
BERUSAHA BANGKIT: Industri baja ringan berusaha bangkit di tengah pandemi dan berharap pada 2021 lebih baik lagi. (ARFI FOR JAWAPOS.COM)
JawaPos.com – Melonjaknya harga baja di pasar dunia akan berimbas pada indusri kecil menengah baja ringan nasional. Apalagi produsen lokal yang belum bisa memenuhi keseluruhan permintaan bahan baku yang sempat terpuruk karena pandemi Covid-19.
Ir Liang Wali MBA, Ketua Umum Perkumpulan Seluruh Industri Baja Rigan Indonesia (PERSIBRI) mengatakan dari 45 anggota pelaku IKM yang tergabung di organisasinya hampir 50 persen kesulitan mendapatkan bahan baku.
“Mahalnya bahan baku industri baja memaksa para pelaku usaha untuk mengurangi produksi bahkan ada yang sudah tidak beroprasi, kondisi ini hampir dialami oleh separuh para pelaku IKM baja ringan,” ujar Wali dalam webinar yang diselenggarakan oleh asosiasi pelaku usaha baja ringan dengan tajuk 'Lonjakan Harga Baja Dan Ancaman Anti Dumping' yang diselenggarakan pada Jumat (14/5).
Wali menerangkan saat ini modal usaha pelaku IKM yang tahun lalu bisa digunakan untuk belanja bahan baku hingga 200 ton pada tahun ini, hanya bisa dibelanjakan separuhnya. “Melonjaknya harga baja di dunia hingga 100% pada tahun ini menjadi sebuah ancaman yang sangat serius bagi kami selaku pelaku usaha IKM Baja Ringan Nasional, apalagi produsen bahan baku BjLAS dalam negeri belum bisa memenuhi permintaan secara keseluruhan," ujarnya
Wali menambahkan, pihaknya mencatat di tahun 2020 total kebutuhan BjLAS menurun menjadi 1,1 juta ton yang bersumber dari import 460 ribu ton sedangkan industri dalam negeri hanya mampu mensuplay 718ribu ton, sementara di tahun 2021 diperkirakan kebutuhan Baja di tahun ini 1,8 sampai 2 juta ton.
“Selama ini jelas secara histori produsen bahan baku baja ringan dalam negeri belum bisa memenuhi kebutuhan bahan baku kami para pelaku usaha IKM, belum lagi saat ini makin mahalnya harga bahan baku sementara disatu sisi permintaan pasar atas produk BjLAS terutama di tahun ini makin meningkat. Kondisi demikian harus bisa disikapi dengan proporsional dan bijak jangan sampai pemerintah selaku regulator yang berwenang malah melakukan langkah-langkah yang salah yang berakibat mematikan industri baja ringan,” tandasnya.
Hal senada diutarakan Fajar Adriansyah, pelaku usaha IKM baja ringan. Dirinya khawatir kondisi pelaku IKM baja ringan makin terpuruk jika pemerintah dalam hal ini kementrian perindustrian dan perdagangan memaksakan penerapan anti dumping terhadap sektor BjLAS.
“Kami pelaku usaha sudah jatuh akan tertimpa tangga kalau sampai pemerintah malah memaksakan kebijakan anti dumping apalagi harga baja dunia saat ini mengalami kenaikan yang signifikan,” jelas Fajar.
Fajar menerangkan kebijakan BMAD hanya akan menaikkan harga bahan baku industri baja ringan hingga berkali-kali lipat. “Tanpa anti dumping harga saat ini sudah sangat mahal, jadi daripada pemerintah memikirkan kebijakan yang malah mempersulit pelaku usaha lebih baik mereka fokus pada pemenuhan bahan baku industri yang saat ini mahal dan mengalami kelangkaan,” pungkasnya.

Prediksi Skor Paraguay vs Australia di Piala Dunia 2026: Berebut Tiket 32 Besar Namun Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Swiss vs Kanada di Piala Dunia 2026: Jonathan David Tancap Gas Bombardir Gawang La Nati
Prediksi Skor Turki vs Amerika Serikat di Piala Dunia 2026: The Stars & Stripes Berburu Rekor Sempurna di Fase Grup
Prediksi Skor Jepang vs Swedia di Piala Dunia 2026: Samurai Biru Incar Tiket 32 Besar di Laga Penentuan
Prediksi Skor Afrika Selatan vs Korea Selatan di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Wajib Menang Demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Tunisia vs Belanda di Piala Dunia 2026: Oranje Wajib Menang demi Amankan Tiket 32 Besar
Profil Wakil Ketua BEM UI Fathimah Azzahra yang Konsisten Mengkritik Program MBG
Prediksi Skor Bosnia dan Herzegovina vs Qatar di Piala Dunia 2026: Mimpi Buruk Al-Annabi Belum Usai
Prediksi Skor Curacao vs Pantai di Piala Dunia 2026: Misi Les Éléphants Menang demi Tiket 32 Besar
Prediksi Skor Maroko vs Haiti di Piala Dunia 2026: Achraf Hakimi Cs Siap Pesta Gol di Laga Penentuan
