
Kondisi genangan banjir di Desa Ketanjung, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, hingga hari ini (12/2/2024) belum juga surut. (ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif)
JawaPos.com – Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) meminta dinas perhubungan di level provinsi atau kabupaten/kota turut membantu memantau area rawan banjir yang menjadi jalur utama logistik, khususnya di pantai utara Jawa Tengah. Misalnya, dengan memasang alert system (sistem peringatan).
”Misal ada banjir di kota tertentu, ada alert system di kota-kota sekitar melalui komunikasi online sehingga bisa dihindari (terjebak) sejak dini,” kata Ketua Umum ALI Mahendra Rianto kepada Jawa Pos kemarin (20/2).
Menurut Rianto, angkutan logistik yang terjebak banjir berpotensi sangat merugikan perusahaan jasa logistik. Sebab, barang yang diangkut relatif memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan nilai jasa suatu angkutan.
”Biasanya nilai jasa angkutan hanya 10 persen dari nilai barang,” ujarnya.
Demak termasuk kabupaten di sisi utara Jawa Tengah yang dirundung banjir sampai sekarang. Dampaknya tak hanya dirasakan belasan ribu jiwa, tapi juga mereka yang biasa melintas di pantura Jawa Tengah untuk berbagai kepentingan.
ALI menyebut banjir di sejumlah titik, khususnya di Jawa Tengah, sempat mengganggu operasional kendaraan angkutan yang melewati jalur Demak dan Kudus. Beberapa armada harus menunggu akses jalan kembali dibuka.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan, puncak musim hujan terjadi hingga akhir Februari. Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani mengatakan, sejak awal Februari 2024 terjadi hujan intensitas ringan, sedang, hingga lebat di sejumlah daerah.
Salah satunya di Jawa Timur (Jatim). ’’Bahkan, terpantau terjadi hujan intensitas sangat lebat atau ekstrem di provinsi ini,’’ paparnya.
Berdasar perkiraan BMKG, puncak musim hujan tahun ini memang terjadi pada Februari. Serta, sebagian besar melanda Jawa Timur. ’’Tingginya intensitas hujan di Jawa Timur sesuai dengan prakiraan cuaca BMKG,’’ terangnya kemarin.
Tingginya intensitas hujan tersebut, salah satunya, dipengaruhi gelombang Kelvin yang meningkatkan pertumbuhan awan hujan di Jatim. Ditambah anomali suhu muka laut yang positif, wilayah perlambatan dan pertemuan kecepatan angin, serta topografi yang kompleks meningkatkan proses pertumbuhan awan dan curah hujan di Jawa Timur.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan bahwa pemerintah tidak hanya diam dan menonton penderitaan petani saat membutuhkan bantuan. Pemerintah juga tengah mencari alternatif dan solusi untuk mengatasinya.
Selain bantuan uang tunai sebesar Rp 8 juta/hektare bagi petani yang mengalami puso, Kementerian Pertanian (Kementan) telah memberikan bantuan benih gratis dan alat mesin pertanian. ”Semua bantuan ini kami berikan karena Indonesia sedang diterpa cuaca ekstrem El Nino dan musim hujan La Nina,” ujarnya. (idr/mia/agf/c7/ttg)

50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
7 Tahun Tak Terkalahkan! Bernardo Tavares Wajib Jaga Harga Diri Persebaya Surabaya di Derbi Jawa Timur Lawan Arema FC
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
Jadwal Lengkap MotoGP Spanyol 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama dan Mario Aji dari Barisan Belakang di Jerez
Pesan Haru dari Ernando Ari! Dukungan Diam-Diam Bikin Milos Raickovic Bangkit di Persebaya Surabaya
Terdepak dari Puncak Klasemen Liga Inggris, Bayang-bayang Kegagalan Juara di Akhir Musim kembali Menghantui Arsenal
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Profil Agnes Aditya Rahajeng, Pemenang Puteri Indonesia 2026
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
