Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 September 2022 | 17.13 WIB

Pola Mina Padi Naikkan Penghasilan Pembudi Daya Ikan dan Padi di Sawah

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui sistem ini, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi yang dihasilkan maupun hasil panen dari ikan. - Image

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui sistem ini, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi yang dihasilkan maupun hasil panen dari ikan.

JawaPos.com - Berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas perikanan terus dilakukan para pembudidaya di seluruh tanah air. Salah satunya adalah dengan budidaya ikan melalui pemanfaatan lahan sawah atau yang lebih dikenal dengan istilah mina padi.

Sistem mina padi merupakan kombinasi pertanian yang terintegrasi antara budidaya ikan dan budidaya padi di sawah. Melalui mina padi, produktivitas sawah diyakini akan meningkatkan produksi, baik dari padi yang dihasilkan maupun hasil panen dari ikan.

Mina padi mulai dikembangkan di Indonesia sebagai salah satu sistem budidaya ikan pada tahun 1970-an. Di Toraja Utara, mina padi biasa dilakukan pembudidaya melalui dua cara, yaitu dengan sistem penyelang dan sistem tumpang sari.

“Sistem penyelang memproduksi ikan dengan ukuran kecil dan dipanen ketika umur ikan mencapai 20 harian, lalu dijadikan bibit. Sedangkan sistem mina padi tumpang sari memproduksi ikan lebih besar dengan masa pemeliharaan kurang lebih 3-4 bulan,” jelas Irvan Parewang Penyuluh Perikanan Kabupaten Toraja Utara.

Photo

Pembudi daya memanfaatkan sistem mina padi tengah memanen ikan dengan memanfaatkan lahan sawah di Tana Toraja. (LPMUKP untuk JawaPos.com)

Para pembudidaya di Toraja Utara lebih banyak membesarkan ikan mas dengan cara tumpangsari. Metode ini dipandang lebih menguntungkan karena ikan yang dijual telah memasuki ukuran kosumsi sehingga harganya lebih tinggi.

Lebih lanjut, mengenai proses sistem tumpang sari diawali dengan penanaman padi di lahan berukuran 2.000 m2 hingga 1 hektare. Setelah akar padi sudah kuat atau memasuki usia minimal satu bulan, volume air ditambah dan ikan berukuran 7-15 cm sudah bisa ditebar.

“Untuk kepadatan tebarnya sendiri itu satu ekor ikan per meter persegi. Jadi kalau satu hektare, ikan yang ditebar bisa sampai 10.000 ekor yang ukurannya 7 cm. Hasilnya dari situ bisa mencapai 6 ton paling tinggi,” tambah Irvan.

Seiring meningkatnya kebutuhan akan konsumsi ikan mas, pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) fokus menaikan angka produksi ikan ini melalui pengembangan kampung budidaya. Ke depan diharapkan ikan mas dapat menjadi sektor utama penunjang perekonomian masyarakat, terlebih dengan turut didukung oleh akses permodalan dari KKP melalui Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP).

Editor: Mohamad Nur Asikin
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore