosial diperkirakan meningkat.
Pertumbuhan ekspor kemungkinan bakal terkerek naik. Didorong oleh strategi percepatan pengiriman (front loading) menjelang penerapan tarif impor dari Amerika Serikat (AS).
"Peningkatan itu diharapkan dapat menopang kinerja ekspor neto di tengah kondisi perdagangan global yang masih lesu," tandasnya.

Sah! Nathalie Holscher Resmi Dinikahi Aripat, Maskawinnya Berupa Uang Rp 2.272.026
Eks Bek Persib dan Persija Erik Setiawan Jadi Perbincangan Setelah Tuduhan Mantan Istrinya Viral
Menurut Psikologi, Orang yang Tidak Pernah Mengunggah Foto Dirinya di Media Sosial Kerap Kali Memiliki 8 Sifat Mengejutkan Ini
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mentan Amran Terbang ke Jatim Pukul 06.00 WIB, Borong Inovasi ITS: Benih Jagung, Traktor Amfibi, hingga Alat Panjat Kelapa
Roberto Carlos Ungkap Tiga Pemain Terbaik Sepanjang Masa, Lionel Messi dan Pele Tak Masuk!
2 Alasan Vicky Prasetyo Belum Menjenguk Fangfang yang Sudah Melahirkan Buah Hatinya
Komentar Pedas Zlatan Ibrahimovic di Piala Dunia 2026 Bikin Heboh, Ini Deretan Frasa Ikoniknya
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
Mediasi Ruben Onsu dan Sarwendah Digelar Tertutup, Ini yang Terjadi di Dalam Ruangan
