Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Agustus 2025 | 01.26 WIB

Ekonom Termangu Lihat Data Pertumbuhan Ekonomi BPS, Bagaimana Mungkin PHK Massal hingga Efisiensi tapi Tumbuh Tinggi?

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. (dok. pribadi Bhima) - Image

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. (dok. pribadi Bhima)

JawaPos.com - Kalangan ekonom memandang pertumbuhan ekonomi triwulan II 2025 di luar dugaan. Bahkan, ada yang meragukan akurasi data Badan Pusat Statistik (BPS). Pasalnya, produk domestik bruto (PDB) bisa tumbuh di atas 5 persen. 

BPS menyebutkan, produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,12 persen secara year-on-year (YoY). Sementara secara kuartalan, meningkat 4,04 persen. Sedangkan, sepanjang semester I 2025 naik 4,99 persen.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengaku kaget melihat realisasi data itu. Rilis pertumbuhan ekonomi oleh BPS tidak mencerminkan kondisi riil ekonomi.

"Ada beberapa data yang janggal, salah satunya soal pertumbuhan industri pengolahan. Selisih datanya terlalu berbeda antara BPS dan PMI (purchasing managers index) manufaktur," ujar Bhima kepada Jawa Pos, Selasa (5/8).

BPS menghitung adanya pertumbuhan 5,68 persen YoY untuk industri pengolahan. Sementara akhir Juni 2025, PMI manufaktur turun dari 47,4 menjadi 46,9.

"Secara kuartalan, ekonomi diperkirakan tumbuh 3,71 persen, pulih dari kontraksi 0,98 persen pada kuartal sebelumnya," kata Asmo kepada Jawa Pos

Dia memperkirakan, konsumsi rumah tangga akan melambat. Sejalan dengan faktor musiman dan perilaku belanja yang lebih selektif. Meskipun peningkatan bantuan sosial pemerintah dapat membantu meredam pelambatan tersebut.

Aktivitas investasi diperkirakan tumbuh secara moderat pada kuartal II 2025. Tecermin dari penjualan semen yang melemah dan penurunan penyaluran kredit produktif oleh perbankan.

"Hal ini menunjukkan pembentukan modal yang lebih berhati-hati akibat sikap wait-and-see dari pelaku usaha," ungkap alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia 1995 itu.

Belanja pemerintah, lanjut Asmo, nampaknya akan pulih dari kontraksi pada periode sebelumnya. Hanya saja, total pengeluaran masih lesu. Belanja pemerintah pusat terutama untuk pegawai dan program sosial diperkirakan meningkat.

Pertumbuhan ekspor kemungkinan bakal terkerek naik. Didorong oleh strategi percepatan pengiriman (front loading) menjelang penerapan tarif impor dari Amerika Serikat (AS).

"Peningkatan itu diharapkan dapat menopang kinerja ekspor neto di tengah kondisi perdagangan global yang masih lesu," tandasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore