Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 September 2024, 17.57 WIB

Tukar Guling

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

”Tidak. Cukuplah dia menganggapmu sebagai ibu satu-satunya tanpa tahu status dan keberadaanku. Tak perlu kauceritakan siapa diriku.” Aku menggeleng lemah, memilih numpang di rumah teman yang sama-sama baru dibebaskan dari penjara.

”Dia sudah besar. Sudah kelas lima. Aku yakin bisa memahami tindakanmu waktu itu,” desaknya, namun kembali kubalas dengan gelengan kepala.

Tentu kau bukan lagi bocah mungil yang kutinggal bertahun-tahun silam. Sudah tujuh kali Lebaran kugemakan takbir dan doa di bilik jeruji, selama itu pula kularang dia membawamu mengunjungiku agar kau tak pernah melihatku bergelang besi. Biar kerinduan kutanggung sendiri walau menjadi tikaman paling nyeri. Cukup kudengar kabarmu dari jauh. Aku hanya berharap kau melupakan peristiwa malam itu. Menghapusnya dari jejak memorimu. Sudah kuminta bibimu untuk membawamu pergi ke luar Madura. Melupakan masa lalu maupun ayahmu.

Seandainya bisa, aku pun ingin melupakan peristiwa itu. Melupakan tanggal muda yang ganjil, ketika tiba-tiba ayahmu kembali selagi matahari masih kuning rekah dan air seduhan kopi belum dijerang. Padahal biasanya dia pulang setelah kelelawar mulai meninggalkan dahan tempat bergelantung sepanjang siang, dan tidurmu sudah mirip kucing kekenyangan.

Aku sedang mengangkat pakaian dari tali jemuran ketika dump truck-nya memasuki gerbang pagar dengan kaca agak buram, dan kau sibuk bermain gundukan pasir di bawah pohon mangga, di sudut halaman. Raung mobil dan asap knalpot seolah menguluk salam. Kaus kecut dan syal handuk yang lembap sudah menjadi teman kepulangan. Senada dengan celana kotor dan wajah lusuhnya yang berleleh peluh.

Buru-buru kubereskan jemuran dan segera ke dapur.

”Nanti malam temanku mau ke sini,” seraya mengeringkan rambut dengan handuk sehabis mandi. Wangi Sunsilk terendus samar.

”Siapa?” meletakkan kopi mengepul di atas meja.

”Yang Lebaran kemarin main bersama istrinya,” melemparkan handuk ke sandaran kursi. Kebiasaan yang tak kunjung berubah meskipun sudah berulang kali kuminta untuk menyampirkan ke tempatnya.

Aku teringat pada temannya sesama sopir yang memiliki istri berwajah putih dan lekuk-lekuk tubuhnya tampak jelas dalam balutan baju ketat-elastis dan berleher lebar. Bahkan aku sempat memergoki ayahmu sering melirik perempuan itu.

Mereka juga membawa anak lelakinya, sekitar dua tahun lebih tua darimu, memegang kapal-kapalan berbahan kayu.

”Datang bersama istrinya lagi?” menyembunyikan sulur-sulur kecemburuan yang kembali tersulut.

”Mungkin sendiri. Kau beli saja lepet di warung, dia lebih suka barang berbungkus daripada pisang goreng,” tersenyum menyimpan arti, dan aku mulai memahami senyum itu setelah temannya datang sebelum azan Isya berkumandang dan matamu sudah merem-merem ayam di kamar.

”Ayo, masuk!” sambut ayahmu di depan pintu dengan tubuh sudah disemprot parfum.

Kemeja kotak lengan pendek yang dikenakan memberinya isyarat kalau dia tidak akan bersantai di rumah.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore