
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Dari balik jendela, Ruminah melihat puluhan orang memenuhi jalanan, berteriak-teriak dengan wajah penuh amarah. Beberapa menyulut api pada tumpukan ban bekas yang berserakan, serapah dan ancaman bergema di udara. Di kejauhan, api merambati rumah-rumah pertokoan dan swalayan seberang jalan.
TIBA-tiba terdengar suara pintu dipukul kasar. Bayangan hitam di luar memaksa masuk. Ibu dan Ruminah bertatapan dengan muka pasrah. Kengerian menjalar di tubuh keduanya.
”Bu, mereka datang,” bisik Ruminah, tercekat. Kedua tangannya menekan pintu, sekuat tenaga menahan dorongan dari luar.
”Buka pintunya!!’’ suara laki-laki memaksa. Teriakan itu mengguncang gagang pintu yang nyaris tercabut. Kaca jendela bergetar saat tangan-tangan liar mengetuk keras. Dua bayangan berkelebat di balik jendela.
”Cepat buka atau kami dobrak warung ini!!’’ suara lain berteriak. Di luar, bunyi gaduh kian menggelegar.
Di pelukan Ibu, kau meringkuk memeluk botol susu kesayanganmu dengan sisa isak tangis. Kau mencium napas Ibu yang tak beraturan, dadanya naik turun menyembunyikan ketakutan.
Dengan segenap keberanian, Ibu menghampiri Ruminah yang susah payah menahan pintu. ”Biar saya hadapi mereka, Rum.” Ibu memberi aba-aba agar Ruminah bergeser.
Sedetik kemudian, Ruminah meraih tubuhmu dalam gendongannya. Ibu menyiapkan nyali menghadapi orang-orang beringas yang menunggu mangsanya keluar.
Ibu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Dua lelaki berdiri di hadapannya, wajahnya sangar, tatap matanya liar. Salah satu membawa balok kayu panjang, sementara lainnya memegang karung besar yang setengahnya telah terisi.
”Mau apa kalian?” suara Ibu bergetar. ”Kami hanya pedagang warung kecil. Tidak ada yang bisa kalian ambil. Tidak ada gunanya kalian menjarah di sini.’’
Lelaki dengan balok kayu menyeringai, matanya menyapu ruangan lalu berhenti di wajah Ibu. ”Kami hanya cari orang. Siapa tahu kalian sembunyikan penghuni-penghuni ruko sebelah.”
Matanya menelanjangi seisi warung lalu tertumbuk padamu di gendongan Ruminah. Kau terdiam, tangismu hening.
”Kami tidak sembunyikan siapa pun,” jawab Ibu cepat. ”Kami hanya tinggal bertiga di sini. Kalau mau makan, saya kasih makanan.” Ibu menunjuk etalase berisi lauk-pauk dingin di belakangnya. Belum ada pelanggan satu pun hari ini. Mereka tak bisa disebut pelanggan pertama. Sebab, mereka tidak datang untuk makan.
Lelaki lain dengan karung besarnya masuk, memeriksa tiap sudut warung, menengok ke berbagai sisi.
”Sesama pribumi jangan saling menyusahkan. Tidak ada barang-barang berharga di warung kecil ini,” ujar Ibu, mengikuti lelaki itu. Di satu sudut, Ruminah yang pucat setia menggendongmu erat.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Rapid Vienna vs Hearts: Tuan Rumah Terancam Tumbang di Liga Konferensi Eropa
Prediksi Skor Viking FK vs Dinamo Zagreb: Purgeri Diprediksi Menang Tipis di Norwegia!
Desta Resmi Hengkang dari Vindes, Perusahaan Berjalan Bersama Vincent Rompies
Robot Humanoid Tiongkok Kalahkan Rekor Lari Usain Bolt, Lalu Terbakar
Prediksi Skor AEK Athens vs Levski Sofia di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Tuan Rumah Menang!
Prediksi Skor Celta Vigo vs Osasuna di Liga Spanyol 2026/2027: Los Celestes Bakal Raih 3 Poin!
Prediksi Skor Celje vs Slovan Bratislava di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Berujung Penalti?
Prediksi Skor Lyon vs Fenerbahce di Kualifikasi Liga Champions 2026/2027: Kans Les Gones Menang!
Kiai Ta’in Tebuireng Dipolisikan Jelang Muktamar NU, TAAT Pasang Badan
Prediksi Skor Rapid Wien vs Hearts di Play-off Liga Konferensi Eropa: Tim Tamu Dijagokan Lolos!
