Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 April 2025 | 19.54 WIB

Celios Nilai Kebijakan Prabowo Tak Tepat Timing, Impor Tanpa Kuota saat Perang Dagang Sama Saja Bunuh Diri

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara. - Image

Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara.

JawaPos.com - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyoroti keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk menyesuaikan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dia mengatakan, penyesuaian TKDN pada saat terjadinya perang dagang dunia bisa berujung blunder.

"Kalau buru-buru hapus kuota impor (pada TKDN), sementara saat perang dagang Indonesia jadi tujuan impor dari berbagai negara, apa itu tidak blunder?" kata Bhima saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (10/4).

Bhima menegaskan, penghapusan kuota impor pada TKDN seolah-olah berkeinginan untuk memberantas rantai impor. Namun, perlindungan bagi industri domestik juga harus diperhatikan.

Menurutnya, seharusnya Presiden Prabowo harus mempunyai sejumlah pertimbangan sebelum benar-benar menginstruksikan penyesuaian kebijakan TKDN. Seperti halnya perang dagang yang membuat produsen dan berbagai negara mencari pasar alternatif pakaian jadi dari Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok. Hal ini tentu akan membanjiri pasar Indonesia.

"Pelaku usaha domestik banyak yang meminta Permendag 8 Tahun 2024 segera direvisi, tapi ini malah tidak dilakukan. Kalau impornya dilonggarkan, bukankah ini sama dengan bunuh diri," jelas dia.

Selain itu, ia juga menyoroti program Presiden Prabowo yang berkaitan dengan swasembada pangan. Bhima menekankan bahwa program ini tak relevan lantaran impor pangan yang sudah membengkak akan semakin melonjak.

"Buat apa bikin food estate, dan bangun waduk kalau pangan impor makin deras masuk. Prabowo sepertinya tidak paham konsekuensi dari dibukanya keran importasi," tutup Bhima.

Sebelumnya diberitakan, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya agar regulasi mengenai TKDN dibuat dengan fleksibel dan realistis. Hal itu dilakukan guna menjaga daya saing industri Tanah Air di pasar global.

Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam sesi dialog pada acara Sarasehan Ekonomi yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4). "TKDN sudahlah niatnya baik, nasionalisme. Saya kalau Saudara, mungkin sudah kenal saya lama, mungkin dari saya ini paling nasionalis. Kalau istilahnya dulu, kalau mungkin jantung saya dibuka yang keluar Merah Putih, mungkin," kata Prabowo.

"Tapi kita harus realistis, TKDN dipaksakan, ini akhirnya kita kalah kompetitif. Saya sangat setuju, TKDN fleksibel saja, mungkin diganti dengan insentif," sambungnya. 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore