
ILUSTRASI INDUSTRI BAJA NASIONAL (ISTIMEWA)
JawaPos.com - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebut, pertumbuhan positif sektor baja nasional ditengah pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga saat ini tak terlepas dari upaya pengendalian yang dilakukan pemerintah.
Direktur industri logam, mesin, alat transportasi dan elektronika (ILMATE) Budi Susanto mengatakan, salah satunya karena penerapan suplai dan permintaan yang melibatkan sejumlah pihak industri baja dari hulu hingga hilir. Hal itu dilakukan meskipun pada November hingga Desember lalu terjadi penyesuaian tata cara importasi yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan melalui single windows INSW.
Selain itu, peningkatan kebutuhan baja ini didukung kebijakan PPnBM otomotif yang juga tumbuh hingga 27 persen pada kuartal III tahun 2021 yang membutuhkan baja khusus di sektor otomotif. Sebab, pemenuhannya belum dapat dipenuhi oleh pabrikan dalam negeri.
’’Menjadi penting agar produk-produk yang sudah diproduksi di dalam negeri dapat dimaksimalkan. Dan hampir semua impor yang ada merupakan bahan baku untuk berbagai jenis industri,” kata Budi Susanto dalam keterangannya, Sabtu (22/1).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi kenaikan impor baja sebesar 23 persen yang semula 3,9 juta ton di tahun 2020 menjadi 4,8 juta ton di tahun 2021. Sementara, jika dibanding tahun 2020 kinerja industri nasional cukup menggembirakan dengan indikasi rata-rata Purchasing Manager Index (PMI) selama 2021 menunjukkan angka ekspansif di atas 50.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Eksekutif Research Oriented Development Analysis (RODA) Institute Ahmad Rijal Ilyas menuturkan, dalam melakukan perbandingan data baja jangan menggunakan data tahun 2020, sebab hal itu tidak relevan.
"Saat itu semua industri terpuruk, artinya kalau tidak boleh naik terhadap tahun 2020 sama saja tidak ingin industri baja ini tumbuh karena yang diimpor adalah bahan baku," ucapnya.
Ia memandang, jika dibanding 2019, impor baja 2021 mengalami penurunan yang cukup baik yaitu dari 4,8 juta ton di 2021 menurun sebesar 2 juta ton atau 29,4 persen dibanding 2019 yang importasinya berjumlah 6,8 juta ton.
Menurutnya, beberapa program pemerintah dirasakan manfaatnya oleh pelaku usaha. Hal itu diantaranya terkait pengendalian impor melalui program subtitusi impor yaitu penurunan nilai impor untuk beberapa produk baja. Sehingga, mendorong peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN).
Selain itu juga mendorong penerapan SNI wajib dalam rangka melindungi konsumen dalam negeri dari produk baja yang tidak berkualitas. Serta, pemberian insentif guna mendorong peningkatan investasi di sektor industri logam. "Diharapkan dengan program-program tersebut dapat terus ditingkatkan untuk mendorong kinerja industri baja pada periode selanjutnya," tandasnya. (*)

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
