
Jetstar. (Pixabay)
JawaPos.com - Maskapai nasional Australia, Qantas Airways Ltd, resmi mengumumkan penutupan Jetstar Asia, anak usahanya yang berbasis di Singapura dan beroperasi di segmen penerbangan berbiaya rendah (LCC). Keputusan itu akan berlaku efektif mulai 31 Juli 2025, seiring dengan meningkatnya tekanan biaya dan persaingan ketat di kawasan Asia Tenggara.
Selama kurang lebih tujuh pekan ke depan, Jetstar Asia masih akan mengoperasikan penerbangan secara bertahap sebelum resmi berhenti beroperasi. Sebanyak 13 unit Airbus A320 yang sebelumnya digunakan Jetstar Asia akan dipindahkan untuk memperkuat armada Qantas di pasar domestik Australia dan Selandia Baru.
Pihak Qantas menyatakan akan menata kembali modal sebesar AUD 500 juta dolar atau sekitar Rp 5 triliun untuk mendukung program pembaruan armada, yang menjadi salah satu investasi terbesar dalam sejarah perusahaan. Dilansir Reuters, CEO Qantas Group Vanessa Hudson mengatakan, lonjakan biaya pemasok hingga 200 persen di sejumlah sektor telah memengaruhi struktur operasional Jetstar Asia secara signifikan.
”Kami tengah menjalankan pembaruan armada terbesar yang pernah kami lakukan, dengan hampir 200 pesawat baru dalam pesanan dan investasi besar untuk armada eksisting,” ujar Hudson.
Lebih detil menjelaskan, CEO Jetstar Group Stephanie Tully mengungkapkan bahwa lonjakan tajam berbagai biaya operasional di Singapura menjadi faktor utama di balik keputusan menutup Jetstar Asia. Tully menyebutkan bahwa maskapai menghadapi kenaikan dua digit pada sejumlah komponen biaya, termasuk bahan bakar, tarif bandara, penanganan darat, hingga biaya keamanan. “Basis biaya di Singapura sudah tidak lagi kompetitif,” ujar Tully.
Jetstar Asia diperkirakan membukukan kerugian operasional sekitar USD22,76 juta pada tahun fiskal yang berakhir 30 Juni. Sepanjang perjalanannya, maskapai ini hanya mencetak keuntungan dalam enam dari 20 tahun masa operasinya. Qantas Group menyebut bahwa keputusan ini juga akan menimbulkan kerugian finansial satu kali sebesar AUD175 juta, yang akan dibukukan dalam dua tahun fiskal ke depan.
Penutupan Jetstar Asia terjadi di tengah ketatnya persaingan dengan maskapai LCC lainnya di kawasan, seperti AirAsia dari Malaysia dan Scoot milik Singapore Airlines. Kondisi ini membuat Jetstar Asia semakin tertekan secara finansial. Jetstar Asia pertama kali diluncurkan 20 tahun lalu sebagai bagian dari strategi Qantas untuk memasuki pasar penerbangan murah di Asia, menyusul akuisisi Impulse Airlines dan peluncuran merek Jetstar. (agf)

Prediksi Skor Selandia Baru vs Mesir di Piala Dunia 2026: Mohamed Salah Jadi Tumpuan Libas All Whites
Kapolri Kenang Warisan Bung Karno, Tegaskan Semangat Pemimpin Bangsa Harus Terus Dijaga
Prediksi Skor Ekuador vs Curacao di Piala Dunia 2026: La Tri Wajib Menang demi Lolos ke Babak 32 Besar
Prediksi Skor Uruguay vs Tanjung Verde di Piala Dunia 2026: Kecerdikan Marcelo Bielsa Hadapi Blue Sharks
Prediksi Skor Jerman vs Pantai Gading di Piala Dunia 2026: Ujian Sesungguhnya Die Mannschaft di Grup E
Prediksi Skor Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026: Kevin de Bruyne Jadi Pembeda Ladeni Perlawanan Team Melli
Gabriel Budi Blak-blakan, Agen Pemain Persebaya Surabaya Ungkap Sosok Paling Berkesan
Prediksi Skor Spanyol vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: La Roja Wajib Menang Demi Lolos ke 32 Besar
Prediksi Susunan Pemain Timnas Jepang vs Tunisia: Hiroki Ito Sudah Kantongi Kekuatan Lawan!
Prediksi Susunan Pemain Timnas Ekuador vs Curacao: Alan Franco Sudah Lupakan Kekalahan di Laga Perdana
