
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Sepertinya aku melihatmu beberapa hari lalu, di bangku panjang pinggir jalan dekat pasar rakyat,” kata sang tamu sambil mengamat-amati Maria. Orang yang diajak bicara diam saja. Saat itu mereka duduk berdua di kursi teras. Suami Maria membiarkan keduanya menghadapi saat-saat pertemuan dan pengingatan tersebut. Maria masih berusaha mengingat-ingat siapa tamunya itu; usahanya sedemikian keras hingga kepalanya terasa panas dan ia merasa tak lagi berada di beranda hotel, melainkan di sebuah laboratorium yang terbakar.
Saat ruang dan waktu kembali hadir sebagai sesuatu yang kini dan di sini, Maria seperti tidak sengaja melihat suaminya duduk di ayunan sambil berbincang-bincang dengan laki-laki India itu. Sementara perempuan Korea duduk di rumput. Tanpa sadar Maria melambaikan tangannya, dan perempuan Korea itu membalas lambaiannya.
Sang tamu, yang melihat Maria melambai, bertanya: ”Kamu melambai kepada siapa?”
”Oh, itu tamu hotel ini. Orang Korea.”
Maria ingat ketika ia menunggu resepsionis mengurus kesiapan kamar untuknya, ia sempat membaca koran ibu kota edisi akhir pekan. Koran itu sudah usang, terbit kira-kira tiga tahun sebelumnya. Entah kenapa koran itu masih ada di sana. Maria sempat membaca berita perihal kasus kebakaran di sebuah sekolah menengah beberapa waktu sebelumnya. Saat kebakaran terjadi, sekolah itu sedang menerima kunjungan belajar dari para siswa asal India dan Korea. Kasus itu mengundang munculnya berbagai teori konspirasi. Namun, bukan kasus itu benar yang diingat Maria, melainkan sebuah cerita pendek yang terbit di koran yang sama. Cerita pendek itu tak dapat sungguh-sungguh dipahaminya, tapi Maria terpesona membaca kalimat pembukanya:
”Orang yang sudah mati akan tetap hidup dalam ingatan orang yang masih hidup. Sampai kemudian ingatan tentang orang yang sudah mati itu pelan-pelan mengabur, dan ketika ingatan itu benar-benar hilang, orang yang sudah mati akan hidup kembali sebagaimana ia hidup sebelum ia mati.”
”Tidak ada siapa-siapa di sana, Maria.” Maria berucap pelan.
Dari seberang kamar, dari balik tanaman dekat ayunan, staf hotel mengamat-amati Maria. Sudah lama hotel itu tidak dikunjungi tamu, bahkan pemilik hotel sudah berencana menutupnya. Maka, ketika tiga hari lalu ada seorang perempuan berniat menginap di sana, ia merasa heran. Dan rasa herannya itu bertambah-tambah saat ia memperhatikan bahwa tamunya itu selalu berbicara dengan seseorang seakan-akan memang ada orang lain yang sedang bersamanya. (*)
Baca Juga: Gimik Neurosains Rezim Omon-Omon
---
KIKI SULISTYO, Lahir di Ampenan, Lombok. Ia telah meraih beberapa penghargaan. Kumpulan cerpennya yang terbaru berjudul Musik Akhir Zaman (Indonesia Tera, 2024).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
