
Ilustrasi Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh menjadi sorotan karena persoalan utang. (RianAlfianto/JawaPos.com)
JawaPos.com - Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong menilai langkah pemerintah Indonesia menegosiasikan restrukturisasi utang proyek Kereta Cepat Indonesia–Tiongkok (KCIC) atau Whoosh sebagai hal wajar.
Menurut dia, proyek sebesar dan sekompleks Whoosh memang membutuhkan waktu panjang untuk mencapai titik impas.
“Mengenai isu keuangan, hal itu wajar bagi proyek kereta cepat sebesar ini, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai titik impas,” ujar Wang saat ditemui di Kedutaan Besar Tiongkok di Jakarta, Kamis (23/10).
Wang mengatakan, pemerintah Tiongkok turut bangga terhadap performa Whoosh yang telah mengangkut lebih dari 12 juta penumpang sejak beroperasi dua tahun lalu.
Ia menilai proyek yang menjadi simbol kerja sama strategis kedua negara itu membawa dampak ekonomi dan sosial besar bagi Indonesia.
“Kami sangat bangga akan hal itu dan operasinya berjalan dengan sangat baik. Namun, tentu saja ada beberapa hal detail yang sedang kami bahas dengan pemerintah Indonesia,” katanya.
Meski begitu, Wang enggan membeberkan secara rinci pembahasan antara pemerintah RI dan Tiongkok terkait kondisi keuangan KCIC.
Ia hanya memastikan bahwa komunikasi intensif terus dilakukan agar proyek tersebut tetap beroperasi dengan aman dan berkelanjutan.
“Saya tidak akan mengatakan bahwa ada kesulitan keuangan, karena sejauh ini kami berjalan dengan baik dengan jumlah penumpang yang terus meningkat,” imbuhnya.
Sebelumnya, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses negosiasi restrukturisasi utang KCIC masih terus berjalan.
Danantara, yang tergabung dalam konsorsium proyek tersebut, akan kembali mengirim tim negosiasi untuk bertemu dengan pemerintah Tiongkok.
“Poin negosiasinya berkaitan dengan jangka waktu pinjaman, suku bunga, dan juga beberapa mata uang yang akan kita diskusikan,” kata Dony di Jakarta, Kamis (23/10).
Negosiasi ini menjadi krusial lantaran total investasi proyek KCIC mencapai sekitar USD 7,27 miliar atau hampir Rp121 triliun, dengan 75 persen pembiayaannya berasal dari pinjaman Tiongkok Development Bank (CDB) berbunga 2 persen per tahun.
Pemerintah Indonesia masih mengkaji dua opsi utama untuk menyelesaikan beban utang proyek tersebut: pelimpahan kewajiban kepada pemerintah atau penyertaan modal tambahan ke PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Namun, pemerintah tetap mendorong agar Danantara mengambil peran utama dalam restrukturisasi tanpa menambah beban fiskal negara.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
