DEDIKASI: Nadia Anggraini, Sid Sridhar, dan Sonita Lontoh.
Menurut Nadia, kunci perbedaannya adalah, di Silicon Valey, bekerja di start-up adalah hal yang bergengsi. Bahkan meski orang tersebut gagal. Bergabung dengan start-up tahap berikutnya bukanlah langkah karir yang berisiko tinggi dalam pengertian itu. Sebaliknya, bekerja di start-up di Indonesia biasanya bukan hal yang bergengsi. Dan, sering kali perusahaan itu seperti bersaing di tahap awal.
’’Kegagalan di level profesional lebih sering terjadi,” ujarnya. Di Bay Area, Nadia tetap berhubungan dengan teman-teman dari komunitas WNI. Dia pun merasa lebih menjadi orang Indonesia di Bay Area.
Sid Sridhar, Finance Lead di Wave (International Money Transfer)
Insinyur Hebat dan Infrastruktur Baik
Sid lahir di India dan pindah ke Jakarta ketika berumur 5 tahun. Dia bersekolah di Jakarta sampai dia kuliah di AS, tepatnya di The Wharton School at the University of Pennsylvania. Setelah lulus, dia bekerja di sebuah bank investasi sebelum meraih gelar MBA di The Kellogg School of Management.
Sejak itu, Sid mentransisikan karirnya ke perusahaan raksasa teknologi seperti Google dan Uber, mengurusi valuta asing, treasury, dan payments. Dalam prosesnya, Sid telah bekerja di dua perusahaan tersebut secara global dan berpindah-pindah, termasuk ke Indonesia.
Sid tetap berhubungan dengan WNI di San Francisco. Sebagai alumnus Jakarta International School, dia bersosialisasi dengan komunitas alumni. Sebagai tambahan, salah seorang GM Uber lama yang bekerja dengannya, Alan Jiang, membangun Uber Indonesia dan biasa mengadakan happy hour di markas Uber untuk sekelompok WNI. Dia juga kembali ke Indonesia setahun atau dua tahun sekali, ke tempat tinggal orang tuanya.
Sementara itu, di Uber, Sid menghabiskan 25 persen waktunya untuk memecahkan masalah terkait keuangan di Indonesia. Timnya menghabiskan waktu di Indonesia untuk memilih mitra pembayaran dan mengurusi hal lain terkait infrastruktur pembayaran.
Sid memiliki pengalaman mendalam di bidang keuangan dan financial technology (fintech). Dia percaya, tantangan utama yang dihadapi fintech di Indonesia adalah ketergantungan yang berlebihan pada sektor perbankan dan infrastruktur yang ada. ”Bank terkadang bisa menghalangi perkembangan fintech karena mereka akan kehilangan pasar saat fintech sampai pada titik di mana mereka dapat benar-benar mengganggu para pemain lama,” kata Sid.
Secara umum, untuk memupuk ekosistem teknologi yang dinamis dan sukses di Indonesia, Sid yakin hal yang amat standar sangatlah diperlukan: insinyur hebat, infrastruktur yang lebih baik, pikiran tentang kepemimpinan, serta modal dan inkubator yang efektif seperti Y Combinator dan 500 Startups. (*)

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
