Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 13 Agustus 2023 | 20.17 WIB

Blok Migas Raksasa Turut Dikelola Perusahaan Migas Dalam Negeri, Jadi Kado HUT ke-78 RI?

ILUSTRASI Blok Masela di Laut Arafura, Maluku. (Dok. Jawa Pos) - Image

ILUSTRASI Blok Masela di Laut Arafura, Maluku. (Dok. Jawa Pos)

 
JawaPos.com - Jelang HUT ke-78 RI, PT Pertamina (Persero) membawa kado besar bagi tanah air. Pasalnya, 35 persen saham blok migas raksasa, Blok Masela di Laut Arafura, Maluku telah resmi diakuisisi oleh perusahaan dalam negeri yang semula dipegang oleh Shell Upstream Overseas Services (I) Limited (SUOS) anak usaha perusahaan migas asal Belanda, yakni Royal Dutch Shell plc.
 
Berdasarkan informasi yang dihimpun JawaPos.com, sebelumnya Shell memegang porsi Participating Interest (PI) di Blok Masela sebesar 35 persen. Dengan 65 persennya dipegang oleh INPEX Masela Ltd, perusahaan migas multinasional yang kantornya berpusat di Jepang.
 
Namun, pada 25 Juli 2023, PT Pertamina (Persero) melalui Subholding Upstream yaitu PT Pertamina Hulu Energi (PHE), secara resmi telah menandatangani perjanjian jual beli untuk akuisisi kepemilikan Shell Upstream Overseas Services (I) Limited (SUOS) di Blok Masela. Dimana PHE yang bekerjasama dengan PETRONAS melalui PETRONAS Masela Sdn. Bhd. (PETRONAS Masela) mengambil alih 35 persen kepemilikan SUOS di blok tersebut.
 
 
PHE nantinya akan mengelola 20 persen dari kepemilikan tersebut dan 15 persen akan dikelola oleh PETRONAS Masela. Penandatanganan perjanjian jual beli kepemilikan Blok Masela dilakukan pada acara pembukaan Konvensi Indonesia Petroleum Association (IPA) hari Selasa, 25 Juli 2023 dan disaksikan oleh Menteri ESDM Arifin Tasrif, Direktur Jenderal MIGAS Tutuka Ariadji, Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto, dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dan Presiden & Ketua Pegawai Eksekutif Kumpulan PETRONAS Tan Sri Tengku Muhammad Taufik.
 
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyampaikan bahwa demi memenuhi kebutuhan energi nasional dibutuhkan komitmen untuk menjaga pasokan migas dari sisi hulu. “Selain mengelola lapangan eksisting maka diperlukan strategi untuk mengembangkan lapangan baru, salah satunya adalah Lapangan Abadi di Blok Masela,” kata Nicke.
 
PHE sebagai Subholding Upstream Pertamina memiliki pengalaman panjang dalam kegiatan eksplorasi, pengembangan, dan produksi minyak dan gas laut dalam baik di Indonesia maupun di luar negeri. Selain itu, PHE, melalui salah satu anak usahanya, juga memiliki pengalaman yang terbukti dalam pengembangan dan pengoperasian Kilang LNG Badak dan juga pemasaran LNG domestik dan internasional.
 
“Kemampuan dan kehandalan PHE yang menjadi bukti kuat bahwa Pertamina selaku BUMN dapat membangun kerjasama dengan partner global. Kedepannya Pertamina berharap dapat melakukan kerjasama strategis pengembangan bisnis dan potensi lainnya di masa mendatang, ” ungkap Nicke. 
 
Nicke menjelaskan bahwa kedepannya Lapangan Abadi Blok Masela berpotensi menyerap hingga 10.000 tenaga kerja. Pengembangan Blok Masela diharapkan dapat membantu percepatan pengembangan area lokal sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru dan dapat menyerap tenaga kerja lokal. Hal ini tentunya akan berdampak langsung pada pengembangan ekonomi di wilayah Indonesia Timur.
 
Untuk diketahui, nilai akuisisi Pertamina dan Petronas atas hak partisipasi 35 persen sebesar USD 650 juta atau Rp 9,75 triliun (asumsi kurs Rp 15.000 per USD). Dengan begitu, Pertamina menggelontorkan biaya USD 371,8 juta atau Rp 5,58 triliun.
 
Nicke mengungkapkan bahwa nantinya Pertamina bersama Inpex dan Petronas juga perlu melakukan revisi plan of development (PoD) Blok Masela dengan memasukkan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dalam program kerja pengembangannya.
 
Harapan pemerintah Blok Masela bisa mulai on stream pada tahun 2029. Target ini sangat optimistis mengingat target on stream yang telah ditetapkan Inpex dan Shell sebelumnya yaitu di tahun 2031-2032.
 
"Kita melakukan upaya bersama dengan Inpex dan Petronas dan pemerintah untuk bersama-sama effort terbaik untuk akselerasi proyek ini agar segera bisa dimanfaatkan kebutuhan gas dalam negeri," ungkap Nicke.
 
Berdasarkan sejarahnya, INPEX pertama kali memperoleh hak untuk melakukan kegiatan eksplorasi di Blok Masela melalui penandatanganan Kontrak Kerja Sama (KKS) Masela pada tanggal 16 November 1998. Pada tahun 2000, INPEX Masela Ltd, menemukan Lapangan Gas Abadi yang berlokasi di Laut Arafura, sekitar 150 kilometer lepas pantai Saumlaki, Maluku Tenggara Barat.
 
Kemudian, Pemerintah RI memberi persetujuan INPEX Masela Ltd di tahun 2010 untuk mengembangkannya secara bertahap. Kemudian, pada Juni 2019 Satuan Kerja Khusus Pengatur Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) telah menyetujui POD Blok Masela.
 
Namun, pada tahun 2020 Shell memutuskan cabut atau meninggalkan proyek sehingga membuat rencana POD migas di Blok Masela molor hingga Juli 2023 atau sekitar 4 tahun. Hingga tahun ini, POD tersebut masih dalam progres seiring dengan masuknya Pertamina dan Petronas yang masuk ke dalam konsorsium Inpex menggantikan Shell.
 
Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore