
Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira Adhinegara.
JawaPos.com - Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyoroti keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk menyesuaikan kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Dia mengatakan, penyesuaian TKDN pada saat terjadinya perang dagang dunia bisa berujung blunder.
"Kalau buru-buru hapus kuota impor (pada TKDN), sementara saat perang dagang Indonesia jadi tujuan impor dari berbagai negara, apa itu tidak blunder?" kata Bhima saat dihubungi JawaPos.com, Kamis (10/4).
Bhima menegaskan, penghapusan kuota impor pada TKDN seolah-olah berkeinginan untuk memberantas rantai impor. Namun, perlindungan bagi industri domestik juga harus diperhatikan.
Menurutnya, seharusnya Presiden Prabowo harus mempunyai sejumlah pertimbangan sebelum benar-benar menginstruksikan penyesuaian kebijakan TKDN. Seperti halnya perang dagang yang membuat produsen dan berbagai negara mencari pasar alternatif pakaian jadi dari Vietnam, Kamboja, dan Tiongkok. Hal ini tentu akan membanjiri pasar Indonesia.
"Pelaku usaha domestik banyak yang meminta Permendag 8 Tahun 2024 segera direvisi, tapi ini malah tidak dilakukan. Kalau impornya dilonggarkan, bukankah ini sama dengan bunuh diri," jelas dia.
Selain itu, ia juga menyoroti program Presiden Prabowo yang berkaitan dengan swasembada pangan. Bhima menekankan bahwa program ini tak relevan lantaran impor pangan yang sudah membengkak akan semakin melonjak.
"Buat apa bikin food estate, dan bangun waduk kalau pangan impor makin deras masuk. Prabowo sepertinya tidak paham konsekuensi dari dibukanya keran importasi," tutup Bhima.
Sebelumnya diberitakan, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya agar regulasi mengenai TKDN dibuat dengan fleksibel dan realistis. Hal itu dilakukan guna menjaga daya saing industri Tanah Air di pasar global.
Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam sesi dialog pada acara Sarasehan Ekonomi yang digelar di Menara Mandiri, Jakarta, Selasa (8/4). "TKDN sudahlah niatnya baik, nasionalisme. Saya kalau Saudara, mungkin sudah kenal saya lama, mungkin dari saya ini paling nasionalis. Kalau istilahnya dulu, kalau mungkin jantung saya dibuka yang keluar Merah Putih, mungkin," kata Prabowo.
"Tapi kita harus realistis, TKDN dipaksakan, ini akhirnya kita kalah kompetitif. Saya sangat setuju, TKDN fleksibel saja, mungkin diganti dengan insentif," sambungnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
