
Ilustrasi roti gandum. (Pixabay/Antara)
JawaPos.com - Setiap tahun Indonesia mengimpor 12 juta ton gandum, untuk diolah jadi mi instan. Kondisi itu menjadi keprihatinan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Dia mendorong untuk pemanfaatan sumber pangan lokal. Misalnya gandum diganti dengan sorgum.
Dia mengatakan, konsumsi sumber pangan lokal bukan sebatas urusan perut. Tetapi juga ada nilai-nilai budayanya. Selain itu juga untuk mewujudkan diversifikasi pangan. Sehingga masyarakat tidak tergantung pada satu bahan pangan saja.
"Kita perlu memperkuat diversifikasi pangan agar tidak terus bergantung pada impor," ujarnya. Dia menjelaskan saat ini Indonesia mengimpor 12 juta ton gandum, yang sebagian besar diolah menjadi mie instan dan produk lainnya. Impor gandum ini bisa menghabiskan devisa negara. Selain itu, Indonesia sebelumnya juga masih mengimpor 2-3 juta ton beras. Dia menilai kondisi ini bisa merugikan para petani.
Berbagai cara dilakukan pemerintah untuk mendorong pengenalan sumber pangan lokal. Supaya masyarakat tidak selalu mengkonsumsi beras. Untuk diketahui pangan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Tetapi di sejumlah daerah banyak ditemui sumber pangan lokal. Seperti sagu dan jagung. Ada juga pangan lokal berubi ubi-ubian. Dengan meningkatnya konsumsi pangan lokal, otomatis mengurangi ketergantungan terhadap beras.
Sosialisasi pemanfaatan pangan lokal itu dilakukan lewat Jambore Pemuda Peduli Pangan Lokal (JPPPL). Jambore yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Ditjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan digelar di Kecamatan Linggang Bigung, Kampung Linggang Malapeh, Kabupaten Kutai Barat.
Direktur Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Kebudayaan Sjamsul Hadi mengatakan, keberadaan pangan lokal sangat penting. “Pangan lokal dan budaya adalah dua entitas yang tak terpisahkan," kata Sjamsul dalam keterangannya Sabtu (26/7).
Dia menjelaskan, kegiatan jambore itu sangat strategis. Karena mengajak pemuda kembali terkoneksi dengan akar budaya dan sumber pangan mereka sendiri.
Dia meyakini, pemuda sebagai agen perubahan mampu membangun masa depan yang berkelanjutan dan adil. Khususnya di sektor pangan.
Sjamsul Hadi mengatakan, Direktorat yang dia pimpinan akan terus mendukung ruangan dialog dan aksi nyata seperti ini di berbagai daerah Indonesia. Jambore itu diharapkan mampu menumbuhkan kepedulian pemuda terhadap tradisi pangan masyarakat adat. Kemudian juga bisa menumbuhkan karakter pemuda yang peduli budaya dan lingkungan.
"Kami juga mendorong tumbuhnya usaha kecil berbasis pangan tradisional. Kemudian juga membangun jejaring antar komunitas pemuda," jelasnya.
Selain itu juga untuk memajukan pelestarian komoditas pangan lokal khas Kutai Barat. Jambore itu juga merupakan bentuk dukungan terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s) khususnya pada poin 2 yaitu Mengakhiri Kelaparan dan poin 12 yaitu Pola Produksi dan Konsumsi Bertanggung Jawab. Kemudian juga menjadi bagian dari penerapan Education for Sustainable Development (ESD) dalam kehidupan nyata.
Dalam kesempatan yang sama, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan jambore yang mengusung isu pangan lokal itu. Dia mengatakan, pemuda Kutai Barat harus menjadi pelopor dalam melestarikan pangan dan budaya lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur.
"Kegiatan ini juga menjadi modal kuat bagi pembangunan ekonomi berbasis kearifan lokal," katanya. Mereka ingin generasi muda menjadi motor penggerak pembangunan berkelanjutan di Kutai Barat.

104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
8 Spot Kuliner di Kota Tua Surabaya, Makan Enak dengan Suasana Vintage dan Pemandangan yang Memanjakan Mata!
Mariano Peralta Merapat ke Persija Jakarta? Manajer Borneo FC Langsung Buka Suara
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
