
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
Ketika akhirnya Belanda benar-benar pergi, ayahnya menjadi murung dan sering duduk di teras rumah di setiap malam, di akhir tahun 1950 yang kelam. Hatinya terpukul. Mulutnya tertutup rapat dengan riak rasa tembaga di antara lidah dan kerongkongannya, meratapi kekalahan Belanda dan dirinya sendiri. Pandangan matanya tajam menembus langit yang gelap, namun ia tak terhubung apa-apa kecuali rasa putus asa dalam bayang-bayang malam. Tapi sebenarnya, pukulan yang paling menyakitkan datang dari dua anaknya sendiri yang menyebutnya sebagai pengkhianat. Salah satu kakaknya bicara keras saat itu, seperti lupa siapa yang dimakinya secara kasar. Selama dua bulan hatinya sakit oleh darah dagingnya.
”Kalian itu cuma kencingku!” teriak ayahnya murka. Suaranya bergetar menahan tangisan. Dan faktanya, ayahnya memang menangis.
***
Di bulan Desember, penderitaannya pun berakhir. Ibunya sendiri yang menemukannya mati gantung diri di teras saat pagi, dengan tali tampar berwarna cokelat yang kasar. Ketika tamparnya dilepas, lehernya terluka seperti digorok. Ayahnya menulis pesan di kertas dalam bahasa Belanda. Isinya: ”Ik volg Vincent liever naar het hiernamaals dan een ongehoorzaam kind te ontmoeten.” Artinya: ”Lebih baik saya menyusul Vincent di alam baka daripada bertemu anak durhaka.”
Ibunya meraung, masuk kamar dan terluka. Meratapi suaminya hingga beberapa waktu. Kromo mengurus jasad ayahnya dengan beberapa pembantunya. Dua kakaknya pulang seminggu kemudian setelah mendapatkan kabar. Wajah mereka menunjukkan duka, tapi sehari setelah itu, keduanya bertengkar karena berdebat tentang siapa yang lebih pantas mengurus republik. Ibunya melerai, menarik dan mendorong keduanya keluar rumah, dan menampar salah satunya.
”Dengarkan,” kata ibunya, ”sekarang kalian sudah lebih dari tiga puluh tahun. Jangan bicara politik di rumah. Bapakmu mati menderita karena kalian. Jika tak bisa diam dan menghormati bapakmu, kalian pergi dan jangan pernah menyentuh rumahku!”
Saat itu Kromo melihat mereka terdiam. Mata kakaknya menatap ibunya dengan berlinang, kemudian melihat Kromo yang berdiri tegang. Lalu dengan muka merah, keduanya pergi tanpa berpamitan. Beberapa waktu kemudian, ibunya mendengar dua anaknya itu masuk penjara karena politik. Setelah semua kejadian itu, ibunya tak ingin melihat matahari. Dia mengurung dan murung di dalam kamar selama beberapa waktu, sebelum kemudian pergi menyusul suaminya. (*)
---
RANANG AJI SP, Penulis fiksi dan nonfiksi, saat ini tinggal di Magelang

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
