ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)
Pada awal penyusunan kabinet yang sangat bongsor itu, ada satu sosok yang lekas menjadi perbincangan warganet. Dalam perkenalannya untuk kali pertama di depan moncong kamera media, ia percaya diri mengaku profesor dengan reputasi riset internasional di bidang sains kognitif.
IA diminta secara khusus untuk mengawal program makan siang gratis karena hasil riset di negara-negara yang menerapkan kebijakan ini menunjukkan peningkatan prestasi akademik. Klaim guru besar Tsinghua University itu tidak keliru, hanya saja tidak lengkap.
Kita bisa tilik hasil penelitian terbaru Andrew J. Martin dkk (2024) di Journal of School Psychology terhadap 648 siswa SMA di Australia yang mengonsumsi sarapan bergizi. Hasilnya signifikan: prestasi akademik siswa meningkat. Namun, peningkatan prestasi siswa tidak berdiri sendiri. Ia ditentukan secara bersamaan oleh variabel-variabel lain yang jauh lebih penting, tetapi tidak disebutkan oleh wakil menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.
Variabel itu adalah motivasi, yang dalam temuan Andrew J. Martin dkk berperan sebagai variabel moderator. Dalam ilmu psikometrika dasar, variabel moderator berfungsi sebagai ”variabel antara” yang memberi bobot pada hubungan antara variabel bebas (makan bergizi) dan terikat (prestasi akademik).
Sederhananya begini. Makan bergizi berpengaruh pada prestasi akademik. Pengaruh itu dimoderatori oleh motivasi siswa (variabel moderator). Semakin konsisten konsumsi sarapan bergizi siswa, semakin meningkat motivasi belajar mereka. Semakin kuat motivasi belajar siswa, semakin baik prestasi mereka. Begitu juga sebaliknya.
Namun, Andrew J. Martin dkk juga menyebutkan variabel lain yang berperan akbar terhadap bersemainya motivasi siswa, yaitu faktor personal, lingkungan keluarga, dan sistem pembelajaran di ruang kelas. Hasil riset yang lebih komprehensif menunjukkan secara jelas bahwa semata bertumpu pada makan bergizi tidak otomatis menaikkan grafik prestasi akademik.
Alih-alih menyodorkan data saintifik lengkap ihwal pelbagai faktor yang dapat meningkatkan kecerdasaan anak bangsa, Prof Stella Christie cukup percaya diri pasang kuda-kuda neurosaintifik untuk melegitimasi program ambisius Prabowo-Gibran yang menciutkan variabel-variabel lain yang jauh lebih penting diperhatikan.
Prof Stella Christie telah melupakan satu prinsip penting dalam metode penelitian psikologi, yaitu masalah variabel ketiga (third variable problem). Prinsip ini menyatakan bahwa dua variabel (semisal sarapan bergizi dan prestasi siswa) dapat berhubungan atau satu berpengaruh pada lainnya secara signifikan, tetapi hubungan itu sangat mungkin menyusut nilainya jika disandingkan dengan variabel lain yang berperan lebih bena.
Pelupaan akan masalah variabel ketiga, keempat, dan seterusnya sebagai pengerek prestasi akademik siswa semakin hari semakin terang ”wujud hilal”-nya. Demi ambisi mengegolkan program makan bergizi gratis (MBG), pemangkasan anggaran galak dilakukan, termasuk di kementerian yang mengurusi amanat konstitusi ”mencerdaskan kehidupan bangsa”.
Efeknya berantai panjang. Nyaris menjadi lingkaran setan. Tunjangan kinerja dosen tidak terbayarkan. Kenaikan gaji guru tidak jelas rimbanya. Pembangunan gedung sekolah di daerah terhambat. Alat kelengkapan sekolah tidak bisa bertambah. Fasilitas pembelajaran siswa akan begitu-begitu saja.
Kondisi yang demikian itu pasti akan mengubur dalam-dalam ”masalah variabel ketiga” seperti yang diisyaratkan Andrew J. Martin dkk di atas, yaitu kualitas pembelajaran di ruang kelas, lingkungan keluarga yang mendukung, dan faktor ketertarikan kuat secara personal.
Bagaimana mungkin pembelajaran di kelas akan menarik jika gaji guru di sejumlah daerah tidak lebih besar dari harga selapis roti menantu presiden? Bagaimana bisa lingkungan keluarga akan mendukung penuh pendidikan anak jika pekerjaan susah? Bagaimana cara menyalakan semangat siswa jika fasilitas sekolah tidak lengkap?
Kita sering mendengar Prabowo tidak suka omon-omon. Ia titahkan menterinya untuk berhenti diskusi –suatu langkah mundur jauh seorang presiden yang suka mengoleksi buku, tetapi enggan bergelut dengan gagasan-gagasan di dalamnya karena persis ketika adu gagasan dihentikan, omon-omon akan bertindak sebagai bumerang. Ia segera kembali menemui pelemparnya.
Janji-janji kampanye untuk menaikkan gaji guru dan dosen; memberi beasiswa bagi anak petani, nelayan, dan guru; hingga mendirikan 300 fakultas kedokteran sampai sekarang tidak muncul tanda-tanda akan bersepakat dengan kenyataan. Semua itu hanyalah omon-omon besar dari sosok yang berkali-kali bilang tidak suka omon-omon. Bumerang anti-omon-omon kembali kepada tuannya sebagai omon-omon.

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
