
ILUSTRASI
Sebenarnya Pemuda K juga sudah tahu kontradiksi semacam ini. Tapi, dia tetap saja gigih mencari bong China lawas, bahkan sampai ke kota-kota lain. Sering aku duga itu karena kuatnya rasa identitas yang dia miliki, meski tak jarang aku kira dia punya motif tertentu. Sempat aku terkejut soal fasihnya dia menguraikan tafsir gambar fajar pakong, permainan yang kurang lebih mirip togel. Kukira itu bercanda, tapi tatapannya yang menyala saat menjelaskan bikin aku bertanya-tanya. Apakah dia blusukan buat cari pesugihan?
Hingga pada suatu malam, barangkali sekitar awal tahun berikutnya, aku membaca sebuah berita dari linimasa media sosial, Pemuda K telah berpulang. Hatiku serasa mencelos. Tanpa kabar, tiada pertanda, seseorang yang mengaku adiknya mengunggah kabar itu lewat story akunnya.
”Apa enggak terpikir untuk menetap di kota ini?” sekali aku pernah bertanya.
”Kayaknya enggak. Di mana-mana, selama aku kerja berpindah-pindah, di Bali, Jakarta, Bandung, semua rasanya sama aja. Malah mungkin kalau tinggal tetap di sini lebih berat, ya. Kan, ada pembatasan buat warga peranakan.”
Aku mengangguk dan mengerti apa maksudnya.
”Yang aku pikirkan malah nanti kalau sudah mati, akan gimana? Aku enggak mau seperti makam-makam tua itu. Syukur ada keluarga yang ingat dan mau merawat, makamnya jadi tampak cantik. Bersih. Aku enggak mau seperti makam kakekku di Banjar, kampung halamannya…” ada jeda dalam ucapannya, sesuatu agaknya baru saja melintas dalam pikiran dan membuatnya tersendat. Namun, dia mengalihkan obrolan itu dengan canda. ”Lucu deh. Mau hidup susah, matinya sama aja. Kalau kuburannya enggak telantar, ya, dijajah sama mereka yang masih hidup.”
Kabar lain pada unggahan itu menerangkan sesuatu yang membuatku terenyak, sekaligus menitikkan air mata. Pemuda K memilih wasiat kremasi tabur abu di deburan ombak Pantai Selatan.
”Marga yang aku pakai ini adalah marga kakekku sebelum beliau di-kwee pang. Aku ingin mengingat asal muasalku dengan cara ini. Aku terlahir dengan marga yang baru, tapi aku tidak pernah merasa jadi bagian dari mereka. Di saat yang sama, aku tidak mungkin membaur dengan keluarga marga lama ini. Aku merindukan sesuatu yang bisa aku panggil rumah, yang bisa aku sebut keluarga…” aku teringat sekutip kalimat di sebuah perjalanan kami.
Aneh sekali, saat mengenangkannya, aku hanya memikirkan tentang hidup. (*)
---
NI MADE PURNAMA SARI, Lahir di Bali 1989. Beberapa buku karyanya adalah Bali-Borneo (puisi, 2014), Kawitan (puisi, 2016), Kalamata (novel, 2016), dan Yang Menari dalam Bayangan Inang Mati (novel, 2022).

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
