Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Februari 2022 | 04.32 WIB

Rusia Serang Ukraina, Pemerintah Diminta Segera Lakukan APBN Perubahan

Ekonom Instute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. (Hana Adi/Dok.JawaPos.com) - Image

Ekonom Instute For Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. (Hana Adi/Dok.JawaPos.com)

JawaPos.com - Tensi antara Rusia dan Ukraina makin memanas setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di Ukraina. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, hal tersebut tentunya akan berpengaruh pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia.

“Ketegangan antara Rusia dan AS di Ukraina dampak ke sektor keuangan paling terasa ya,” kata Bhima saat dihubungi oleh JawaPos.com, Kamis (24/2).

Bhima meminta agar pemerintah untuk melakukan APBN perubahan untuk menyesuaikan kembali beberapa indikator asumsi pertumbuhan ekonomi, khususnya nilai tukar rupiah dan inflasi. Sebab, kenaikan inflasi nantinya dapat lebih tinggi daripada perkiraan sebelumnya.

Bhima memaparkan, saat ini rupiah sudah bergerak di level Rp 14.500 per USD dan diperkirakan akan mendekati level Rp 15.000 per USD jika konflik eskalasinya semakin meluas dan melibatkan banyak negara.

“Jadi ini menimbulkan de stabilitas di kawasan dan tentunya ini akan merugikan prospek pemulihan dan stabilitas moneter yang ada di Indonesia karena bertepatan dengan tappering off dan juga kenaikan suku bunga yang terjadi di negara-negara maju,” jelasnya.

Selanjutnya, harga minyak mentah dalam asumsi makro ekonomi tercatat USD 63 per barel. Saat ini, harga komoditas minyak mentah sudah tembus diatas USD 100 per barel. Artinya, gap antara harga minyak yang digarapkan dalam APBN maupun harga minyak mentah yg real di lapangan sudah terlalu jauh.

“Hal ini akan meningkatkan inflasi dan akan membuat biaya pengiriman barang biaya logistik akan jauh lebih mahal,” ucapnya.

Efeknya, harga kebutuhan pokok semakin meningkat disaat daya beli masyarakatnya semakin rendah. Sebab, efek terhadap subsidi di sektor energi akan membengkak cukup signifikan.

Pemerintah diminta harus segera melakukan APBN perubahan untuk menyesuaikan kembali beberapa indikator tersebut, termasuk perlu melakukan antisipasi seperti tambahan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) tahun ini. Sebagian besar penggunaan dana PEN tersebut mencakup stabilitas harga pangan dan kenaikan harga energi kedepannya.

“Komponen anggaran Pen karena mengancam serius sekali pada stabilitas dan pemulihan ekonomi sepanjang 2022,” pungkasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore