Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 27 Agustus 2024 | 06.01 WIB

BI Pastikan Likuiditas Perekonomian Nasional Masih Terjaga, Uang Beredar Tumbuh, Aliran Modal Asing Masuk

Ilustrasi uang kertas yang diterbitkan Bank Indonesia. (Aditya Pradana Putra/Antara) - Image

Ilustrasi uang kertas yang diterbitkan Bank Indonesia. (Aditya Pradana Putra/Antara)

JawaPos.com–Hasil asesmen International Monetary Fund (IMF) dan World Bank menunjukkan perekonomian dan sektor keuangan Indonesia berada dalam kondisi sehat. Dengan indikator pertumbuhan yang kuat, stabil, dan cukup resilien dalam menghadapi gejolak eksternal. Bank Indonesia (BI) memastikan likuiditas ekonomi nasional masih terjaga.

Area asesmen mencakup aspek stabilitas sistem keuangan dengan fokus pada kerentanan (analisis risiko sistemik), kerangka pengaturan dan pengawasan sektor keuangan, manajemen krisis dan jaring pengaman sistem keuangan, serta aspek pengembangan sektor keuangan.

”Asesor menilai positif penerbitan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan Dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) sebagai faktor penting dalam meningkatkan resiliensi, memperkuat jaring pengaman sistem keuangan, dan  kerangka penanganan krisis. Juga mendorong pengembangan sektor keuangan Indonesia,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, Senin (26/8).

Asesor menilai, lanjut dia, komitmen disiplin fiskal, kinerja makroekonomi yang baik, serta kerangka pengaturan dan pengawasan di sektor perbankan, pasar modal, dan asuransi mendukung penguatan sektor keuangan secara signifikan. Termasuk bidang keuangan digital dan fintech serta keuangan berkelanjutan. Perlu juga terus memonitor dan memitigasi risiko yang berasal dari berbagai sumber. Baik ketidakpastian global, domestik, maupun perubahan iklim.

BI memastikan likuiditas perekonomian tumbuh positif. Uang beredar dalam arti luas atau uang kertas dan uang logam ditambah simpanan dalam bentuk rekening koran (M2) pada Juli 2024 Rp 8.970,8 triliun. Meningkat 7,4 persen year-on-year (YoY), meski sedikit menurun setelah tumbuh 7,7 persen YoY pada bulan sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut didorong pertumbuhan uang beredar sempit alias seluruh uang kartal dan uang giral yang tersedia untuk digunakan masyarakat (M1) sebesar 6,3 persen YoY dan uang kuasi 7,2 persen YoY. Perkembangan M1 disebabkan uang kartal di luar bank umum dan BPR, serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu.

”Uang kartal yang beredar pada Juli 2024 sebesar Rp 939,5 triliun,” ungkap Erwin Haryono.

Penguatan rupiah saat ini didorong fundamental ekonomi. Yakni, pertumbuhan ekonomi di kisaran 5 persen dan inflasi yang terkendali dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen. Meski terjadi demo pada Kamis (22/8) terkait revisi UU Pilkada, mata uang Garuda tetap berada di level Rp 15.579 per USD.

”Fakta bahwa kemarin tidak terlalu berpengaruh, mungkin itu menunjukkan kedewasaan kita terhadap politik. In relative ekonominya menjadi lebih kuat. Faktor ekonomi, baik eksternal maupun internal, lebih memengaruhi pergerakan rupiah dibandingkan dengan pertimbangan politik. Dan itu yang pada akhirnya memengaruhi market,” jelas Erwin.

Menurut dia, dalam dua dekade terakhir, ekonomi menjadi faktor dominan bagi pasar. Setelah ketidakpastian global mereda, investor kembali masuk ke pasar keuangan domestik. Hal itu menunjukkan kepercayaan tinggi investor asing pada sektor riil dan portofolio ekonomi Indonesia. 

Berdasar data transaksi BI, selama periode 19-22 Agustus 2024 nonresiden di pasar keuangan domestik tercatat beli neto Rp 15,91 triliun. Dana asing masuk dari pasar surat berharga negara (SBN), pasar saham, serta Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Rinciannya, beli neto sebesar Rp 11,45 triliun di pasar SBN, Rp 4,13 triliun di pasar saham, dan Rp 330 miliar di SRBI.

Sementara itu, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI ⁠Juli Budi Winantya menjelaskan, deflasi yang terjadi beberapa bulan terakhir dipengaruhi penurunan inflasi pada komponen volatile food atau harga pangan bergejolak. Yang mana komponen tersebut terkoreksi hingga di bawah 5 persen dibandingkan dari bulan-bulan sebelumnya yang sempat mencapai 9 persen.

”Kalau terkait daya beli segala macam itu dikaitkan dengan inflasi inti. Kalau kami lihat dari ekspektasi yang terjaga, dari kapasitas perekonomian yang masih cukup dan dari imported inflation yang terkendali,” ujar Juli Budi Winantya.

Ke depan, BI meyakini inflasi tetap terkendali. Kapasitas perekonomian masih besar dan dapat merespons permintaan domestik. Serta imported inflation yang terjaga sejalan dengan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore