
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bersiap menyampaikan paparan pada Rapat Paripurna ke-18 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2024-2025 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (20/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa Pemerintah Indonesia membutuhkan anggaran investasi infrastruktur sebesar USD 625 juta atau setara Rp 10.000 triliun (kurs: Rp 16.000 per dolar AS) pada tahun 2025-2026. Menkeu menyebut, dari total tersebut Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan pemerintah daerah atau Pemda hanya bisa menutupi 40 persennya saja.
"Total investasi infrastruktur yang dibutuhkan pada periode 2025-2026 sekitar USD 625 juta. Budjet pemerintahan dikombinasi dengan budget Pemda akan menutupi sekitar 40 persen," kata Sri Mulyani dalam International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta, Kamis (12/6/2025).
Lebih lanjut, Menkeu mengatakan dengan 40 persen anggaran yang akan disiapkan Pemerintah Indonesia mengalami kesenjangan pendanaan. Itu sebabnya, Indonesia sangat membutuhkan sektor swasta dan para mitra untuk mendukung proyek infrastruktur di tanah air.
Salah satu yang akan dilakukan bersama dengan sektor swasta yaitu dengan menerapkan pendanaan yang inovatif. Di sisi lain, pengetatan APBN untuk prioritas domestik juga dilakukan seiring dengan meningkatnya tekanan global yang saat ini terjadi.
"Dunia saat ini penuh dengan ketegangan geopolitik yang terus menerus mengakibatkan fragmentasi dan ketidakstabilan di seluruh negara dan kawasan, hingga membuat prospek ekonomi global tidak bagus," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani mengatakan bahwa potensi investasi di sektor infrastruktur sangat besar, mencapai USD 644 juta atau sekitar Rp 10.609,9 triliun. Potensi investasi tersebut 40 persen diantaranya berasal dari pemerintah, 30 persen dari sektor swasta dan sisanya berasal dari perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang saat ini berada di bawah naungan Keuangan menjadi sepenuhnya di bawah Badan Pengelolaan Investasi (BPI) Daya Anggata Nusantara (Danantara).
Itu sebabnya, pemerintah saat ini sedang membentuk gugus tugas untuk memperbaiki regulasi investasi yang sudah ada menjadi lebih baik dan mudah. "Sehingga investasi kita di Indonesia bisa dikembangkan. Karena jika tidak, potensi akan dianggap sebagai potensi, dan tantangannya untuk diaktifkan akan mengambil waktu yang panjang," ujar Rosan.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
