JawaPos.com - Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM menjadi salah satu aspek ekonomi yang terus didorong pemerintah. Berbagai cara dilakukan untuk mendorong UMKM agar bisa "beyond" dan berkembang, salah satunya melalui jargon UMKM naik kelas melalui platform digital.
Terkait dengan woro-woro UMKM naik kelas, ekonom yang juga dosen Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi menilai, jargon tersebut bisa jadi hanya omong kosong jika tidak dieksekusi dengan baik. Salah satunya adalah tidak memberikan pendampingan yang baik kepada pelaku UMKM itu sendiri.
Menurutnya, penting bagi pemerintah untuk melakukan pembinaan pada UMKM selaku penggerak ekonomi nasional. "Kita baru selesai dari pandemi, kalau kita lihat, apa yang membangkitkan Indonesia? Salah satunya UMKM, mereka lah yang membuat tone ekonomi kita jadi positif," kata Fithra di acara media talkshow dalam rangka Hari Ulang Tahun Ke-16 SRC di Jakarta, Senin (27/5).
Supaya jargon UMKM naik kelas tidak jadi bualan semata, Fithra melanjutkan, perlu dilakukan pembinaan yang serius kepada pelaku UMKM itu sendiri. Selain, akses ke permodalan juga perlu untuk diperhatikan.
"Supaya bisa naik kelas, selain akses ke permodalan, penting juga pendampingan dan pembinaan. Jangan memberikan sepeda kepada orang yang tidak bisa memakai sepeda. Jadi pendampingan sangat perlu, komoditas memang penting, tapi pendampingan lebih penting. Percuma kalau punya modal, punya komoditas untuk dijual, tapi tidak bisa menjualnya," tegas Fithra.
Menurut Fithra, UMKM adalah penghela nafas ekonomi. UMKM menjadi 61% kontributor ekonomi di Indonesia. Nilainya setaran Rp 9.500 triliun, menyerap tenaga kerja paling banyak 97 persen.
"Tapi sayangnya, UMKM itu di situ-situ saja. Sulit naik kelas. Makanya dengan hadirnya seperti SRC ini juga yang membantu UMKM naik kelas, UMKM diajak meningkatkan kualitas mereka," tukas Fithra.
Selain pembinaan, pendampingan dan akses ke permodalan, penting juga bagi UMKM untuk melakukan kolaborasi. Salah satunya adalah yang dilakukan Sampoerna Retail Community (SRC), jaringan toko kelontong di Indonesia berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan sektor UMKM.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur PT SRC Indonesia Sembilan (SRCIS) Romulus Sutanto menyebut, melalui pendampingan dan pembinaan toko kelontong yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan, ekosistem SRC telah merasakan dampak yang kuat dan luas.
"Dampak positif dari aspek kemampuan usaha, aspek relasional, dan aspek kepercayaan diri yang didapatkan lebih dari 250.000 toko kelontong di Indonesia, telah membawa UMKM Indonesia jadi lebih baik dan naik kelas," ujar Romulus.
Pada Mei tahun ini, SRC merayakan hari jadinya yang ke-16 tahun. Menurutnya, hari ulang tahun ini menjadi momen penting untuk melanjutkan komitmen SRC dalam mendorong keberlanjutan UMKM Indonesia agar makin berdampak. Ia juga merefleksikan kembali perjalanan 16 tahun ini dan melihat bahwa pendampingan dan pembinaan SRC telah membawa pengaruh positif yang signifikan.
“Kami melihat bagaimana ekosistem SRC bertransformasi dan berdampak, melalui pemberdayaan dan membangun SDM yang kuat dan solid. Toko kelontong yang bergabung dengan SRC memiliki nilai tambah, yaitu lebih fleksibel dan dapat dengan cepat beradaptasi terhadap perubahan. Mereka dapat memanfaatkan skala ekonomi dan dukungan kolektif untuk menghadapi tantangan dan peluang yang muncul,” lanjut Romulus.
Sebagai informasi, program SRC sudah dimulai sejak tahun 2008. Saat ini SRC memiliki jaringan yang mencapai lebih dari 250.000 Toko SRC di seluruh Indonesia yang tergabung dalam 8.200 Paguyuban dan bermitra dengan lebih dari 6.300 toko grosir yang tergabung bersama Mitra SRC.