
ILUSTRASI
”Kalau saya maju kepala desa, inilah salah satu caranya,” ketusnya.
Istrinya bersungut-sungut kecil dari dalam bilik. Lelaki itu merasa perempuan itu memakinya. Dan dia mengeluarkan makian yang paling kejam dan suaranya sebesar lolong anjing. Dia seperti hendak menyayat gendang telinga istrinya. Antoneta pun menangis, dan sambil terisak berpesan bahwa lelaki itu dapat pergi asalkan pulang duluan.
Sejak masuk pesta hingga sepanjang jalan pulang itulah dia berusaha melupakan perselisihan tersebut. Tetapi wajah istrinya yang lusuh dengan mata bengkak terus saja terbayang. Arak kampung tak membuat pikirannya tenang. Jalanan gelap semakin menambah perasaan kalut.
Itu terjadi sebelum tenggorokannya berderit. Sebuah serangan kilat yang mencuri kesadarannya, dan memutuskan secara total seluruh ingatannya. Dia kini menumbuk tanah lantas merembeskan darah ke tanah.
***
”Kau bukan orang yang lahir di kampung ini,” Antoneta Wisang berkata ke suaminya. Keduanya berseloroh di belakang rumah, mengobrol seperti rapat partai, seminggu sebelum tung piong di kampung besar.
”Saya akan mengalahkan keluarga tuan tanah,” ucap lelaki itu.
Dia tahu, istrinya sejak awal menolak rencananya. Perempuan itu memegang teguh adat leluhur. Itu bertentangan dengan ilmu yang dia dapatkan waktu di seminari –saat misionaris Belanda masih mengajar dan kerap mencela penduduk yang menggemari urusan mistis. Namun, dia bukan lagi calon pastor Katolik dan telah terbebas dari kaul. Bagaimanapun dia membutuhkan pertimbangan istrinya.
”Kau harus pergi ke lepo gete dulu,” tutur Antoneta.
”Ritus itu membuang-buang waktu,” lelaki itu menghardik.
”Kita datang untuk meminta restu.”
”Saya tidak butuh restu, tetapi surat suara.”
Keduanya mulai berdebat. Istrinya kerap berceloteh seperti burung hantu, dan lelaki itu menjadi cepat tersinggung ibarat hantu sungguhan. Perkataan perempuan itu salah semua di hadapan lelaki yang bicaranya rumit.
”Sebaiknya kau bekerja menjadi guru agama,” saran istrinya suatu ketika.
”Kauanggap remeh saya?”

Dana Desa Terpangkas untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Infrastruktur Sebagian Desa di Tulungagung Tak Sesuai Rencana
12 Spot Kuliner Bakso di Bandung yang Terkenal karena Tekstur Dagingnya yang Juara
Kabar Gembira! Gubernur Banten Resmi Hapus Pajak Kendaraan Bermotor, Ini Syaratnya!
10 Spot Mie Kocok di Bandung Terenak, Kuliner Khas dengan Kuah Kental dan Bumbu Tradisional
12 Restoran Seafood Terenak di Bandung, Surganya Kuliner Laut yang Tak Pernah Sepi Pengunjung
15 Kuliner Bakso di Solo yang Selalu Jadi Incaran, dari yang Paling Legend hingga yang Kekinian
Resmi Pindah ke Bali! Derby Jawa Timur Arema FC vs Persebaya Surabaya Digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi Sebut Ada 3 Lokasi untuk Pembangunan Koperasi Merah Putih
18 Rekomendasi Sarapan Pagi di Bandung Paling Sedap, Sederet Kuliner Mantap yang Wajid Disantap
Lawan Arema FC Laga Terakhir Bruno Moreira? Intip Akhir Kontrak Kapten Persebaya Surabaya
