Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 4 September 2024 | 04.41 WIB

Wapres Ma’ruf Amin Tekankan Tiga Strategi Genjot Ekonomi Syariah

PERDANA KE IKN: Wakil Presiden Ma’ruf Amin memimpin doa bersama di Swissotel Nusantara IKN Minggu malam (11/8). (Humas Setwapres) - Image

PERDANA KE IKN: Wakil Presiden Ma’ruf Amin memimpin doa bersama di Swissotel Nusantara IKN Minggu malam (11/8). (Humas Setwapres)

JawaPos.com–Institute For Development of Economics And Finance (Indef) meyakini aset perbankan syariah Indonesia bisa menembus Rp 1.000 triliun. Tidak hanya didorong instrumen teknikal bisnis maupun manajemen. Tapi juga didukung arah politik ekonomi pemerintah.

Hingga akhir Januari 2024, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset bank umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) mencapai Rp 845,61 triliun.

Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin hadir meresmikan CSED yang diinisiasi Indef. Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia itu menekankan tiga langkah strategis yang perlu dijalankan secara konsisten untuk memastikan ekosistem ekonomi syariah Indonesia terus berkembang, lebih inklusif, dan berkelanjutan. Yakni, meningkatkan kualitas riset dan pengembangan sumber daya manusia, kolaborasi multipihak, serta mendorong literasi ekonomi dan keuangan syariah.

”Peningkatan kualitas riset dan pengembangan sumber daya manusia di bidang ekonomi syariah untuk melahirkan inovasi yang mendukung transformasi ekonomi nasional,” jelas Ma'ruf Amin.

Dengan demikian, dapat menjadi mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang memperkuat ekonomi dan keuangan syariah. Tentunya melalui rekomendasi yang inovatif dan implementatif.

Menurut Wapres, keberhasilan pengembangan ekonomi syariah membutuhkan kolaborasi dan harmonisasi langkah dan visi yang seragam dari seluruh pemangku kepentingan. Di saat yang sama, menggenjot indeks literasi ekonomi dan keuangan syariah agar masyarakat lebih memahami. Sehingga dapat memanfaatkan produk-produk syariah secara optimal.

Founder Indef Didik J. Rachbini menjelaskan, perbankan menjadi salah instrumen yang penting dalam mendorong ekonomi syariah. Sebagai sumber pembiayaan untuk menggerakkan sektor pariwisata syariah, produk halal, muslim fashion, dan sektor syariah lain.

”Sebenarnya Rp 1.000 triliun ini bisa berkembang dan menurut saya (potensinya) cukup besar. Yang penting juga bukan hanya instrumen-instrumen technical business management, tapi instrumen kebijakan politik ekonomi,” ungkap Didik dalam sambutan peresmian Center for Shariah Economic Development (CSED) di Hotel Aryaduta, Selasa (3/9).

Ekonomi dan keuangan syariah (eksyar) memang terus menunjukkan pertumbuhan. Indonesia sebagai pusat industri halal dunia sudah mendapatkan pengakuan secara global. Memperluas akses pembiayaan serta menguatkan literasi dan inklusi keuangan syariah terus dilakukan agar tren positif tetap berlanjut.

State of Global Islamic Report 2023 menempatkan Indonesia pada peringkat 3 dalam Global Islamic Economy Score 2023. Ekspansi ekonomi syariah dari sisi pembiayaan juga tumbuh double digit. Per Mei 2024, pembiayaan syariah pada Mei 2024 meningkat 14,07 persen year-on-year (YoY). Lebih tinggi dari pembiayaan konvensional yang tumbuh 12,15 persen YoY.

Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia juga terus meningkat. Saat ini sudah mencapai 7,38 persen. Dengan pertumbuhan aset sebesar 9,71 persen atau Rp 892,97 triliun pada Maret 2024.

Sementara itu, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatatkan pertumbuhan pembiayaan double digit hingga akhir Juni 2024. Tumbuh 15,99 persen year-on-year (YoY) dengan rasio pembiayaan bermasalah alias non-performing finance (NPF) gross yang turun ke level 1,99 persen. Jauh membaik dibanding Juni 2023 sebesar 2,31 persen.

Kinerja pembiayaan ditopang pembiayaan segmen ritel dan konsumer, termasuk UMKM yang mencapai Rp 184,61 triliun. Segmen wholesale memiliki komposisi 28,27 persen dengan outstanding Rp 72,77 triliun.

”Hal ini menunjukkan bahwa segmen ritel, konsumer dan UMKM memberikan kontribusi besar bagi pertumbuhan pembiayaan BSI,” ujar Direktur Utama BSI Hery Gunardi.

Untuk aset, BSI mencatat pertumbuhan sebesar 15,10 persen YoY menjadi Rp 360,85 triliun. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai 17,50 persen YoY menjadikan bank syariah hasil merger tiga bank Himbara itu yang tertinggi di Top 10 Bank Indonesia.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore