Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 13 Agustus 2024 | 06.40 WIB

Tak hanya jadi Kota Pelajar, Jogjakarta juga Menyimpan Potensi Zakat Cukup Besar Capai Rp 2,5 Triliun

Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf, Kementerian Agama (Kemenag) Waryono Abdul Ghafur. (Humas Kemenag)

JawaPos.com - Provinsi Jogjakarta selama ini dikenal sebagai kota pelajar. Karena banyak lembaga pendidikan yang berdiri di sana. Selain itu, Jogjakarta ternyata juga menyimpan potensi zakat yang besar. Perhitungan dari Kementerian Agama (Kemenag), potensi zakat di Jogjakarta mencapai Rp 2,5 triliun. 

Data tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Ditjen Bimas Islam Kemenag Waryono Abdul Ghafur. Secara khusus dia mendorong optimalisasi pengelolaan zakat dan wakaf di Jogjakarta.

Ia menyebut, Jogjakarta memiliki potensi zakat sebesar Rp 2,5 triliun. Namun realisasi yang dicapai pada 2023 baru sebesar Rp 67,5 miliar.

Selain itu, Waryono memaparkan terdapat 11.434 lokasi tanah wakaf dengan total luas mencapai 417 hektare di wilayah Jogjakata. Namun banyak di antaranya belum dikelola secara optimal.

Waryono menekankan arah kebijakan dan transformasi pengembangan Islamic Social Finance (ZISWAF) di Indonesia. Ia menjelaskan, penguatan regulasi dan kebijakan di bidang zakat dan wakaf menjadi prioritas utama untuk memastikan keberlanjutan dan efektivitas pengelolaan dana zakat dan wakaf.

"Selain itu, kolaborasi dana zakat-wakaf juga merupakan kunci penting dalam meningkatkan dampak sosial ekonomi di masyarakat," kata Waryono dalam keterangannya Senin (12/8). 

Sebelumnya pada acara Semarak Ekonomi Syariah Jogjakarta Waryono juga mengatakan, Kemenag tengah mengembangkan digitalisasi sistem informasi dan basis data terpadu. Tujuannya untuk mendukung transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana zakat dan wakaf.

Upaya tersebut juga merupakan langkah untuk memperkuat SDM di bidang zakat dan wakaf, khususnya bagi para amil dan nazir agar lebih profesional dan kompeten. "Kami juga sedang menyusun panduan peta jalan zakat 2045 dan implementasi peta jalan wakaf untuk menghadapi tantangan di masa depan," ujar Waryono. 

Dalam kesempatan yang sama Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Wilayah Jogjakarta Ibrahim turut memberikan pandangannya. Dia menekankan pentingnya ekonomi syariah yang inklusif dan berkelanjutan.

Ibrahim menyoroti pertumbuhan sektor ekonomi syariah di Indonesia yang mencapai 11,5 persen tahun ini, dengan potensi permintaan produk halal yang terus meningkat. "BI telah mengembangkan program besar yang berfokus pada sinergi pengembangan masjid dan wakaf, serta rantai nilai halal sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi syariah di Indonesia," jelasnya.

Sementara itu, Bekti Hendrianto dari Fakultas Bisnis dan Ekonomi Universitas Islam Indonesia (UII) menyoroti pentingnya Islamic Social Finance sebagai motor penggerak pembangunan ekonomi. Menurut Bekti, potensi zakat di Indonesia bisa mencapai Rp 4.000 triliun. Namun diperlukan kolaborasi, inovasi, dan konsistensi untuk mewujudkan potensi tersebut menjadi kenyataan. Ia juga menekankan peran zakat dan wakaf dalam mendukung UMKM, serta mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore