Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 5 Agustus 2025 | 03.01 WIB

Wall Street Melemah: Sinyal Pemangkasan Suku Bunga Makin Nyata

Ilustrasi - Pintu masuk Wall Street ke New York Stock Exchange (NYSE) terlihat di New York City, AS. ANTARA/REUTERS/Brendan McDermid - Image

Ilustrasi - Pintu masuk Wall Street ke New York Stock Exchange (NYSE) terlihat di New York City, AS. ANTARA/REUTERS/Brendan McDermid

JawaPos.com - Pasar saham Amerika Serikat mengawali Agustus 2025 dengan kinerja yang kurang menggembirakan. Pada penutupan perdagangan Jumat, 1 Agustus lalu, tiga indeks utama Wall Street kompak melemah. 

Indeks S&P 500 terkoreksi sebesar 1,60 persen, Dow Jones Industrial Average turun 1,23 persen, dan Nasdaq, yang didominasi saham teknologi, terpeleset lebih dalam hingga 2,24 persen.

Awalnya, pasar sempat bergerak menguat setelah laporan keuangan dari Microsoft dan Meta menunjukkan lonjakan pendapatan, terutama dari sektor komputasi awan dan investasi kecerdasan buatan. 

Optimisme ini bahkan sempat mendorong indeks futures naik sekitar satu persen di awal sesi. Namun, antusiasme itu cepat memudar seiring munculnya tekanan dari sektor kesehatan dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.

Kebijakan tarif baru terhadap impor tembaga dan ketidakjelasan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve semakin menambah ketidakpastian yang membayangi pasar.

Tekanan utama datang dari data ketenagakerjaan Amerika Serikat untuk bulan Juli yang dirilis lebih buruk dari perkiraan. Sepanjang bulan tersebut, hanya tercipta 73 ribu lapangan kerja baru, jauh di bawah ekspektasi pasar yang berada di kisaran 140 hingga 180 ribu.

Lebih dari itu, data untuk bulan Mei dan Juni juga direvisi turun secara signifikan, menunjukkan bahwa perlambatan di pasar tenaga kerja sebenarnya sudah terjadi selama beberapa bulan terakhir. 

Tingkat pengangguran naik dari 4,1 persen menjadi 4,2 persen, sementara pertumbuhan rata-rata upah per jam melambat menjadi 0,3 persen secara bulanan dan 3,9 persen secara tahunan. 

Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan memangkas suku bunga pada bulan September untuk kembali mendorong laju pertumbuhan ekonomi yang mulai melambat.

Di tengah dinamika ini, beberapa saham justru dinilai menarik untuk diperhatikan. Tim analis Ajaib, melalui Alvin Timothy Murthi, merekomendasikan tiga saham pilihan yang dinilai punya potensi teknikal untuk rebound.

Amazon (AMZN) menjadi salah satu saham yang mengalami tekanan cukup tajam setelah gagal menembus level resistance di kisaran USD 236. Harga saat ini berada di sekitar USD 214,81, mendekati area demand yang kuat di kisaran 210,64 hingga USD 201,89.

"Dengan indikator stochastic dan MACD yang menunjukkan kondisi oversold, peluang terjadinya pantulan jangka pendek terbuka, selama area support tersebut mampu bertahan. Target harga untuk AMZN dipatok di USD 221,5 dengan batas cut loss di USD 210, memberi potensi upside sebesar 3,11 persen," catat Alvin melalui keterangannya.

Saham JPMorgan Chase (JPM) juga menghadapi tekanan setelah gagal menembus level USD 300 dan kini berada di sekitar USD 289,05. Area support berikutnya berada di kisaran USD 280, yang berpotensi menjadi titik pembalikan arah jika terjadi reaksi beli. 

Indikator teknikal masih menunjukkan tren bearish, namun peluang reversal tetap terbuka. Target harga untuk JPM berada di USD 295,1 dengan level beli disarankan di USD 282, serta stop loss di USD 278,2. 

"Potensi kenaikan untuk saham ini mencapai 4,64 persen," lanjut Alvin.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore