
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
’’Mereka sangat bangga padamu. Mereka sangat ingin bertemu.”
Aku ingin tersenyum ketika ponsel Bita berdering. ”Mama,” bisiknya padaku seraya menutup speaker dengan telapak tangannya.
Aku gegas mencangking ponselnya. ”Minggu depan Zarkasyih akan ke Surabaya, Bu. Mau sungkem. Sekalian minta izin ngambil anak Ibu.” Meski belum pernah bertemu ibunya Bita, tak sedikit pun aku singkuh berbicara dengannya.
***
Begitu memasuki kompleks perumahan elite, bendera merah berukuran raksasa tampak berkibar-kibar di kejauhan. Aku tersenyum. Aku tiba-tiba teringat Kakek yang sangat Sukarnois. Ingatanku berlari kencang ke suatu malam di tahun 1999.
”Kamu tahu, Kas, tahun 1980-an itu.” Kakek kebingungan menghadapi api yang mulai menjalari jiwanya. ”Siapa yang duduk di kursi empuk DPR di bawah bendera beringin ...” Aku tak pernah melihat Kakek seterbakar malam itu. ”... yang ikut-ikutan menuduh kalau banyak pemberontak bersarang di Partai Banteng?!” Tentu saja aku tak tahu. Aku lahir tahun 1980 dan anak SD mana peduli politik. ”Salah satunya adalah Yang Terhormat Ahmad Basri Jailani. ” Oh, itu adalah nama ayah dari ibuku. Kakekku juga. Kakek yang kata Ibu pernah menggendongku beberapa bulan sebelum perceraian itu. ”Saking lihainya si Basri menjilat telapak kaki Suharto, kata-katanya –yang disiarkan berulang kali di RRI dan beredar bebas di koran-koran– diimani pemerintah!” Aku ingin sekali menghentikan Kakek, tapi aku juga ingin sekali mendengarkan semuanya. Oh. ”Maka, konsekuensi bualannya adalah hanya veteran pendukung Orde Baru yang dianggap pejuang, yang memakai batik kuning dengan cantolan bros beringin kuning di dekat kantong bajunya, yang memakai kopiah kuning, atau yang berdiri di atas tongkat yang kepalanya diberi aksen kuningan!” Bibir Kakek bergetar. Kursi yang didudukinya ikutan bergetar. ”Katakan pada Kakek, Kas: sejak kapan peperangan bisa menyortir jiwa rezim yang belum lahir? Sejak kapan kanopi beringin berwarna taik?” Kakek ternyata sangat rapuh. ”Sialnya...” Kakek kini mengacak-acak rambut putihnya yang kelimis. ”... Kakek baru menyadari semuanya setelah ijab kabul itu diteriaki sah oleh para saksi!” Ingin sekali aku memeluk Kakek.
”Syih!” Bita memecah lamunanku. ”Kita sudah sampai nih!”
Aku menoleh ke luar tanpa menurunkan kaca mobil. Sebuah rumah dengan dinding yang dilapisi batu alam berdiri megah. Sebuah tiang bendera yang terbuat dari beton menjulang tinggi di sudut pekarangannya. Aku mendongak ke pucuknya seraya menurunkan kaca mobil. Oh, bagaimana aku bisa salah lihat? Aku mengucek-ngucek mata. Kibaran bendera kuning itu membuat kepalaku menyut.
”Syih?” Bita memanggil. Di muka pagar, ia diapit pasangan suami-istri paro baya yang tersenyum lebar.
Baca Juga: Risiko Memotret Yang Hanya Ada di Permukaan
***
”Ada masalah apa, Syih?” tanya Bita ketika aku berjalan keluar. ”Di hari penting ini kamu tiba-tiba berubah?”
Aku diam, tak tahu harus mulai dari mana.
”Untung Papa ada rapat mendadak sehingga acara kita dipercepat ...”
Aku ingin menyela, tapi urung.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
