Contoh perusahaan manufaktur (Dok. Fakultas Teknik UMSU)
JawaPos.com - Sektor manufaktur Indonesia menghadapi tekanan besar di tahun 2025 dengan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang telah mencapai lebih dari 24.000 pekerja sejak awal tahun hingga April, menurut laporan dari Fakultas Teknik Mesin dan Material Universitas Airlangga.
Krisis ini disebabkan oleh penurunan permintaan pasar, efisiensi produksi yang rendah, dan lambatnya adaptasi digital, sehingga mengakibatkan dampak sosial yang serius bagi para pekerja dan mengancam stabilitas ekonomi. Laporan itu menekankan perlunya perbaikan sistem produksi dan manajemen sumber daya manusia yang adaptif supaya gelombang PHK dapat ditekan dan sektor manufaktur kembali tumbuh sehat.
Di sisi lain, ada kabar menggembirakan dari adanya kenaikan investasi asing yang mengalir masuk ke sektor industri manufaktur pada tahun yang sama.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya melaporkan bahwa investor asing semakin tertarik dengan industri manufaktur Indonesia sebagai primadona investasi karena potensi pasar yang besar serta dukungan regulasi pemerintah yang semakin memudahkan dunia usaha. Laporan ini menunjukkan bahwa investasi asing bisa menjadi kunci untuk memperkuat rantai produksi dan memacu inovasi teknologi di sektor manufaktur.
Penyebab Krisis dan Dampaknya
Penurunan permintaan dan kenaikan biaya produksi adalah masalah utama yang membuat banyak perusahaan manufaktur kesulitan mempertahankan kapasitas optimal.
Ketergantungan pada tenaga kerja konvensional juga membuat efisiensi sulit dicapai, sehingga banyak perusahaan memilih PHK sebagai langkah cepat. Peningkatan biaya bahan baku dan gangguan rantai pasok global menambah tekanan yang memperlambat produksi.
Sayangnya, beberapa perusahaan mengambil keputusan cepat dengan memotong jumlah pekerja tanpa melakukan perbaikan sistem produksi secara menyeluruh. Padahal, evaluasi proses kerja dan penerapan teknologi baru bisa menjadi solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.
Dampak dari krisis ini sangat terasa, tidak hanya pada pekerja yang kehilangan pekerjaan, tetapi juga pada perekonomian luas.
Titik Terang dan Harapan Baru
Berbeda dengan tantangan yang ada, masuknya investasi asing menunjukkan sinyal optimisme untuk pemulihan sektor manufaktur. Modal asing ini diharapkan dapat membantu modernisasi proses produksi dan meningkatkan daya saing produk Indonesia.
Faktor pendukung lain seperti kebijakan deregulasi, insentif fiskal, dan kemudahan berusaha yang diberikan pemerintah semakin menarik minat para investor global. Hal ini menjadi titik terang bagi sektor manufaktur untuk bangkit dan berkembang lebih mandiri.
Penting juga untuk meningkatkan kesiapan sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendidikan agar mereka bisa mendukung penggunaan teknologi modern dan memenuhi tuntutan pasar global.
Dukungan masyarakat dengan mengutamakan produk lokal juga akan membantu menjaga permintaan dalam negeri dan memperkuat industri manufaktur nasional.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022