Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Februari 2025 | 20.38 WIB

Gimik Neurosains Rezim Omon-Omon

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Pada awal penyusunan kabinet yang sangat bongsor itu, ada satu sosok yang lekas menjadi perbincangan warganet. Dalam perkenalannya untuk kali pertama di depan moncong kamera media, ia percaya diri mengaku profesor dengan reputasi riset internasional di bidang sains kognitif.

IA diminta secara khusus untuk mengawal program makan siang gratis karena hasil riset di negara-negara yang menerapkan kebijakan ini menunjukkan peningkatan prestasi akademik. Klaim guru besar Tsinghua University itu tidak keliru, hanya saja tidak lengkap.

Kita bisa tilik hasil penelitian terbaru Andrew J. Martin dkk (2024) di Journal of School Psychology terhadap 648 siswa SMA di Australia yang mengonsumsi sarapan bergizi. Hasilnya signifikan: prestasi akademik siswa meningkat. Namun, peningkatan prestasi siswa tidak berdiri sendiri. Ia ditentukan secara bersamaan oleh variabel-variabel lain yang jauh lebih penting, tetapi tidak disebutkan oleh wakil menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi.

Variabel itu adalah motivasi, yang dalam temuan Andrew J. Martin dkk berperan sebagai variabel moderator. Dalam ilmu psikometrika dasar, variabel moderator berfungsi sebagai ”variabel antara” yang memberi bobot pada hubungan antara variabel bebas (makan bergizi) dan terikat (prestasi akademik).

Sederhananya begini. Makan bergizi berpengaruh pada prestasi akademik. Pengaruh itu dimoderatori oleh motivasi siswa (variabel moderator). Semakin konsisten konsumsi sarapan bergizi siswa, semakin meningkat motivasi belajar mereka. Semakin kuat motivasi belajar siswa, semakin baik prestasi mereka. Begitu juga sebaliknya.

Namun, Andrew J. Martin dkk juga menyebutkan variabel lain yang berperan akbar terhadap bersemainya motivasi siswa, yaitu faktor personal, lingkungan keluarga, dan sistem pembelajaran di ruang kelas. Hasil riset yang lebih komprehensif menunjukkan secara jelas bahwa semata bertumpu pada makan bergizi tidak otomatis menaikkan grafik prestasi akademik.

Alih-alih menyodorkan data saintifik lengkap ihwal pelbagai faktor yang dapat meningkatkan kecerdasaan anak bangsa, Prof Stella Christie cukup percaya diri pasang kuda-kuda neurosaintifik untuk melegitimasi program ambisius Prabowo-Gibran yang menciutkan variabel-variabel lain yang jauh lebih penting diperhatikan.

Prof Stella Christie telah melupakan satu prinsip penting dalam metode penelitian psikologi, yaitu masalah variabel ketiga (third variable problem). Prinsip ini menyatakan bahwa dua variabel (semisal sarapan bergizi dan prestasi siswa) dapat berhubungan atau satu berpengaruh pada lainnya secara signifikan, tetapi hubungan itu sangat mungkin menyusut nilainya jika disandingkan dengan variabel lain yang berperan lebih bena.

Pelupaan akan masalah variabel ketiga, keempat, dan seterusnya sebagai pengerek prestasi akademik siswa semakin hari semakin terang ”wujud hilal”-nya. Demi ambisi mengegolkan program makan bergizi gratis (MBG), pemangkasan anggaran galak dilakukan, termasuk di kementerian yang mengurusi amanat konstitusi ”mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Efeknya berantai panjang. Nyaris menjadi lingkaran setan. Tunjangan kinerja dosen tidak terbayarkan. Kenaikan gaji guru tidak jelas rimbanya. Pembangunan gedung sekolah di daerah terhambat. Alat kelengkapan sekolah tidak bisa bertambah. Fasilitas pembelajaran siswa akan begitu-begitu saja.

Kondisi yang demikian itu pasti akan mengubur dalam-dalam ”masalah variabel ketiga” seperti yang diisyaratkan Andrew J. Martin dkk di atas, yaitu kualitas pembelajaran di ruang kelas, lingkungan keluarga yang mendukung, dan faktor ketertarikan kuat secara personal.

Bagaimana mungkin pembelajaran di kelas akan menarik jika gaji guru di sejumlah daerah tidak lebih besar dari harga selapis roti menantu presiden? Bagaimana bisa lingkungan keluarga akan mendukung penuh pendidikan anak jika pekerjaan susah? Bagaimana cara menyalakan semangat siswa jika fasilitas sekolah tidak lengkap?

Kita sering mendengar Prabowo tidak suka omon-omon. Ia titahkan menterinya untuk berhenti diskusi –suatu langkah mundur jauh seorang presiden yang suka mengoleksi buku, tetapi enggan bergelut dengan gagasan-gagasan di dalamnya karena persis ketika adu gagasan dihentikan, omon-omon akan bertindak sebagai bumerang. Ia segera kembali menemui pelemparnya.

Janji-janji kampanye untuk menaikkan gaji guru dan dosen; memberi beasiswa bagi anak petani, nelayan, dan guru; hingga mendirikan 300 fakultas kedokteran sampai sekarang tidak muncul tanda-tanda akan bersepakat dengan kenyataan. Semua itu hanyalah omon-omon besar dari sosok yang berkali-kali bilang tidak suka omon-omon. Bumerang anti-omon-omon kembali kepada tuannya sebagai omon-omon.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore