
Ilustrasi Petugas Amil Zakat melayani umat Islam yang membayar zakat fitrah.
JawaPos.com - Kementerian Agama (Kemenag) bersama Bank Indonesia (BI) berupaya mempermudah pengumpulan dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf). Seiring dengan perkembangan dunia digital, pengumpulan, zakat, dan infak pun bisa lebih cepat dengan memanfaatkan teknologi digital.
Upaya itu dengan meluncurkan super apps Ziswaf. Yaitu, layanan digital dalam pengumpulan dana ziswaf. Dalam waktu dekat, aplikasi tersebut bakal dikenalkan ke masyarakat.
Dirjen Bimas Islam Islam Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan, Apps Ziswaf berkolaborasi dengan Apps Pusaka Kemenag. Sehingga dapat memudahkan pengelola zakat dan wakaf oleh Baznas, BWI, LAZ, dan Nazir lainnya dalam pengumpulan zakat.
“Kementerian Agama mengapresiasi Bank Indonesia atas inisiasi Super Apps Ziswaf Indonesia. Harapannya, aplikasi ini dapat memudahkan masyarakat untuk berzakat dan berwakaf di lintas tempat dan waktu,” kata Kamaruddin dalam keterangannya Kamis (31/8).
Upaya mempermudah layanan pembayaran zakat berbasis digital mendapatkan respon positif dari Baznas. Pasalnya pembayaran zakat melalui aplikasi atau layanan digital di Baznas cukup signifikan. Yaitu mencapai 26 persen lebih. Ketua Baznas Noor Achmad mengatakan, pembayar zakat melalui layanan digital hampir seluruhnya generasi milenial.
Data pengumpulan zakat di Baznas pusat pada 2023 hingga 30 Agustus tercatat sekitar Rp 598 miliar. Angka itu masih jauh dari target mereka di angka Rp 815 miliar. Pengumpulan zakat lewat UPZ dan zakat perusahaan masing-masing sekitar Rp 170 miliar. Sementara pengumpulan zakat lewat saluran digital terdata Rp 129 miliar.
Lebih lanjut Noor Achmad menjelaskan, lebih dari 60 persen pembayar zakat di Baznas pusat adalah kelompok milenial. Meskipun nominalnya tidak besar, tetapi jumlah orangnya banyak. "Kaum milenial sekarang menguasai pasar. Mereka juga menjadi trend setter," katanya dalam Forum Matraman di Jakarta pada Rabu (30/8).
Achmad mengatakan kontribusi penghimpunan zakat dari UPZ Baznas yang ada di kementerian, lembaga, atau BUMN sekitar 25 persen. Kemudian pembayar zakat lewat kanal digital ada 26 persen lebih. Dia mengatakan hampir seluruh pembayar zakat lewat kanal digital adalah kelompok milenial.
Sedangkan untuk pembayar zakat secara ritel, kontribusinya sekitar 12,8 persen. Kemudian untuk zakat perusahaan ada 28 persenan. "Kelompok ritel dan zakat perusahaan sekarang banyak yang muda-muda," katanya. Menurut dia banyak perusahaan yang membayar zakatnya di Baznas, dimiliki oleh anak-anak muda.

Breaking News! Rival Veda Ega Pratama Didiskualifikasi dari Moto3 Catalunya 2026
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Surat Satir Sony Sanjaya ke Kepala BGN Baru Bikin Heboh, Netizen: Nanik Deyang Cepu ya Pak?
Resmi Jadi Tersangka Korupsi MBG, Sony Sonjaya Kirim Surat Satir ke Kepala BGN Baru: 'Terima Kasih Hadiah Indahnya'
Dikabarkan Deal! Persebaya Surabaya Gaet Lima Pemain Anyar, Empat Legiun Asing dan Satu Striker Lokal
