Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 11 Juli 2023 | 15.50 WIB

Harga Minyak Mentah Dunia Turun di Tengah Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga AS dan Aksi Ambil Untung

Photo

JawaPos.com - Harga minyak turun 1 persen pada Selasa (11/7) pagi waktu Indonesia di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kenaikan suku bunga AS atau The Fed. Namun, pemotongan pasokan minyak mentah dari eksportir minyak utama Arab Saudi dan Rusia membatasi kerugian.

Dilansir dari Reuters, minyak mentah Brent berjangka turun 78 sen atau 1 persen menjadi USD 77,69 per barel setelah menyentuh level tertingginya pada dua bulan sebelum perdagangan sesi ini. Minyak mentah West Texas Intermediate AS turun 87 sen, atau 1,2 persen menjadi USD 72,99.

"Pedagang sangat gugup tentang suku bunga lebih tinggi yang dapat mematikan permintaan dengan sangat cepat," kata Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior perdagangan di BOK Financial.

Dia juga mengatakan bahwa beberapa investor juga terlibat dalam aksi ambil untung pada kenaikan harga pekan lalu. Kedua harga minyak tolak ukur naik lebih dari 4,5 persen minggu lalu setelah Arab Saudi dan Rusia mengumumkan pengurangan produksi baru.

Dengan total pengurangan oleh grup OPEC+ menjadi sekitar 5 juta barel per hari (bpd), atau sekitar 5 persen dari permintaan minyak global. Presiden Federal Reserve San Francisco Mary Daly pada hari Senin (10/7) kembali mengatakan keyakinannya bahwa dua kenaikan suku bunga lagi tahun ini kemungkinan akan diperlukan untuk menurunkan inflasi yang masih terlalu tinggi.

Sementara Presiden Fed Cleveland Loretta Mester juga mengisyaratkan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Namun, suku bunga yang lebih tinggi dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mengurangi permintaan minyak.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan Jumat lalu kenaikan pekerjaan bulanan terkecil dalam 2-1/2 tahun bersama dengan pertumbuhan upah yang kuat. Data memperkuat kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini.

Sementara itu, permintaan minyak dari China dan negara berkembang dikombinasikan dengan pengurangan pasokan OPEC+, kemungkinan akan membuat pasar tetap ketat pada paruh kedua tahun ini. Meskipun ekonomi global sedang lesu, kata kepala Badan Energi Internasional (IEA).

Pasar juga fokus pada rilis data Indeks Harga Konsumen AS, laporan inflasi utama, dan sejumlah laporan ekonomi dari China akhir pekan ini untuk memastikan permintaan.

Editor: Banu Adikara
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore