
Menteri Keuangan Sri Mulyani saat hadir dalam rapat kerja Komisi XI DPR RI dengan Menteri Keuangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, (20/9/2021). Rapat kerja tersebut beragendakan penyerahan Daftar Investarisasi Masalah (DIM) RUU tentang Hubu
JawaPos.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku, dalam setiap pengambilan keputusan yang dampaknya besar terhadap mayoritas masyarakat selalu menemui dilema. Apalagi, terkait keputusan kenaikan cukai rokok yang menjadi polemik dan menimbulkan pro dan kontra di masyarakat.
“Ini policy yang rumit banget, ini sangat dilema, atau trimela bahkan dalam hal ini,” kata Sri Mulyani dalam podcast Deddy Corbuzier dikutip Jumat (7/1).
Sri Mulyani menjelaskan, dalam pengambilan kebijakan cukai rokok, maskipun kontribusi dalam penerimaan negara sangat besar yaitu mencapai Rp 175 triliun. Menurutnya, pemerintah juga perlu mempertimbangkan faktor kesehatan. "Itu (penerimaan negara) gede, kemudian concern kesehatan muncul,” katanya.
Sri Mulyani menyebut, saat ini para perokok usia anak harus mendapat perhatian. Sebab, anak usia yanh masih sangat muda, bahkan usia 10 tahun sudah merokok. “Itu persentasenya meningkat terus. Waktu itu hampir mencapai 10 persen. Jadi pemerintah harus menurunkan dong persentase orang yang merokok terutama anak-anak kecil ini," tuturnya.
Sri Mulyani mengatakan lebih jauh, dalam menerapkan kebijakan tersebut sangat sulit karena mendapat tekanan dari berbagai pihak. Pihak yang mengutamakan faktor kesehatan selalu curiga terhadap kenaikan cukai rokok yang dinilai masih kecil. Sebaliknya pihak di industri rokok juga keberatan jika cukai rokok naik terlalu besar.
"Kalau saya naikinnya kekecilan orang-orang kesehatan marah-marah, mereka bilang oh Menteri Keuangan pasti dilobi sama industri rokok. Kalau naiknya ketinggian, di sininya (industri) marah oh mesti Menkeu dilobi sama orang-orang kesehatan, apalagi sama dunia internasional," jelasnya.
Sehingga, kata Sri Mulyani, dalam memutuskan kebijakan ini harus memperhitungkan skenario dan penghitungan elastisitas. Artinya pemerintah juga memperhitungkan dampak dari setiap persentase kenaikan.
"Rokok lintingan yang banyak buruh itu kenaikannya di bawah 5 persen. Jadi naik 10 persen ke atas yang industri, yang tembakaunya impor, yang tembakaunya pakai mesin. Itu kan cara main cantik," imbuhnya.
Disisi lain, Sri Mulyani menambahkan, setiap penerimaan cukai ada dana bagi hasil yang disebar ke daerah. Nantinya, pemerintah daerah pun dipersilahkan untuk memanfaatkan dana tersebut baik untuk belanja kesehatan, memperbaiki gizi hingga membantu para petani dan pekerja di sektor rokok. "Jadi dikembalikan lagi. Lalu kita juga bantu untuk memerangi rokok ilegal,” pungkasnya,

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Soal Kabar Kepala BGN Dadan Hindayana Ditangkap, Dasco: Serahkan ke Aparat Hukum
Profil Sony Sanjaya, Eks Jenderal Polri yang Dicopot Sebagai Wakil Kepala BGN, Sempat Diterpa Isu OTT
KPK Cari Keberadaan Wamen Imipas Silmy Karim Terkait OTT Imigrasi Jakbar
7 Pemain Baru Masuk! Bruno Moreira Hengkang, Ini Prediksi Starting XI Persebaya
Kejagung Konfirmasi Penggeledahan Kantor BGN Usai Pencopotan Dadan Hindayana
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Resmi Jadi Tersangka dan Ditahan Kejagung, Belum 24 Jam Usai Dicopot Prabowo
Kantor Badan Gizi Nasional Digeledah Kejagung, Muncul Karangan Bunga Unik Singgung Pencopotan Dadan
