
ILUSTRASI
Saat kami menaiki tangga batu ke kuburan Tan Jin Sing, seorang kapitan China di Jogja pada 1803–1813, berlokasi sekitar Madukismo, aku mendapati betapa hidupnya kawasan itu dengan aneka rupa tumbuhan. Begitu juga serangga. Nyamuk silih berganti menusuk kulit kami, sebagaimana semut beriringan di sela rerumputan. Kenyataan-kenyataan itu membangkitkan kerinduanku akan alam semesta, sesuatu yang selama ini luput dihayati karena begitu terperangkap ketakutan dan kecemasan akan kematian.
Makam Tan Jin Sing sendiri tampak teduh di atas bukit. Kami tidak bisa memasuki kompleksnya lebih jauh, apalagi sampai menyentuhnya. Ada gembok terkunci di pintu. Berbeda dengan Pemuda K yang dilingkupi penasaran akan rangkaian huruf pada nisan –adakah tertulis di situ nama-nama sanak keluarganya– diriku lebih diresapi perasaan lengang. Berkebalikan dengan hidupnya segala hayati di sekitar, makam yang berpagar itu menerbitkan tanda tanya: kuburannya terbilang luas dan kenyataan bahwa kami tak dapat menjenguknya, menggambarkan kematian sunyi yang ditakdirkan kepadanya, bahkan sekian abad setelah dia meninggal.
***
Sedikit demi sedikit aku pun mengetahui siapakah sebenarnya Pemuda K ini, dan mengapa dirinya sedemikian terobsesi pada makam-makam kuno. Kami tidak bepergian setiap akhir pekan, tapi selalu dalam kesempatan menjelajah itu, entah ke wilayah seperti Bintaran, sepanjang lembah Kali Code tempat dahulu pemakaman Tionghoa berada dan kemudian tergusur, sampai ke dusun-dusun lain, dia mulai membuka sejarah masa lalunya.
Ada kegetiran yang terselip saat dia menceritakan betapa miskin orang tuanya. Seakan-akan segala kekurangan itu adalah buah kutukan dari generasi ke generasi: buyutnya tidak sanggup membiayai hidup anak-anaknya, terpaksa melepas kakek Pemuda K untuk di-kwee pang atau diangkat anak oleh salah satu kerabatnya. Itu pun tidak serta-merta mengikis persoalan sebab secara turun-temurun keluarga ini masih terbelit masalah uang. Aku tidak jelas bagaimana persisnya, tapi cara Pemuda K mengisahkan pengalamannya semasa kecil yang sangat bergantung ke sanak famili memberikanku kesan bahwa hidup yang dia alami ibarat menumpang dari satu sekoci ke sekoci lain. Bukan menumpang, barangkali. Dia menyiratkan yang lebih pahit: menjadi parasit dari satu keluarga ke keluarga lain.
”Kalau ada yang bilang orang Tionghoa itu kaya semua, itu salah,” pernah dia berujar sengit. ”Tinggal sama keluarga sendiri ternyata tidak lebih baik. Sekalinya dianggap orang luar, selamanya akan begitu. Kebayang kan, Mbak, rasanya dianggap asing oleh saudara sendiri?”
Aku yang tidak memahami betul nuansa kekerabatan warga peranakan hanya bisa bersimpati. Ada keraguan juga yang hinggap di hatiku, terlebih sering kali aku dapati kisah-kisah serupa terjadi di keluarga yang lain, tanpa peduli apa latar bangsanya. Memang ganjil rasanya, ketika kita memikirkan siapa yang mungkin kita anggap dekat. Keluarga, atau di luar itu? Saudara sedarah, atau sahabat sepenanggungan?
”Egois sekali para orang tua yang hanya memikirkan bikin anak, tapi tidak berusaha untuk menghidupi mereka. Kalau enggak sanggup biayai, lebih baik tidak punya anak, kan? Atau sekalian tidak menikah,” ketusnya.
Kelihatannya peran yang aku mainkan dalam hidup ini, setidaknya dalam babakan pertemuanku dengannya, lebih sebagai pendengar. Karena itulah aku acap menyimak, kendati tidak serta-merta menyampaikan persetujuan. Ada suara dalam diriku yang berkata bahwa segala situasi tak mungkin disederhanakan dalam satu atau dua baris kesimpulan.
***
Aku tidak mendengar kabar darinya sejak pertengahan tahun itu. Juga, tak tebersit niatan buat menanyakan keadaannya. Pertemuan awal sebagai ajakan berkongsi tidak mewujud sesuatu apa pun sehingga tak ada kepentingan bagiku untuk berkomunikasi lebih lanjut. Kehidupan memang unik. Pertemanan yang terjadi sama lekasnya dengan pudarnya jalinan itu.
Begitu pula aku tidak memikirkan soal kematian, makam, ataupun nisan. Ketakutan yang dulu melingkupi semasa pembatasan pandemi agaknya menguap seiring laju kehidupan kota yang kembali seperti mula. Mereka yang meninggal ternyata berujung menjadi angka-angka statistik. Sebagaimana rakyat dan prajurit yang terlupakan di lereng bukit makam Kapitan Tan Jin Sing –deretan pekuburan tak bernama dengan patung liong yang retak, altar Dewa Bumi yang hilang, dan sisa wangi dupa persembahan kaum pejudi nomor butut yang mengharap wangsit di makam-makam tua.
Kadang kala aku mengenangkan situasi di makam-makam Tionghoa lain yang kebetulan kami jumpai. Di sekitar Bintaran, misalnya, sepanjang daerah aliran Sungai Code, kami menemui seorang ibu yang semasa kecilnya bermain-main di area bong China, seputar tahun 1970-an. Dia mengingat dua peristiwa sekaligus, yaitu megahnya kawasan pekuburan itu dan padatnya permukiman selepas kompleks itu digusur. Dia menunjukkan kepada kami sisa-sisa beton pemakaman yang tertanam jadi dinding sebuah rumah.
Atau ketika kami menyusuri gang-gang di pinggiran Kali Winongo dan terheran-heran melihat nisan yang bersisian dengan sebuah dapur. Ada tali jemuran membentang di atasnya, menampilkan barisan pakaian yang menjuntai dibelai angin. Apakah ini bekas makam, atau tidak, begitulah kami bertanya. Dan, jawaban yang mengejutkan kami terima dari si pemilik rumah, ”Tidak, ini makam beneran.”
Sungguh aku berharap semua itu hanyalah suatu kisah fiksi. Sebuah khayalan tentang hidup dan mati. Dalam tradisiku, hidup dan mati ialah dua hal yang sama-sama sakral serta diperingati melalui serangkaian upacara ritual. Bahkan setiap hela napas mewakili proses kosmik yang menjiwai seluruh alam semesta. Ganjil rasanya saat mengetahui betapa mereka diperlakukan sedemikian banal.

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
15 Rekomendasi Restoran Terbaik Dekat Tugu Muda Semarang: Surganya Kuliner yang Wajib Dicoba Pelancong dan Wisatawan!
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Jadwal Thomas Cup 2026 Indonesia vs Aljazair, Siaran Langsung, dan Live Streaming: Laga Perdana Wajib Menang!
