
ILUSTRASI. (BUDIONO/JAWA POS)
”Bagaimana bisa ia berurusan dengan mesin-mesin abstrak, konstanta bahasa formal, dan tentu saja grammar atas dasar postulat dan hipotesis tertentu.”
Sebagaimana profesor, aku pun ikut menggeleng.
”Automata sang dewa bahkan terbuat dari emas, Prof.”
Cting! Notifikasi hologramku masuk. Pusat Sibernetika baru saja mengonfirmasi kenyataan yang sungguh pahit kuterima. Bahwa Fillia Killick berakta pembuatan tujuh belas tahun yang lalu. Oh, bagaimana profesor merekayasa riwayat dan memoriku sehingga aku tak curiga sedikit pun. Bagaimana mungkin aku berbicara dengan pembuatku tiga tahun setelah aku didaftarkan ke Departemen Kependudukan Versis (dulu Robot Humanoid namanya).
Aku meraba-raba sekujur tubuhku. Aku memandang lepas ke halaman rumahku yang dipenuhi lampu-lampu yang mengambang oleh infra atom. Aku mencoba mengingat banyak hal. Makin banyak yang kuingat, makin kuyakin bahwa semuanya adalah rekayasa sensorik. Aku meragukan diriku, meragukan muasalku.
”Ada pertanyaan?”
Rupanya petugas hologramik masih belum beranjak dari hadapanku.
”Bagaimana dengan Ujang Killick dan Ilut?”
”Anda pernah melihat mereka?”
Aku mengangguk. ”Mereka orang tuaku.”
”Ibu Fillia, memori buatan dalam diri Anda yang bilang begitu. Bukan fisik, bukan psikologis.”
”Berilah aku akses ke Badan Kesehatan Sibernetika.” Ya, bukan rahasia lagi kalau rumah sakitnya robot itu hanya bisa diakses oleh mereka yang masih punya hubungan dengan petinggi negara atau Konsorsium Versis.
”Dipertimbangkan.” Lalu hologram itu padam seperti asap yang lenyap dalam sekali tiup.
Baca Juga: Perkara No 6.1/Pdt.G/2023
Kini aku merenung. Merenung? Tidakkah itu hanya bisa dilakukan oleh manusia, bukan robot? Benarkah aku versis? Ah, tidak. Selama ini aku kerap dikucilkan oleh teman-temanku karena mereka menganggapku seorang paranoid terhadap robot. Dan kini, aku sungguh berat menerima bahwa aku juga versis. Meskipun, ya meskipun, selama ini, sebelum kenyataan itu menyala-nyala, aku masih bisa hidup baik-baik saja. Dengan penuh gairah. Dengan kesedihan. Dengan macam-macam ekspresi dan keadaan. Aku sangat manusia. Kalaupun hasil pemeriksaan Badan Kesehatan Sibernetika nanti memvonis aku robot humanoid, aku ikhlas. Ikhlas karena tak ada pilihan. Tah selama ini, selama versis dan manusia hidup berbaur atas nama multiversisme dan muktikulturalisme, aku masih baik-baik saja.”

Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
21 Rekomendasi Tempat Makan Dekat Stasiun Bandung, Kuliner Terbaik yang Cocok Saat Lagi Transit
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Pemkot Surabaya Buka Suara Terkait Rencana Penertiban Pasar Koblen
20 Tempat Makan Paling Recommended di Semarang, Banyak Pilihan Menu Kuliner yang Memanjakan Lidah
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
