
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison. (Istimewa)
JawaPos.com - Program pelatihan dan pendampingan usaha bagi UMKM, koperasi, hingga pelaku ekonomi kreatif selama ini dinilai belum sepenuhnya berdampak. Salah satu penyebabnya adalah pola pelatihan yang terfragmentasi, tumpang tindih, dan minim standar mutu, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) menyiapkan langkah korektif melalui inisiatif standardisasi nasional program pelatihan dan pendampingan usaha masyarakat.
Upaya ini dikemas dalam program bertajuk Berdaya Bersama, yang menjadi bagian dari flagship kebijakan Perintis Berdaya.
Sebagai tahap awal, Kemenko PM menggandeng Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia (FIA UI) untuk menggelar uji publik Pedoman Standardisasi Pelatihan dan Pendampingan Usaha Masyarakat di Kampus Cikini, Jakarta, Kamis (18/12).
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, mengatakan selama ini program pemberdayaan ekonomi menghadapi persoalan serius akibat tidak adanya rambu standar yang sama di berbagai daerah.
“Data di lapangan menunjukkan program pelatihan masih bersifat parsial dan tidak terintegrasi. Variasi model dan modul yang terlalu beragam membuat output program belum optimal menjawab kebutuhan penerima manfaat,” ujar Leontinus.
Ia memaparkan, program pemberdayaan ekonomi masyarakat saat ini paling banyak menyasar UMKM dengan porsi sekitar 45 persen, disusul koperasi 25 persen, ekonomi kreatif 20 persen, dan sektor lainnya 10 persen.
Namun, hampir 30 persen pelatihan justru dilaksanakan di lokasi yang sama dan didominasi model workshop singkat satu hingga dua hari.
Sebanyak 67 persen pelatihan berbentuk workshop, sementara mentoring jangka menengah hanya 18 persen dan coaching intensif sekitar 10 persen. Pola tersebut dinilai belum cukup untuk mendorong perubahan kapasitas usaha secara berkelanjutan.
Menjawab tantangan itu, Kemenko PM bersama FIA UI menyusun kerangka standardisasi yang dituangkan dalam empat produk utama.
Produk tersebut meliputi Naskah Akademik Standardisasi Program Pelatihan dan Pendampingan, Pedoman Standardisasi Pelatihan dan Pendampingan Usaha Masyarakat, draf Keputusan Menteri, serta 13 modul pelatihan dan pendampingan yang mencakup modul umum, kewirausahaan lanjutan, hingga sektor prioritas.
Asisten Deputi Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Kewirausahaan Kemenko PM, Trukan Sri Bahukeling, menegaskan bahwa dokumen-dokumen tersebut tidak dimaksudkan untuk menyeragamkan seluruh pendekatan pelatihan di lapangan.
“Standardisasi ini bukan untuk mematikan inovasi, tetapi memberi rambu mutu dasar agar setiap pelatihan dan pendampingan, siapa pun penyelenggaranya, menghasilkan pembelajaran yang aplikatif dan berdampak nyata,” kata Trukan.
Ia menjelaskan, naskah akademik berfungsi sebagai landasan ilmiah berbasis data, sementara pedoman dan modul menjadi perangkat operasional yang dapat diadaptasi sesuai konteks daerah dan sektor usaha.
Melalui uji publik, Kemenko PM mengundang berbagai pemangku kepentingan, mulai dari akademisi, asosiasi usaha, komunitas, pelatih tersertifikasi, industri pelatihan, perbankan, pelaku UMKM, koperasi, ekonomi kreatif, hingga perwakilan masyarakat sipil.

11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Marak Link Live Streaming Gratis Persija Jakarta vs Persib Bandung, Jakmania dan Bobotoh Pilih yang Mana?
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
9 Rekomendasi Mall Terbaik di Sidoarjo untuk Belanja, Kuliner, dan Tempat Nongkrong Bersama Keluarga
15 Kuliner Seafood Ternikmat di Surabaya, Hidangan Laut Segar dengan Cita Rasa Khas yang Sulit Dilupakan
Jadwal Moto3 Prancis 2026! Start Posisi 6, Veda Ega Pratama Buka Peluang Podium di Moto3 Prancis 2026
17 Tempat Makan Hidden Gem di Surabaya yang Tidak Pernah Sepi, Rasanya Selalu Konsisten Enak
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
