Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan pidato pada Rapat Paripurna Ke-19 DPR RI Masa Persidangan III Tahun Sidang 2024/2025 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/5/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Ketua DPR Puan Maharani menyoroti maraknya praktik pengoplosan beras yang terungkap dari hasil investigasi Kementerian Pertanian (Kementan) dan Satgas Pangan. Pasalnya, Kementan menemukan 212 merek beras di 10 provinsi yang diduga tidak sesuai dengan standar mutu dan kualitas.
Puan menilai temuan beras oplosan itu sebagai bentuk pembohongan publik yang merugikan rakyat kecil dan mengancam hak dasar masyarakat atas pangan yang layak. "Rakyat jangan menjadi korban dari pasar yang tidak jujur. Apalagi di tengah tekanan ekonomi, praktik curang seperti ini adalah bentuk kejahatan yang menyasar langsung kehidupan rakyat," kata Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/7).
Puan menekankan isu beras oplosan bukan sekadar persoalan perdagangan, tetapi juga menyangkut keadilan dan hak konsumen. Ia meminta negara untuk hadir dan mencegah pasar dikendalikan oleh mafia pangan yang mengabaikan etika dan hukum.
"Negara harus hadir dan bertindak tegas agar distribusi pangan tidak dikendalikan oleh mafia atau pelaku usaha yang mengabaikan etika dan hukum. Aparat juga harus segera menindak tegas mafia beras,” ujarnya.
Puan mendorong pemerintah agar segera mengambil langkah strategis untuk memulihkan kepercayaan publik, serta memberikan perlindungan menyeluruh kepada konsumen. Ia menilai, penegakan hukum tidak boleh berhenti pada pelaku teknis, tetapi harus menelusuri rantai distribusi dan aktor korporasi di balik praktik manipulatif ini.
“Diperlukan juga reformasi sistem pelabelan dan pengawasan mutu pangan agar lembaga terkait memiliki kewenangan dan kapasitas yang cukup,” ucap Puan.
Dia menyarankan pelibatan masyarakat sipil dan akademisi dalam pengawasan mutu pangan agar informasi tidak hanya dimonopoli oleh pelaku industri. Menurut dia, transparansi dan partisipasi publik sangat penting dalam sistem pangan nasional.
"Evaluasi menyeluruh terhadap distribusi beras nasional, termasuk peran BUMN dan mitra swasta agar berpihak pada konsumen dan petani. Peningkatan literasi dan perlindungan konsumen melalui edukasi publik yang berkelanjutan," tuturnya.
Puan menekankan pentingnya melihat kedaulatan pangan dari sudut keadilan distribusi, bukan hanya dari sisi jumlah produksi. “Ini soal keadilan ekonomi. Ini soal martabat rakyat. DPR RI akan terus mengawal agar reformasi sistem pangan benar-benar menjawab kebutuhan dan kepentingan rakyat,” pungkasnya.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
