Masalah keselamatan kerja adalah salah satu substansi terpenting dalam kehidupan perusahaan. Regulasi keselamatan pekerja di Indonesia sendiri dinilai cukup baik dari tahun ke tahun. Tinggal bagaimana persepektif yang sama mesti tumbuh di tiap perusahaan.
Tiap kepemimpinan dalam suatu perusahaan mesti paham bahwa keselamatan pekerja adalah yang utama untuk kelancaran bisnis. Sehingga, pekerja tak dipandang beban, tetapi aset.
"Kita harus buat semua perusahaan itu paham bahwa orang bukanlah beban, tapi mereka itu sebenarnya aset," ujar Managing Director Asia Pacific dss+ Srinivasan Ramabhadran kepada wartawan, Jumat (13/12).
"Kalau kita bantu orang-orang ini berkembang untuk lebih maju, maka mereka juga nanti akan bisa membantu perusahaan di jangka panjangnya. Jadi kinerja bisnis pun akan jauh lebih baik," sambungnya.
Kedua, perkembangan zaman mendorong pertumbuhan teknologi yang maju tapi juga cukup berbahaya Tanpa kewaspadaan bukan tak mungkin teknologi malah memperburuk keselamatan pekerja bahkan mengusik privasi pemilik usaha.
"Ibarat dua mata pisau, penggunaan teknologi bisa baik bisa saja buruk. Kita bisa memanfaatkan dengan mengefisiensi, tapi satu sisi sangat berbahaya," tuturnya.
Srinivas mencontohkan bila satu kliennya dari India harus membayar kerugian usai tim keuangan perusahaan itu dikelabuhi membayar sejumlah uang. Mereka teperdaya teknologi setelah suara menyerupai pemilik perusahaan meminta ditransfer ke sejumlah rekening.
"Karena itulah penggunaan teknologi harus disertai keamanan siber yang ketat dan berlapis," tuturnya.
Meski demikian, Srinivisan mengungkapkan melalui teknologi juga efisiensi pekerjaan bisa dilakukan dengan mudah. Cukup melampirkan data sebuah masalah kepada AI (Artifical Intelegence) akan menampilkan dugaan permasalahan hingga solusi.
"Biasanya mendeteksi jaringan kebocoran pipa atau pembukuan keuangan. Bayangkan bila menggunakan manual tentunya membutuhkan waktu lama," tuturnya.
Ketiga, ia mengatakan bahwa kepemimpinan dalam sebuah perusahaan juga penting. Pemimpin yang baik dapat mengklasifikasikan skala prioritas.
"Jadi mungkin secara jangka pendek kelihatannya, oke saya harus bayar lebih nih untuk ini. Padahal sebenarnya enggak, karena di jangka panjang itu malah hanya akan membawa keputusan. Kita itu kan harus menyusun nama istilah prioritas," tuturnya.
"Gak bisa kita coba selesaikan semua masalah di saat yang bersamaan. Jadi kita bantu klien untuk mencoba memprioritaskan. Ini mana nih yang harus prioritas mereka selesaikan terlebih dahulu," sambung Srinivasan.
Dss+ sendiri, lanjut Srinivasan merupakan perusahaan konsultan keselamatan pekerja segala bidang mulai dari tambang, FnB, migas, hingga kimia. Perusahaan ini telah berada 20 tahun dan membantu BUMN hingga perusahaan swasta dalam menjawab regulasi pemerintah.
Karena itulah dirinya menyambut positif pertumbuhan regulasi pemerintah Indonesia. Selain itu dengan catatan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terus bertumbuh dirinya yakin masa depan negara ini cerah.
Meski demikian dirinya mengingatkan agar sejumlah perusahaan terus mengedepankan keselamatan kerja. Sebab, kerugian hingga hilangnya kepercayaan akibat kelalaian kerja tidak bisa disepelekan.
"Karena itulah kita hadir, bagaimana mengefisiensi keselamatan kerja dengan pandangan keuangan perusahaan dan regulasi pemerintah," tambahnya.
Operational Excellence Director Global DSS+, Duncan Munro menambahkan bila dalam menyusun aturan keselamatan pekerja di sebuah perusahaan dirinya selalu melibatkan pekerja. Sebab, menurutnya mereka yang lebih mengetahui segala operasi perusahaan.
"Selain itu kami juga menggabungkan regulasi dan teknologi untuk menciptakan aturan keselamatan kerja bagi sebuah perusahaan," pungkasnya.