Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 9 Juni 2025 | 03.16 WIB

Sapi Sebesar Gajah

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Jder! Kawanan begal itu me­mang bermarkas di sudut kebun kopi di utara Marilang. Nyap­nyup, yang kala itu dibon­cengkan ayahnya di atas motor, melihat dengan mata kepala sendiri kekejaman mereka. Anehnya, para pembegal itu membiarkan saja rombongan kecil Suklikulisu memper­ha­tikan mereka dalam jarak de­kat, seakan-akan para pem­begal itu tak menyadari ke­ha­diran mereka.

Beberapa hari kemudian, setelah Suklikulisu meya­kin­kan kepolisian, kawanan itu pun diringkus. Nama Nyap­nyup masyhur. Banyak orang datang meminta petunjuk, nasihat, pengasihan, azimat, ramalan masa depan, dan lain sebagai­nya. Tapi, bocah itu bergeming. Marpiselopah pun berang, bahkan sampai meng­ancam akan memenja­ra­kan para pengunjung kalau masih mengganggu kete­nang­an mereka.

Kini, Nyapnyup sudah se­ko­lah. Kesaktiannya makin diakui. Ia disebut berlidah panas karena dua hari sebelum Pak RT diamankan, ia me­nye­but ketua kompleks itu menggelapkan dana bansos; penglihatannya juga dianggap melampaui masanya ketika seminggu sebelum Gunung Lijaulijui meletus ia menya­rank­an para penduduk yang ting­gal di lereng untuk meng­ungsi; dan masih banyak lagi.

Tapi, apa yang Nyapnyup tunjukkan di masjid pagi ini sungguh mengganggu Sukli­ku­lisu. Anak laki-laki tujuh tahun itu tertawa sepanjang salat. Memang mulanya laki-laki em­pat puluh tahun itu meng­anggap, sebagaimana yang bergeliat dalam kepala jemaah lain, sikap anak ajaib itu karena Suklikulisu salat hari raya tanpa sujud, rukuk, dan duduk tahiyat, se­be­lum kemudian ia berubah pikiran.

Karena malu keluar ru­mah sepulang salat, Suklikulisu meminta istrinya memanggil Nyapnyup ke rumah. Pe­ra­sa­an­nya, ejekan orang-orang kom­pleks tentang salat dua rakaatnya yang menyerupai salat Jenazah tadi belum akan reda (atau jangan-jangan se­dang jadi-jadinya!). Ia tak mau jadi bulan-bulanan pe­run­dungan mereka yang me­man­faatkan kealpaannya. ”Beri Papa waktu, Ma.” Hanya itu yang bisa ia katakan ketika istrinya meminta penjelasan tentang keanehan yang terjadi di masjid tadi.

”Kan aku hanya minta Nyap­nyup yang datang?” bisik Su­klikulisu pada istrinya ketika Marpiselopah mengucap salam.

”Nyapnyup itu masih anak-anak, Pa. Wajar kalau di­dam­pingi ibunya,” istrinya meng­he­la napas. ”Jangan bilang kalau Papa juga ingin mengusir Mama dari pertemuan Papa sama anak ajaib itu!”

Karena sudah ada Marpi­selopah, melarang sang istri mendengarkan percakapan­nya dengan Nyapnyup adalah tindakan tak berguna.

”Cepatlah, Pa,” desak istrinya. ”Jangan aneh! Papa sudah cukup aneh hari ini.”

”Hari ini?” kata Suklikulisu refleks. Nada suaranya lemah. Lebih mirip gumaman.

”Sejak Papa sering cerita sudah bayar uang kurban,” putra sulung mereka, yang masih duduk di kelas 5 SD, bersuara.

”Sejak Papa sering dipuji orang-orang kompleks karena berkurban sapi,” anak kedua menambahkan.

”Sejak kami tahu sapi itu sebesar gajah,” si bungsu yang masih berusia 8 tahun tak mau kalah.

***

”Kata Nyapnyup, Pak Suk yang sepanjang salat tadi ha­nya berdiri saja itu bukanlah penyebab ia tertawa,” Mar­pi­se­lopah buka suara ketika Su­klikulisu tampak kesulit­an mengutarakan maksud.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore