Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 11 September 2015 | 14.30 WIB

Kata Fuad, Pasar Tak Percaya Jokowi

Fuad Bawazier - Image

Fuad Bawazier

JawaPos.com– Kondisi ekonomi Indonesia sedang sakit parah, tapi pemerintah terkesan cuek dengan situasi ini. Mantan menteri keuangan di era Orde Baru Fuad Bawazier salah satu yang kecewa dengan sikap acuh tak acuh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Fuad makin kesal mendengar Jokowi mengatakan duit negeri ini banyak.



“Pertanyaannya, jika uang masih banyak kenapa terus-menerus ngutang?” sindir Fuad usai menghadiri Group Diskusi Indonesia (GDI), di Hotel Grand Alia, Jakarta, Kamis (10/9)



Seharusnya pemerintah Jokowi – Jusuf Kalla mengambil kebijakan yang instan, tepat dan cermat  selain  kebijakan jangka panjang. "Pemerintah malah cuek dengan kondisi yang sudah krisis ini," paparnya.



Dia mengingatkan kepada Jokowi bahwa gonjang ganjing mata uang rupiah terhadap dolar AS menandakan pasar tidak percaya (untrust market).  Itu menandakan kredibilitas pemerintah Jokowi sudah jatuh.



"Apalagi ancaman-ancaman yang sifatnya fundamental itu melekat, misalnya pasar tahu utang dalam negeri ada hampir 60 miliar  dolar AS yang akan jatuh tempo. Lalu dolarnya nanti dari mana gitukan?" terangnya.



Kata Fuad, pemilik modal mulai membaca-membaca kondisi pasar Indonesia. Sepertinya banyak yang diam-diam mulai menjauhi Indonesia, menganjurkan jangan beli surat-surat berharga Indonesia dan lain sebagainya.



"Karena surat berharga itu saham atau hutang negara ini sudah kurang sehat," pungkasnya.



Ketika ditanya apa langkah dan soslusi kedepan yang harus diambil pemerintah, Fuad enggan menjelaskan. "Ke depannya itu urusan Jokowi," tukasnya.



Kenapa Jokowi solusinya? Kata mantan dirjen Pajak di era Orde Baru, titik masalah berada di kewibawaan Jokowi.



Dia menyebabkan nilai tukar rupiah hancur-hancuran. Jokowi sama sekali tidak memiliki kewibawaan sebagai kepala negara dan pemerintahan.



 “Jangan Presiden mengatakan ini akibat perang Korea atau misalnya akibat bunga dolar naik,” kata Fuad.



Ia menegaskan, sampai saat ini sebenarnya bunga dolar AS belum dinaikkan pemerintah Amerika Serikat. Jadi tidak tepat jika pemerintah beralasan terpuruknya rupiah akibat hal ini. “Belum ada pembicaraan untuk itu di Amerika,” tandasnya.



Sekadar diketahui utang Indonesia sampai April 2015 sebesar Rp 2.780,97 triliun Angka itu turun tipis Rp 15 triliun dibanding posisi utang bulan Maret 2015 sebesar Rp 2.795,84 triliun.



Utang pemerintah terdiri dari pinjaman sebesar Rp 689,24 triliun (24,8 persen), dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 2.091,72 triliun (75,2 persen).



Jepang tercatat sebagai negara kreditur utama Indonesia dengan jumlah piutang mencapai Rp 217,88 triliun atau 31,6 persen dari pinjaman luar negeri. Sementara Bank Dunia merupakan lembaga multiateral terbesar yang memberikan pinjaman ke Indonesia. Piutang Bank Dunia kepada Indonesia mencapai Rp 180,31 triliun atau 26,2 persen dari total pinjaman luar negeri.

Editor: Idham
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore