Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 15 September 2024 | 14.27 WIB

Jarum Jaran Jamudin

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)

Shalawatullah ’alayka

Hari ini pengajian Maulid Nabi sekaligus reuni alumni. Aku sudah di lokasi acara yang dihadiri ribuan santri dan alumni pesantren tempatku dulu belajar ini. Dua minggu lalu aku mengirim uang ke Kang Syukri, santri senior yang kini jadi ustad dan ketua panitia, agar dia membelikanku sepuluh ekor sapi juga kebutuhan lain untuk acara tahunan ini. Aku tinggalkan Jakarta sejenak meski setelah acara aku harus kembali untuk menemui beberapa pengusaha migas demi membahas strategi pemenanganku nanti.

Alhamdulillah, aku bisa datang ke perayaan ini lagi. Terkenang masa kanakku dulu aku dan kawan-kawan sepermainan sering berebut berkatan saat para tetua menyelenggarakan maulidan di surau kampung kami. Para pemuda menyiapkan ancak berisi bebuahan. Telur-telur ayam rebus mereka tusuk dengan tusuk sate yang ujungnya diberi pita atau kertas warna-warni, lalu mereka tancapkan di batang-batang pohon pisang yang sudah dihias. Ibu dan kaum perempuan menyiapkan aneka jajanan seperti nagasari, serabi, dan bikang. Aduhai, aroma tepung juga gula dan santan serta adonan lain dalam kukusan dan cetakan, terhidu dalam-dalam, menghangat kenangan dalam ingatan.

***

”Kalau di pesantren kau mencuri jarum, saat boyong nanti kau akan mencuri jaran.”

Ibu mewanti-wanti ketika melepasku di gerbang pesantren pagi itu. Kalimat itu, juga suara dan wajah ibu, melintas dalam batinku meski 26 tahun berlalu. Ah, andai saja kupegang pesanmu, Ibu.

Aku yang di masa kanak dulu tiap magrib berangkat ke surau Guru Idris untuk mendaras Quran, saban sore pergi ke madrasah Ustad Hamdani untuk belajar ilmu wudu dan sembahyang, lalu enam tahun jadi santri di pesantren Kiai Tamam, kini aku justru sesak dalam lapang serta gelap dalam terang.

Ingatan melemparku ke masa silam. Saat di pesantren aku pernah memakai uang organisasi murid intramadrasah, namun tak sempat kukembalikan. Hanya tujuh puluh ribu rupiah, lalu yang kedua dan ketiga menanjak tiga ratus dan lima ratus ribu. Awalnya kuberikan uang itu kepada Saiful dan beberapa kawan santri yang kelaparan karena telat kiriman dari orang tuanya. Aku tak pernah memberi tahu mereka itu uang apa, milik siapa, dan dari mana. Tapi lama-lama, uang organisasi pelajar di pesantren kami itu kupakai sendiri, kupakai beli buku-buku ketika beberapa penerbit di Jogja membuka bazar di pesantren kami.

Pernah pula kupetik mangga kiai yang bergelantung matang di depan kamar, yang kepada kami seakan melambai-lambai. ”Ilmunya saja kiai ikhlaskan, masak mangganya tidak?” ucap Riswan, kawan sekamarku yang mengawali makan buah ranum itu. Meski ragu, tapi mau, aku pun mengikuti bujukannya. Ah, Riswan, terakhir menghubungiku dia berkabar, kini dia jadi mandor perusahaan batu bara di Kalimantan milik seorang jenderal purnawirawan.

Lulus madrasah aliyah di pesantren aku kuliah ke Jogja. Sejak masa orientasi pengenalan kampus, banyak kakak kelas membujukku masuk organisasi gerakan mahasiswa yang mereka ikuti. Karena butuh teman dan pengalaman, aku pun ikut pelatihan dasar bagi anggota baru organisasi itu. Tahun-tahun pertama kulalui hari-hari penuh diskusi dan demonstrasi. Dari diskusi-diskusi itu pula kami melakukan pembacaan kritis yang hasilnya kami jadikan tuntutan saat berunjuk rasa. Unjuk rasa itu awalnya di dalam kampus, pindah ke bundaran di jalan utama depan kampus, lalu ke gedung DPRD provinsi dan gubernuran hingga ke perempatan Titik Nol Kilometer Malioboro. Ya, titik yang biasanya kaupilih untuk ber-selfie ria, dengan latar gedung BNI peninggalan kolonial Belanda, saat kau berlibur ke Jogja.

