
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Mungkin, setelah ini, akan datang lebih banyak orang yang entah akan diletakkan di mana, simpul Junghwan dibersamai oleh perasaan khawatir. Dan benar saja, sepanjang hari itu seperti parade yang tak berkesudahan. Taksi demi taksi muncul, membawa tubuh-tubuh yang kelak –sebagian besar– diselimuti bendera berlatar belakang putih.
***
Di sebuah unit apartemen yang tak tertata sebagaimana mestinya hunian, Junghwan duduk bersila sambil menatap layar televisi yang menampilkan potongan gambar yang membuatnya mual dan dadanya seketika bergejolak. Siaran berita mengudara melalui suara yang lembut bercampur tegas, memuat laporan mengenai keadaan Kota Gwangju yang semakin membaik, dan segala bentuk perlawanan telah berhasil dipadamkan oleh pihak militer. Namun, Junghwan tahu betul, apa yang ditampilkan di televisi bukanlah kenyataan yang terjadi di lapangan.
Berita pertama yang Junghwan dengar pada pagi itu adalah mengenai warga Kota Gwangju yang melakukan kerusuhan dan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. Hanya saja, tidak ada satu pun dari potongan berita itu yang menyebutkan tentang serangan mendalam terhadap mereka yang meminta haknya, tidak ada suara yang memperlihatkan mengenai korban-korban yang bergelimpangan di tengah jalan, ditembak peluru tajam dan dipukuli menggunakan tongkat berkelir hitam. Tidak ada sama sekali. Narasi pada layar televisi hanya berpusat pada kata ’’kerusuhan”.
Masyarakat Kota Gwangju, yang didominasi para mahasiswa turun ke jalan untuk melakukan protes dan perlawanan. Perlawanan yang didasari oleh rasa muak kepada rezim militer di bawah komando Jenderal Chun Doohwan, yang lahir melalui kudeta terhadap rezim militer lainnya. Rezim yang kemudian menerapkan keadaan darurat militer, menutup kampus-kampus, membatasi pers, melarang beragam aktivitas politik, serta menetapkan jam malam yang melibatkan para tentara.
Para demonstran hanya meneriakkan kebebasan, meneriakkan apa yang seharusnya menjadi hak mereka. Namun, kebebasan dan hak itu tidak hadir seperti aroma sup yang menyelinapdari dapur rumah, tetapi dipaksa keluar dengan gas air mata dan peluru tajam yang menghujani Geumnam-ro melalui tindakan represif para tentara yang tak memahami batas kemanusiaan.
Pihak militer bahkan tak segan mengadang dengan kekuatan penuh. Tank-tank meluncur perlahan di jalan yang sempit, menggilas apa pun yang berada di hadapan mereka; apa pun yang menghalangi mereka.
Kerusuhan Gwangju: Provokator Anti-Pemerintah Memicu Kerusuhan.
Kalimat itu tertulis tebal, persis di bagian bawah layar televisi yang saat ini ingin sekali Junghwan lempar dari jendela unit apartemennya, seolah itu adalah kesan utama yang ingin disampaikan kepada para pemirsa yang sedang duduk di rumah, atau di mana pun mereka berada. Kemudian, kalimat-kalimat yang diucapkan oleh pembawa berita terus mengalir serupa sketsa yang penuh kebohongan, tetapi dipoles dengan cukup baik untuk menutupi darah dan keringat yang menodai kenyataan.
Junghwan meraba dadanya, mencoba meresapi apa yang sebenarnya terjadi. Namun, ketakutan dan kegelisahan seolah telah bersepakat, menyusup dalam-dalam hingga jantungnya berdebar keras. Ia tahu betul bahwa Gwangju sedang dihancurkan. Perlawanan yang belakangan meletus bukanlah sekadar ’’kerusuhan” seperti yang kerap digaungkan media-media yang menghamba pada penguasa. Itu adalah teriakan dari mereka yang tak sudi berdiam diri, yang kemudian dianggap sebagai komunis.
Di ruang sempit itu, Junghwan membuka kaca jendela, menghirup udara yang tak lagi mengenal kata segar, penuh debu dan puing mesiu. Langit tercabik oleh kabut yang kelabu, seperti meniti luka-luka yang tak kunjung sembuh. Di luar sana, para pelajar, mahasiswa, dan siapa pun yang memperjuangkan kebebasan hanya berusaha bertahan. Mereka, yang selama ini hanya menjadi bagian dari cerita yang tak pernah mereka pilih, kini terjebak dalam narasi yang diciptakan oleh para penguasa.
Baca Juga: Andaikata Yogyakarta Punya Museum Sastra
Junghwan tak pernah menjadi sosok yang mencolok, hanya seorang sopir taksi yang hidup dari sisa-sisa keramaian kota. Tapi, pada pagi itu, seperti beberapa hari sebelumnya, ia tahu ada sesuatu dari dirinya akan segera menyeretnya keluar. Bukan sekadar heroisme, tetapi pada rasa malu jika ia memutuskan tetap berada di sana, menjadi saksi diam atas rasa sakit yang tak berwujud yang dihasilkan oleh tirani.
Masih terngiang jelas di telinga Junghwan, kata-kata terakhir seorang mahasiswa yang kemarin diantarnya ke rumah sakit sebelum ajal benar-benar menjemput dalam sunyi di tengah keriuhan ruang gawat darurat. Kata-kata yang juga kerap dilontarkan oleh para pengunjuk rasa lainnya sambil menggantungkan kepalan tangan mereka di udara dengan urat leher yang menegang. Kata-kata yang lebih tajam dari butir peluru dan lebih perih dari gas air mata: ’’Kami, rakyat Gwangju, lebih suka mati berdiri daripada harus hidup berlutut.” (*)
---

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
