Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 5 Februari 2021 | 19.46 WIB

Akibat Pandemi, Ekonomi RI Kembali Terpuruk Setelah Krismon 1998

Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). TPU Pondok Ranggon jadi salah satu yang mengalami krisis lahan pemakaman seiring bertambahnya jumlah korban meninggal dunia karena wabah virus corona (Covid-19). Fot - Image

Suasana pemakaman khusus Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, di Jakarta, Minggu (18/10/2020). TPU Pondok Ranggon jadi salah satu yang mengalami krisis lahan pemakaman seiring bertambahnya jumlah korban meninggal dunia karena wabah virus corona (Covid-19). Fot

JawaPos.com - Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2020 tercatat minus 2,07 persen. Angka tersebut merupakan pertumbuhan ekonomi terburuk sejak 22 tahun terakhir atau setelah krisis moneter 1998.

Seperti diketahui, akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan pada 1998 lalu telah menyeret perekonomian Indonesia hingga mengalami resesi dan mencatat kontraksi hingga 13,16 persen. Bahkan nilai tukar Rupiah terhadap USD saat itu juga tembus 16.650 dari yang awalnya 2.000 per dolar AS.

Krismon 1998 hingga 1999 menjadi tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami berada di zona negatif. Setelah itu, ekonomi Indonesia perlahan semakin membaik setelah digulingkannya rezim Orde Baru yang sudah berkuasa lebih dari tiga dekade.

"Sejak 1998 untuk pertama kalinya pertumbuhan ekonomi alami kontraksi karena adanya krismon dan global, dan pada 2020 minus 2,07 persen karena pandemi," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Jumat (5/2).

Suhariyanto mengatakan, ekonomi Indonesia masih terjebak di jurang resesi setelah mengalami kontraksi selama tiga kuartal berturut-turut. "Ini merupakan dampak pandemi Covid-19 yang melanda seluruh dunia termasuk Indonesia dan kita juga melihat buruknya dampak pandemi ke seluruh ekonomi," tuturnya.

baca juga: Ekonomi 2020 Anjlok 2,07 Persen, Kepala BPS: Indonesia Tidak Sendiri

Suhariyanto memaparkan, dari 17 sektor lapangan usaha, hanya tujuh yang masih tumbuh positif. Empat yang pertama yaitu pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 1,75 persen, jasa keuangan dan asuransi 3,25 persen, sektor informasi dan komunikasi 10,58 persen, serta jasa pendidikan 2,63 persen.

Kemudian, real estate 2,3 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 11,60 persen, serta pengadaan air 4,94 persen. "Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 13,42 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi pertumbuhan terdalam sebesar 7,21 persen," pungkasnya.

https://www.youtube.com/watch?v=b2-EcfPEOaQ

 

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore