”Saya bawa sekarang ya. Semoga cepat laku.”
”Ya. Semoga…. Kalau laku, boleh membawa patung yang lain.”
”Ini mau dijual berapa?”
”Tawarkan saja lima juta. Harga pasnya empat juta. Untuk kamu nanti 30 persen. Lumayan kan,” kata si pematung. ”Ini saya bantu uang jalan dan uang makan 100 ribu per hari. Ini untuk tiga hari,” tambahnya sambil membuka dompet dan memberikan uang 300 ribu kepada perempuan muda itu.
Perempuan muda itu merasa gembira. Gampang sekali mendapatkan uang, pikirnya. Ia lantas menerimanya dengan wajah berbinar-binar.
***
Sejak hari itu si penjual jamu gendong berganti profesi menjadi penjual berhala. Ke mana-mana ia memanggul berhala dan menawar-nawarkannya kepada orang-orang. Terutama orang-orang bermobil, yang dijumpainya ketika keluar dari mobil yang diparkir di depan toko atau tempat parkir swalayan. Berhari-hari, siang malam. Dari pertokoan ke pertokoan. Dari swalayan ke swalayan. Karena sering keluar masuk area parkir swalayan dan pertokoan sambil memanggul berhala, ia dijuluki sebagai ”perempuan pemanggul berhala”.
Tetapi, ternyata di masa pandemi tidak gampang menemukan peminat berhala itu. Suatu sore, karena kelelahan, ia merasa harus beristirahat di depan deretan pertokoan yang sebagian besar tutup karena pandemi. Ia memilih duduk di depan toko roti yang tutup dan meletakkan berhala itu di sebelahnya. Karena sangat mengantuk dan kelelahan sehabis memanggul berhala seharian, perempuan itu lantas tertidur.
Ketika terbangun hari pun sudah gelap. Sayup-sayup terdengar suara azan. Ia menduga itu azan Isya. Suasana di sekitarnya saat itu remang-remang karena toko-toko itu tidak menyalakan lampu. Cuma ada lampu jalan, lampu mercuri bercahaya kekuningan yang menerangi area tempat duduknya. Di jalanan, ada satu dua pejalan kaki dan mobil yang lewat. Suasana Jakarta sangatlah sepi.
Tiba-tiba perempuan itu ingat berhalanya. Tangan kanannya meraba ke sebelah, ia gembira berhalanya masih ada. Tapi, ia sangat terkejut ketika melihat lebih lanjut ternyata kepala berhala tidak ada. Kepala berhala itu hilang. Ia berdiri, mengucek-ucek mata, dan mengangkat berhala itu ke arah lampu-lampu. Dan, benar saja, kepala berhala itu hilang.
”Siapa yang mengambil kepala patungku? Kurang ajar!” hardiknya.
Baca Juga: Sepak Bola dan Membaca
Perempuan itu meletakkan berhalanya lagi, lalu melihat sekeliling. Tak ada siapa-siapa yang mencurigakan. Ia memeriksa trotoar di sekitar berhala itu, barangkali kepala berhala menggelinding di dekatnya. Juga tak ada benda-benda yang menandakan sebagai kepala berhala.
”Aneh, kepala patung kok bisa hilang. Bagaimana cara orang memutusnya,” pikirnya.
Perempuan itu lantas berjalan bolak-balik di depan kompleks pertokoan mencari kepala berhalanya yang hilang sambil memanggul berhala tanpa kepala itu. Ia telusuri trotoar jalan yang dilewatinya. Ia juga menanyai setiap orang yang ditemuinya di jalan.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
