Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Agustus 2024 | 04.25 WIB

Presiden Jokowi Sampaikan Postur dan Asumsi Dasar Makro RAPBN 2025 Era Prabowo, Ini Rinciannya  

Presiden Joko Widodo duduk di kursi sebelum menyampaikan pidato keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2025 beserta Nota Keuangannya dalam Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2024-2025 di Gedung Nusantara, ko - Image

Presiden Joko Widodo duduk di kursi sebelum menyampaikan pidato keterangan pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2025 beserta Nota Keuangannya dalam Sidang Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I DPR Tahun Sidang 2024-2025 di Gedung Nusantara, ko

JawaPos.com – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa APBN 2025 harus dimanfaatkan untuk memperkokoh Indonesia menuju negara maju. Karena itu, APBN 2025 harus dibangun dengan pilar keberlanjutan dan berkesinambungan antara pemerintahan saat ini dan yang akan datang.

Dia juga memastikan bahwa ke depan, peran APBN harus dimanfaatkan untuk memperkokoh lompatan kemajuan sehingga Indonesia bisa keluar dari middle-income trap.

“Yaitu dengan memanfaatkan bonus demografi, melanjutkan transformasi ekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, dan membuka lebih banyak lapangan kerja,” kata Presiden dalam penyampaian RUU APBN Tahun Anggaran 2025 beserta Nota Keuangannya di depan Rapat Paripurna DPR, Jumat (16/8).

Berdasarkan hal itu, kata Jokowi, penyusunan RAPBN 2025 didasarkan pada sejumlah asumsi dasar. Yakni inflasi dijaga di kisaran 2,5 persen, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan sebesar 5,2 persen, dan nilai tukar rupiah di sekitar Rp 16.100/USD.

Lalu suku bunga SBN 10 tahun di 7,1 persen, dan harga minyak mentah Indonesia diperkirakan USD 82/barel. Sementara, lifting minyak diperkirakan 600 ribu barel per hari dan gas bumi mencapai 1,005 juta barel setara minyak per hari.

Belanja negara direncanakan sebesar Rp 3.613,1 triliun. Terdiri dari belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 2.693,2 triliun serta Transfer ke Daerah sebesar Rp 919,9 triliun.

Sementara itu, pendapatan negara pada tahun 2025 dirancang sebesar Rp 2.996,9 triliun. Terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 2.490,9 triliun dan penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp 505,4 triliun.

Kemudian defisit anggaran tahun 2025 direncanakan sebesar 2,53 persen terhadap PDB atau Rp 616,2 triliun. Defisit itu akan dibiayai dengan memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan yang aman dan dikelola secara hati-hati.

“Inovasi pembiayaan yang fleksibel dengan kehati-hatian yang tinggi akan terus ditingkatkan. Melalui Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha, penguatan peran Lembaga Pengelola Investasi, serta pendalaman pasar keuangan,” pungkas Presiden.

Berikut ini rincian postur lengkap RAPBN 2025

  • Pendapatan negara: Rp 2.996,9 triliun
  • Belanja negara: Rp 3.613,1 triliun
  • Defisit: Rp 616,2 triliun
  • Pembiayaan anggaran Rp 616,2 triliun
  • Tingkat kemiskinan: 7,0–8,0 persen
  • Kemiskinan ekstrem: 0 persen
  • Rasio gini (indeks): 0,379–0,382
  • Tingkat pengangguran terbuka: 4,5–5,0 persen
  • Nilai tukar nelayan: 105–108
  • Nilai tukar petani: 115–120
  • Indeks modal manusia: 0,56
  • Inflasi: kisaran 2,5 persen
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,2 persen
  • Nilai tukar rupiah: Rp16.100/USD.
  • Suku bunga SBN 10 tahun: 7,1 persen
  • Harga minyak mentah: USD 82/barel
  • Lifting minyak: 600 ribu barel per hari

Lifting gas bumi: 1,005 juta barel setara minyak per hari.

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore