Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 10 April 2025 | 18.46 WIB

Harga Minyak Naik Lebih dari 4 Persen Setelah AS Tangguhkan Tarif Impor ke Sejumlah Negara

ILUSTRASI. Kilang minyak Pertamina RU II Dumai. - Image

ILUSTRASI. Kilang minyak Pertamina RU II Dumai.

JawaPos.com - Harga minyak naik lebih dari 4 persen setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menangguhkan tarif impor ke sejumlah negara dan menegaskan akan terus menaikan tarif impor ke Tiongkok. Kenaikan ini sekaligus menjadi kebangkitan kembali harga minyak dari level terendah pada empat tahun awal sesi perdagangan. 

Seperti dilansir dari Reuters, Trump mengesahkan penghentian sementara selama 90 hari dan menaikan tarif untuk Tiongkok menjadi 125 persen, yang berlaku segera. 

Harga minyak mentah Brent ditutup naik USD 2,66, atau 4,23 persen, menjadi USD 65,48 per barel. Harga minyak mentah West Texas Intermediate AS ditutup naik USD 2,77, atau 4,65 persen, menjadi USD 62,35.

"Kita telah mencapai titik balik dalam konflik perdagangan dengan Trump yang memberikan waktu bagi negara-negara yang telah menunjukkan keinginan untuk bekerja sama dalam kesepakatan untuk menyingkirkan tarif untuk menyelesaikannya," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group.

"Yang dilakukan Trump adalah menempatkan China di pulau ekonomi sendirian," seraya dia menambahkan.

Sementara itu, pasca Trump menaikan tarif impor menjadi 125 persen, Tiongkok langsung mengumumkan tarif balasan untuk barang-barang AS dengan mengenakan tarif 84 persen mulai Kamis (10/4) hari ini.

Namun, perang dagang yang meningkat antara Tiongkok dan AS terus menekan harga minyak. Konflik perdagangan tersebut memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi global.

"Meskipun permintaan minyak kemungkinan belum menurun, meningkatnya kekhawatiran akan melemahnya permintaan minyak selama beberapa bulan mendatang mengharuskan harga yang lebih rendah untuk memicu penyesuaian pasokan guna mencegah pasar kelebihan pasokan," kata analis UBS Giovanni Staunovo.

Menurut Badan Informasi Energi, di AS saat ini memiliki persediaan minyak mentah yang naik 2,6 juta barel menjadi 442,3 juta barel pada minggu lalu. Hal ini lebih tinggi dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat dengan angka kenaikan 1,4 juta barel.

"Ekspor berada pada level yang lebih rendah dan kita harus melihat apakah kita akan kehilangan akses ke pasar Tiongkok, dan apakah kita akan melihat situasi ekspor yang menurun di masa mendatang," kata John Kilduff, mitra Again Capital di New York.

Selain itu, operator sistem jaringan pipa minyak Keystone di Kanada dan AS juga mengeluarkan pemberitahuan force majeure pada Rabu (9/4)setelah kebocoran di North Dakota. Jaringan pipa ditutup pada Selasa setelah tumpahan minyak di dekat Fort Ransom, North Dakota.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore