Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 2 Desember 2023 | 04.44 WIB

Mosaic Luncurkan Wakaf Hutan sebagai Alternatif Pendanaan Inovatif Tangani Perubahan Iklim

Muslim for Shared Action on Climate Impact (Mosaic) meluncurkan inisiatif Wakaf Hutan. - Image

Muslim for Shared Action on Climate Impact (Mosaic) meluncurkan inisiatif Wakaf Hutan.

JawaPos.com - Menyambut pelaksanaan COP 28 yang dimulai hari ini di Dubai, Mosaic (Muslim for Shared Action on Climate Impact) meluncurkan inisiatif Wakaf Hutan sebagai salah satu solusi pendanaan inovatif bagi masalah perubahan iklim yang dihadapi Indonesia. Wakaf Hutan merupakan gerakan kolaboratif penggalangan dana untuk pelestarian hutan melalui wakaf sebagai salah satu instrumen filantropi Islam.

"Peluncuran inisiatif Wakaf Hutan dalam suasana gelaran COP 28 dimana berbagai negara bernegosiasi tentang pencapaian target emisi adalah momen yang tepat untuk mengirimkan sinyal darurat bahwa perlindungan alam lebih penting dari profit dan kepentingan politik," kata Steering Committee MOSAIC Rika Novayanti, dalam keterangannya, Jumat (1/12).

Kampanye Wakaf Hutan yang diluncurkan hari ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi filantropi Islam sebagai salah satu solusi inovatif bagi pembiayaan aksi iklim. Dana yang terkumpul dari penggalangan ini akan disalurkan untuk program ekologi, ekonomi, dan edukasi melalui Yayasan Hutan Wakaf Bogor sebagai salah satu nazir Wakaf Hutan yang terletak di Desa Cibunian, Kabupaten Bogor.

"Melalui kampanye Wakaf Hutan, kami berharap dapat memberikan inspirasi bahwa pendanaan iklim tidak harus hanya bersumber dari luar negeri, namun dapat juga melalui kolaborasi dan pemanfaatan potensi besar dari pendanaan umat," lanjut Rika.

Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai, Indonesia membutuhkan dana sebesar USD 281 miliar atau sekitar Rp 4.299 triliun untuk mencapai target NDC (Nationally Determined Contribution) pada 2030. Pembiayaan dan filantropi Islam bisa menjadi alternatif solusi pendanaan yang inovatif karena potensinya yang sangat besar di Indonesia.

Wakil Sekretaris Badan Wakaf Indonesia, drh. Emmy Hamidiyah, M.Si, mengatakan bahwa potensi wakaf mencapai Rp 180 triliun setiap tahun. Badan Wakaf Indonesia melaporkan hingga Oktober 2023, telah terkumpul Rp 2,3 triliun melalui wakaf uang.

"Namun sebagian besar masih tersalurkan untuk pendidikan dan pengentasan kemiskinan, sedangkan untuk lingkungan masih kecil sekali atau di bawah Rp 5 miliar," tutur drh. Emmy.

Inisiatif Wakaf Hutan telah berjalan sejak beberapa tahun yang lalu dan dimulai secara mandiri oleh beberapa komunitas masyarakat di beberapa lokasi seperti Hutan Wakaf di Janto, Nanggroe Aceh Darussalam. Gerakan pelestarian hutan sejenis juga telah dilakukan komunitas masyarakat Laskar Hijau di Gunung Lemongan, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Menanggapi tentang potensi ekonomi dari inisiatif wakaf hutan, Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Bambang Brodjonegoro, S.E., M.U.P., Ph.D., menyampaikan bahwa seperti di Brasil dan Kongo, hutan Indonesia memiliki potensi luar biasa untuk mendorong pertumbuhan green economy dan carbon trading.

"Demand secara global untuk carbon trading sudah ada, sekarang tinggal bagaimana kita menyediakan supply-nya," katanya.

Menurutnya, Wakaf Hutan sejalan dengan visi program perhutanan sosial dari pemerintah yang bertujuan untuk menjaga kondisi hutan tetap lestari dengan tetap memberikan manfaat ekonomi bagi kehidupan masyarakat sekitar.

"Saya ingin melihat Wakaf Hutan dipromosikan sebagai bagian dari upaya mengembalikan peran hutan sebagai aset yang paling berharga, yang saat ini semakin dilupakan," harap Bambang.

Di kesempatan yang sama, Kepala Divisi Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Ignatius Denny Wicaksono, CFA, FRM, CIPM, juga menyampaikan apresiasinya terhadap inisiatif wakaf hutan ini. "Di bursa karbon kredit, inisiatif seperti Wakaf Hutan ini sangat potensial untuk menjadi carbon credit kategori premium. Karena tidak hanya menghasilkan karbon, tapi juga memberikan manfaat sosial yang nyata kepada masyarakat sekitar dan biodiversity," tuturnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore