
Direktur eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) Marwan Batubara.
JawaPos.Com - Ketua Harian Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI) Eka Mulya Putra mempertanyakan lonjakan ekspor pipa timah dari DKI Jakarta. Menurutnya, legalitas asal-usul timah yang diekspor itu perlu ditelusuri karena DKI bukanlah daerah penghasil timah.
Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS), mengenai volume ekspor pipa timah dari DKI Jakarta 2015 selama periode Januari – Mei 2015 mencapai 3.205 ton. Padahal pada periode yang sama tahun 2014, volumenya hanya 341,342 ton. Artinya, ada lonjakan hampir 1000 persen.
Namun, di sisi lain Provinsi Bangka Belitung yang dikenal sebagai penghasil timah justru tidak tercatat mengekspor timah. Menurut Eka, ada kecurigaan tentang asal-usul timah yang diekspor dari DKI Jakarta. "Ini semua harus ditelusuri,” katanya, Sabtu (10/10).
Eka menegaskan, ada dua hal yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Pertama soal izin usaha industri (IUI) bagi pabrik-pabrik pembuat pipa timah di Jakarta. Yang kedua, bahan baku untuk produksi pipa timah juga harus dipastikan legalitasnya. Sebab, timah legal hanya diperdagangkan melalui Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) atau Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia (BKDI).
Menurut Eka, ekspor timah ilegal jelas melanggar hukum. Terlebih, pengekspor timah terdaftar di pemerintah dan tergabung dalam Asosiasi Ekspor Timah Indonesia (AETI).
Karenanya ia mencurigai adanya patgulipat untuk mengakali daftar penggolongan barang ekspor untuk mempermudah penilaian di kepabeanan atau yang dikenal dengan harmonized system code (HS Code). Tujuannya adalah menghindari pajak karena yang diekspor timah murni.
“Tidak ada industri yang mau pipa dari timah. Jadi bisa saja itu akal-akalan, begitu sudah sampai negara tujuan nanti dilebur lagi," ulasnya.
Terpisah, pengamat pertambangan dan energi Marwan Batubara juga berpendapat senada. Menurutnya, Kementerian Perdagangan, Kementerian ESDM, Kementerian Perindustrian, Kementerian Keuangan, Bea dan Cukai hingga Polri mestinya curiga dengan lonjakan ekspor timah dari DKI.
Mantan senator asal DKI Jakarta itu menegaskan, sangat kuat dugaan adanya patgulipat untuk menghindari pajak dengan mengekspor pipa timah padahal sebenarnya timah murni. “Bisa juga ngakunya pipa timah, padahal itu timah murni,” katanya.
Direktur eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS) itu menambahkan, timah memang rawan diselewengkan. Karenanya lonjakan ekspor pipa timah dari DKI harus ditelusiri. “Ini harus dianalisa eksportirnya," ujarnya.
Lonjakan ekspor pipa timah dari DKI juga membuat heran anggota Komisi VI DPR yang membidangi perdagangan. Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Juliari Peter Batubara mengatakan, lonjakan ekspor pipa timah dari DKI Jakarta itu perlu diusut.
Data yang dikantonginya menunjukkan ekspor timah dari Bangka Belitung memang masih nol. Sebab, pemerintah telah memerketat ekspor timah.
Karenanya, ia curiga dengan temuan itu. “Kalau ada kasus semacam ini, jelas terjadi pelanggaran," katanya.
Sedangkan anggota Komisi VI DPR lainnya, Sartono Hutomo mengatakan, temuan itu tak bisa didiamkan. Menurutnya, Komisi VI DPR perlu membahasnya secara serius dengan mengundang pihak-pihak terkait untuk mengetahui penyebabnya.
"Kita akan sampaikan kepada pimpinan dan kita akan segera panggil stake holder terkait. Kenapa hal ini bisa terjadi," kata politikus Partai Demokrat itu.(ara/JPG)

Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
14 Rekomendasi Kuliner Depok untuk Keluarga, Tempat Makan Nyaman dengan Menu Beragam
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
Sempat Di-blacklist Koramil, Pembangunan Koperasi Merah Putih di Tuban Dikawal Babinsa
Kecelakaan Kereta dan KRL di Bekasi Timur, KAI Fokus Evakuasi Para Korban
11 Rekomendasi Gudeg Terenak di Jakarta, Kuliner Manis yang Tak Kalah Legit Seperti di Jogjakarta
Terkendala Lahan dan Faktor Teknis, 7 Koperasi Merah Putih di Sukoharjo Jawa Tengah Belum Dibangun
