
Bhima Yudistira saat berbincang dengan JawaPos.com di Kantor INDEF, Jakarta, Jumat (27/10). (Hana Adi/Dok.JawaPos.com)
JawaPos.com - Generasi milenial saat ini mungkin akan asing mendengar kata ekonom. Menurut mereka, sebutan ekonom itu nggak sebeken sebutan 'kids zaman now' atau 'generasi mecin. Pada intinya, semuanya merupakan sebutan yang diberikan oleh seseorang maupun sekelompok orang tertentu.
Jika dilirik faedahnya, tentu seorang ekonom akan jauh lebih berfaedah. Pemikiran dan ide-idenya mampu memengaruhi kebijakan publik. Muaranya tentu demi kebijakan yang berkeadilan.
Menjadi seorang ekonom pun susah-susah gampang. Biasanya, mereka yang mendapat sebutan sebagai ekonom haruslah terbukti memiliki pemikiran atau penelitian yang kredibilitasnya tinggi. Kalaupun ada, mungkin di usia yang tak lagi muda baru bisa mendapat pengakuan sebagai seorang ekonom.
Selain itu, generasi milenial abad ini rasanya tak banyak yang memiliki keinginan untuk bisa menjadi ekonom. Atau mungkin saja tidak ada sama sekali?
Namun demikian, hal itu tidak berlaku bagi Bhima Yudistira Adhinegara. Pria asal Pamekasan, Madura, 27 tahun silam ini sudah menjadi seorang Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Perlu diketahui, INDEF merupakan lembaga independen yang bergerak dalam penelitian dan kebijakan, khususnya dalam sektor ekonomi yang telah ada sejak 1995. Hampir semua peneliti di INDEF merupakan seorang ekonom.
Anak pertama dari dua bersaudara ini telah bergabung ke INDEF sejak dirinya menempuh pendidikan Strata 1 (S1) international program Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Saat itu, dirinya berada di INDEF sebagai peneliti.
Hingga kemudian, dirinya meninggalkan INDEF untuk melanjutkan studi S2-nya di University of Bradford Inggris pada tahun 2014. Hebatnya, studi itu dia dapatkan melalui program beasiswa LPDP.
Berselang dua tahun, pria yang menempuh pendidikan dari sekolah dasar (SD) hingga SMA-nya di Bekasi ini berhasil menamatkan studinya di Negeri Ratu Elizabeth. Di sana, dia lulus dengan status 'Graduated with Merit' atau mungkin bisa dibilang cukup baik. Sebab, di Inggris sendiri punya cara tersendiri dalam memberikan nilai.
"Ceritanya waktu itu bahkan sebelum S1 selesai saya sudah bergabung ke INDEF. Nah gabung ke INDEF kemudian izin studi lagi S2 ya, habis itu balik ke sini lagi," ujarnya kepada JawaPos.com di Jakarta, Jumat (27/10).
Bhima menjelaskan, dirinya bisa masuk ke INDEF berkat rekomendasi dari Evi Noor Afifah yang pada saat itu menjabat sebagai Direktur INDEF. Di sisi lain, masuknya Bhima ke INDEF sekaligus untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan oleh Evi. Namun jauh sebelum itu, dirinya juga mengakui jika telah sejak lama dipantau oleh INDEF.
"Nah pas pulang sama ngobrol sama dia, intinya ada posisi yang kosong. Karena dia ke Jogja. Dia jadi dosen lagi di UGM, nah saya disuruh gantiin dia di situ sebagai peneliti. Jumlah peneliti enggak banyak, hanya 12 orang. hampir di sini semuanya itu close recruitment. Dia melihat track record, waktu di kampus ngapain saja, pakai jaringan itu sih. Sebenarnya saya juga di kaderisasi sama Bu Evi, sama beberapa senior INDEF," jelas dia.
Sejak saat itu, karirnya sebagai peneliti di INDEF mulai menanjak. Beberapa hasil kajiannya berhasil menjadi referensi kebijakan publik pemerintah. Selain itu, pihaknya juga berhasil memberi rekomendasi kajian di level internasional.
"Beberapa kajian berhasil menjadi referensi kebijakan publik di Kementerian Keuangan. Salah satunya perluasan basis cukai plastik di tahun 2018 nanti. Kemudian saya bisa memberikan rekomendasi kebijakan di level internasional salah satunya terkait outlook ekonomi global di berbagai media internasional," tuturnya.
Dari capaian itu, pengakuan sebagai ekonom pun kian mantap. Sejumlah media dalam negeri maupun instansi lainnya kerap menjadikannya sebagai narasumber langganan dalam menanggapi kebijakan-kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
Lebih jauh, Bhima tidak pernah membayangkan jika pilihannya menjadi seorang ekonom bisa menerbangkannya hingga setinggi saat ini. Di usia yang masih muda, Bhima masih memiliki asa untuk bisa mengikuti jejak motivatornya, yakni Thomas Piketty.
Ekonom sekaligus akademisi asal Perancis itu begitu dikenal dengan kajiannya perihal ketimpangan dan pendapatan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
