Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Agustus 2025 | 23.18 WIB

Konsumsi Rumah Tangga Jadi Komponen Tertinggi Penopang Ekonomi RI di Kuartal II-2025, Konsumsi Pemerintah Loyo

Petugas gabungan melakukan sidak bahan pokok penting di Pasar Soponyono, Rungkut, Surabaya, Rabu (12/3). (Humas Pemkot Surabaya)

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat konsumsi rumah tangga menjadi komponen tertinggi penopang ekonomi Indonesia pada Kuartal II-2025. Sementara konsumsi pemerintah tercatat loyo. 

"Dari sisi pengeluaran, pada Kuartal II-2025 secara tahunan atau year on year (yoy) seluruh komponen mengalami pertumbuhan positif kecuali konsumsi pemerintah," kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud dalam konferensi pers di Kantornya, Selasa (5/8). 

Dia membeberkan bahwa komponen pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) adalah konsumsi rumah tangga dengan kontribusi sebesar 54,25 persen. 

"Pada Kuartal II-2025 komponen ini tumbuh cukup kuat yakni sebesar 4,97 persen. Hal ini mengindikasikan masih kuatnya permintaan domestik," bebernya. 

Selain itu komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga memberikan kontribusi yang besar terhadap PDB Kuartal II-2025 sebesar 27,83 persen. "Dengan demikian 82,08 persen PDB Kuartal II-2025 berasal dari konsumsi rumah tangga dan PMTB," pungkasnya. 

Untuk diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II-2025 tercatat sebesar 5,12 persen secara tahunan atau year on year (yoy). Angka tersebut tercatat tumbuh 4,04 dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2025. 

Ekonomi Indonesia berdasarkan besaran produk domestik bruto atau PDB pada Kuartal II-2025 atas dasar harga berlaku adalah sebesar Rp 5.947 triliun. Sementara PDB atas dasar harga konstan adalah Rp 3.396,3 triliun. 

Sehingga PE indonesia pada bila dibandingkan dengan Kuartal II-2024 atau secara year on year tumbuh sebesar 5,12 persen. Bila dibandingkan dengan triwulan I-2025 atau secara kuartal to kuartal (qtq) tumbuh 4,04 persen. 

Di sisi lain, Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal II-2025 berada di bawah 5 persen, yakni di kisaran 4,7–4,8 persen. Bahkan akan sedikit melambat dari Kuartal I-2025 yang sebesar 4,87 persen. 

Dia membeberkan, perlambatan ini tidak lepas dari tekanan yang datang dari berbagai sisi baik eksternal maupun domestik. Di level global, ketegangan geopolitik dan kebijakan tarif 19 persen dari Amerika Serikat (AS) menekan ekspor dan memicu ketidakpastian investasi.  

Sementara di dalam negeri, konsumsi rumah tangga belum sepenuhnya pulih, belanja pemerintah masih seret, dan pemulihan investasi berlangsung sangat lambat.  

"Meski begitu, saya melihat masih ada beberapa sektor yang berperan sebagai motor pendorong di tengah perlambatan ini. Salah satunya adalah sektor pertanian," beber Yusuf.  

Menurutnya, pada kuartal I-2025, sektor ini tumbuh impresif hingga 10,45 persen didorong oleh perbaikan pasca El Niño dan kenaikan harga komoditas seperti kopi, kelapa, sawit, dan karet.  

Kenaikan ini, kata dia, ikut mengangkat nilai tukar petani, terutama di sektor perkebunan dan pangan. Tren positif ini kemungkinan masih berlanjut di kuartal II-2025, meskipun tantangan seperti penyaluran beras dari cadangan pemerintah dan risiko penumpukan stok mulai muncul. 

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore