Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 22 Agustus 2019 | 00.08 WIB

Industri Mebel Inginkan Regulasi yang Lebih Menarik Ketimbang Vietnam

TERDAMPAK RELOKASI: Aktivitas produksi di PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), Sidoarjo, beberapa waktu lalu. (Frizal/Jawa Pos) - Image

TERDAMPAK RELOKASI: Aktivitas produksi di PT Integra Indocabinet Tbk (WOOD), Sidoarjo, beberapa waktu lalu. (Frizal/Jawa Pos)

JawaPos.com - Ekspor mebel tahun lalu cenderung lambat. Sebab, para pemilik modal asing beramai-ramai merelokasi pabrik mereka di Jawa Timur (Jatim) dan Jawa Tengah (Jateng) ke Vietnam. Kini para pelaku industri perlu bekerja sama dengan pemerintah untuk menerapkan teknologi canggih guna menggaet para investor.

Sekretaris Jenderal Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur menyebut investor Tiongkok sebagai prioritas. Jika para pengusaha mebel dari Negeri Panda bersedia menanamkan modal di Indonesia, industri mebel akan bisa tumbuh signifikan.

"Harus ada booster dengan regulasi yang menarik. Kalau bisa, ya lebih menarik dari Vietnam," katanya, Selasa (20/8).

Sobur memang secara khusus menyebut Vietnam. Sebab, pertumbuhan industri furnitur terus meningkat selama tiga tahun terakhir.

Ekspor mebel Vietnam tumbuh sampai 38 persen dalam tiga tahun. Artinya, tiap tahun rata-rata pertumbuhannya lebih dari 12 persen.

"Tahun ini pertumbuhan ekspor mebel Indonesia diperkirakan naik lima persen dari tahun lalu," paparnya.

Tanpa keterlibatan pemodal asing dan relokasi pabrik milik mereka ke Indonesia, kinerja ekspor mebel tidak akan bisa lebih dari lima persen setiap tahun. Sejak ada banyak pabrik yang pindah ke Vietnam, performa Indonesia memburuk.

"Dari USD 2,5 miliar (setara Rp 35,65 triliun) pada 2017, turun menjadi USD 1,7 miliar (sekitar Rp 24,24 triliun) tahun lalu," kata Sobur.

Dia menyayangkan kalahnya kinerja ekspor mebel Indonesia dari Vietnam. "Secara luas wilayah, Indonesia jauh lebih besar. Apalagi, bahan baku dan sumber daya manusianya mendukung. Tinggal regulasi yang ramah investasi harus dipercepat," urainya.

Regulasi yang dianggap tidak mendukung bisnis adalah perizinan tenaga kerja asing. Menurut Sobur, biaya memasukkan tenaga kerja asing ke Indonesia jauh lebih mahal daripada ke Vietnam.

Sementara itu, General Manager PT Wahana Kemalaniaga Makmur Sofianto Widjaja menyatakan, untuk mendukung penggunaan teknologi, pihaknya akan rajin menggelar pameran.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore