Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 25 November 2023 | 01.54 WIB

Pembiayaan Utang Negara Capai Rp 203.6 Triliun, Sri Mulyani: Lebih Kecil dari Tahun Lalu

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (25/10/2023). - Image

Menteri Keuangan Sri Mulyani saat konferensi pers APBN KiTa di Gedung Kemenkeu, Jakarta, Rabu (25/10/2023).

 
JawaPos.com - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan hingga Oktober 2023, realisasi pembiayaan utang tercatat sebesar Rp 203,6 triliun. Angka ini lebih kecil dibandingkan dengan Oktober 2022 yang tercatat sebesar Rp 507,3 triliun.
 
Seperti diketahui dalam APBN 2023, tahun ini sebenarnya pembiayaan utang pemerintah mencapai Rp 696,3 triliun. Ini artinya tercatat hanya sebesar 29,2 persen terhadap target dalam APBN.
 
"Sampai dengan akhir Oktober kita hanya merealisir pembiayaan utang yang sebesar Rp 203,6 triliun, ini jauh lebih kecil dari tahun lalu. Di mana sampai Oktober kita melakukan pembiayaan utangnya sampai Rp 507,3 triliun," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa edisi November 2023 secara daring, Jumat (24/11).
 
 
Menkeu menjelaskan, pembiayaan utang tahun ini tercatat turun sebesar 59,9 persen. Hal ini terlihat dari penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang mencapai Rp 185,4 triliun dari seharusnya Rp 712,9 triliun dalam UU APBN.
 
"Ini artinya turun drastis dari tahun lalu yang mencapai Rp 500,3 triliun, turunnya 62,9 persen dari sisi penerbitan SBN neto," jelasnya.
 
Bendahara negara ini membeberkan, bahwa Pemerintah baru-baru ini telah mengeluarkan SBN dalam bentuk global sukuk sebesar USD 2 Miliar. Jumlah tersebut terdiri dari USD 1 miliar untuk sukuk dengan tenor 5 tahun dan yield yang dibayarkan sebesar 5,4 persen.
 
Sedangkan USD 1 miliar dirilis dengan tenor 10 tahun, yieldnya 5,6 persen. Menurut Menkeu, penerbitan sukuk ini diterima dengan baik padahal diterbitkan di tengah kondisi pasar yang cukup volatile.
 
"Subscribernya dalam hal ini oversubscribe. Dalam hal ini Indeonsia mampu mendapatkan yield yang relativly sangat kompetitif dibanding negara emerging yang lain," bebernya.
 
Selain itu, Pemerintah juga telah mengeluarkan ORI24. Dalam hal ini salah satu obligasi ritel di mana sebesar Rp 14,5 triliun telah dibeli oleh masyarakat Indonesia. Untuk seri 24 tenor 3 tahun kuponnya sebesar 6,1 persen dan telah tercatat sebesar Rp 11,9 triliun masyarakat yang membeli.
 
Sedangkan ORI24 dengan tenor 6 tahun, kupon yang diberikan sebesar 6,35 persen dan telah mendapatkan Rp 2,6 triliun, di mana jumlah investornya mencapai 11.274 investor. Sementara dari sisi pinjaman luar negeri, dalam APBN memang diperkirakan turun, namun realisasinya mencapai Rp 18,2 triliun.
 
Menurutnya, perkembangan pembiayaan utang itu menunjukan pengelolaan yang baik oleh pemerintah. Di tengah kondisi perekonomian global yang tidak menentu, ditandai tingginya suku bunga acuan bank sentral, pengelolaan utang yang baik menjadi sangat diperlukan.
 
"Kita sikapi dengan pengelolaan yang lebih hati-hati, issueance harus ditentukan secara situasi, sehingga kita tidak terekpos dengan suku bunga yang melonjak tinggi," tandasnya.
 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore