
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Jder! Kawanan begal itu memang bermarkas di sudut kebun kopi di utara Marilang. Nyapnyup, yang kala itu diboncengkan ayahnya di atas motor, melihat dengan mata kepala sendiri kekejaman mereka. Anehnya, para pembegal itu membiarkan saja rombongan kecil Suklikulisu memperhatikan mereka dalam jarak dekat, seakan-akan para pembegal itu tak menyadari kehadiran mereka.
Beberapa hari kemudian, setelah Suklikulisu meyakinkan kepolisian, kawanan itu pun diringkus. Nama Nyapnyup masyhur. Banyak orang datang meminta petunjuk, nasihat, pengasihan, azimat, ramalan masa depan, dan lain sebagainya. Tapi, bocah itu bergeming. Marpiselopah pun berang, bahkan sampai mengancam akan memenjarakan para pengunjung kalau masih mengganggu ketenangan mereka.
Kini, Nyapnyup sudah sekolah. Kesaktiannya makin diakui. Ia disebut berlidah panas karena dua hari sebelum Pak RT diamankan, ia menyebut ketua kompleks itu menggelapkan dana bansos; penglihatannya juga dianggap melampaui masanya ketika seminggu sebelum Gunung Lijaulijui meletus ia menyarankan para penduduk yang tinggal di lereng untuk mengungsi; dan masih banyak lagi.
Tapi, apa yang Nyapnyup tunjukkan di masjid pagi ini sungguh mengganggu Suklikulisu. Anak laki-laki tujuh tahun itu tertawa sepanjang salat. Memang mulanya laki-laki empat puluh tahun itu menganggap, sebagaimana yang bergeliat dalam kepala jemaah lain, sikap anak ajaib itu karena Suklikulisu salat hari raya tanpa sujud, rukuk, dan duduk tahiyat, sebelum kemudian ia berubah pikiran.
Karena malu keluar rumah sepulang salat, Suklikulisu meminta istrinya memanggil Nyapnyup ke rumah. Perasaannya, ejekan orang-orang kompleks tentang salat dua rakaatnya yang menyerupai salat Jenazah tadi belum akan reda (atau jangan-jangan sedang jadi-jadinya!). Ia tak mau jadi bulan-bulanan perundungan mereka yang memanfaatkan kealpaannya. ”Beri Papa waktu, Ma.” Hanya itu yang bisa ia katakan ketika istrinya meminta penjelasan tentang keanehan yang terjadi di masjid tadi.
”Kan aku hanya minta Nyapnyup yang datang?” bisik Suklikulisu pada istrinya ketika Marpiselopah mengucap salam.
”Nyapnyup itu masih anak-anak, Pa. Wajar kalau didampingi ibunya,” istrinya menghela napas. ”Jangan bilang kalau Papa juga ingin mengusir Mama dari pertemuan Papa sama anak ajaib itu!”
Karena sudah ada Marpiselopah, melarang sang istri mendengarkan percakapannya dengan Nyapnyup adalah tindakan tak berguna.
”Cepatlah, Pa,” desak istrinya. ”Jangan aneh! Papa sudah cukup aneh hari ini.”
”Hari ini?” kata Suklikulisu refleks. Nada suaranya lemah. Lebih mirip gumaman.
”Sejak Papa sering cerita sudah bayar uang kurban,” putra sulung mereka, yang masih duduk di kelas 5 SD, bersuara.
”Sejak Papa sering dipuji orang-orang kompleks karena berkurban sapi,” anak kedua menambahkan.
”Sejak kami tahu sapi itu sebesar gajah,” si bungsu yang masih berusia 8 tahun tak mau kalah.
***
”Kata Nyapnyup, Pak Suk yang sepanjang salat tadi hanya berdiri saja itu bukanlah penyebab ia tertawa,” Marpiselopah buka suara ketika Suklikulisu tampak kesulitan mengutarakan maksud.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