Semuanya wajar-wajar saja sampai masuk tahun kedua. Aku dan kawan-kawan seangkatanku harus menjadi panitia orientasi studi dan pengenalan kampus. Pada saat yang sama, di organisasi gerakan kemahasiswaan yang kami ikuti, kami dapat giliran jadi panitia penerimaan anggota baru. Orientasi kampus dibiayai dengan uang kampus. Latihan kader baru organisasi dibiayai dari mana-mana. Pelan-pelan aku tahu, yang dimaksud ”dari mana-mana” ternyata tak hanya dari alumni organisasi kami, tapi juga dari uang orientasi kampus yang harus kami simpankan khusus untuk acara itu. Dengan petunjuk para senior yang terhormat, kami pun beraksi. Toh ini pemberdayaan mahasiswa juga, bukan untukku pribadi. Saat itu, kami amankan empat juta rupiah. Tentu saja kami menggelembungkan harga atau biaya dalam laporan pertanggungjawaban. Kami minta nota kosong setiap membeli atau membayar berbagai kebutuhan.

Aku terus aktif di organisasi gerakan mahasiswa hingga aku mencalonkan diri sebagai ketua umumnya di tingkat kepengurusan cabang. Aku kalah. Sainganku, Darman, kawan seangkatanku yang menang. Karena dia bermodal uang, sedangkan aku hanya bermodal visi-misi. Sebelum dan setelah menang, Darman mentraktir orang-orang berpengaruh di organisasi kami di satu diskotek terkenal di Jalan Magelang. Kemudian aku banting setir mencalonkan diri sebagai presiden badan eksekutif mahasiswa di kampus. Aku menang karena modalku tak lagi sekadar visi-misi.

Di momen ini aku belajar trik pemenangan, lebih tepatnya trik kecurangan. Teman-temanku memilok tembok-tembok kampus dengan ujaran kebencian terhadapku. ”Jamudin anjing!”; ”Jamudin aktivis bayaran!”; ”Gerakan Mahasiswa, Yes! Jamudin, No!”; ”Jamudin aktivis eceran!” atau ”Jamudin budak rektorat!” Semua itu mereka lakukan agar para mahasiswa calon pemilih menduga pesaingkulah dalang vandalisme itu. Aku menang. Tentu saja kupakai juga cara Darman.

Aku mulai sibuk dan jaringanku makin luas sejak menjabat presiden mahasiswa. Kebiasaanku menyimpan sisa uang acara masih kuterapkan. Bedanya, kini tak hanya buat organisasi, tapi aku juga memakainya untuk keperluanku sendiri dan untuk membayari biaya nongkrong teman-teman yang dulu memenangkanku. Aku juga sering dapat transferan untuk demonstrasi yang kugelar. ”Uang lelah buat ngopi-ngopi,” kata pengirimnya. Uang itu ternyata bisa kubuat beli motor dan liburan ke Bali.

Tuntas jabatanku di kampus, aku lulus kuliah meski nilaiku pas-pasan. Kang Marijo mengajakku ke Jakarta. ”Karena kau tak bisa menjual nasab, kau harus ke Jakarta untuk memperbaiki nasib,” ucap seniorku di organisasi gerakan mahasiswa itu saat kereta kami sampai di Stasiun Pasar Senen. Kang Marijo membawaku ke kantor Departemen Kemakmuran Keluarga milik satu organisasi kemasyarakatan yang oleh kawan-kawan dipelesetkan jadi Departemen Keluh Kesah. Di sini banyak sarjana muda dari berbagai kota dan kabupaten yang seorganisasi mahasiswa denganku, yang sama-sama berkeluh kesah menunggu remah-remah proyek dari para senior kami di berbagai instansi negara.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore