Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 11 Juni 2023 | 15.59 WIB

Selepas Buhaji Pergi

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Dari kecil mereka diberi pakaian layak, disekolahkan, diajari cara mencuci dan memasak. Bila beruntung dan sangat cekatan, mereka akan dapat lahan dekat rumah Buhaji secara percuma untuk membangun rumah sendiri. Semua tidak lain akan kembali pada Buhaji dan anak-anaknya. Anak-anak angkat itu tidak pernah memiliki diri mereka sendiri.

Sementara semua anak kandung Buhaji tinggal merantau. Anak pertama, kedua, dan ketiga tinggal di kota S, anak keempat di kota D, dan anak bungsunya di kota P. Mereka menjalani kehidupan bersama anak dan suami atau istri dengan tenang. Setiap bulan akan mengirim uang yang tak seberapa pada Buhaji, untuk biaya sehari-hari dan upah bhareng yang menginap di rumah Buhaji.

”Rumah ini nanti aku saja yang tempati,” si anak bungsu unjuk gigi.

”Enak saja. Lebih baik dibiarkan kosong. Siapa saja dari kita yang datang berkunjung boleh menginap di sini,” ujar anak pertama yang rutin menengok sebulan sekali.

”Tapi kalau rumah ini terlalu lama kosong, nanti dihuni jin,” anak ketiga menolak usul itu dengan hati-hati.

”Nanti kan ada Atun sama Tutik yang bisa ke sini setiap hari, buat buka jendela waktu pagi dan ditutup menjelang magrib. Disapu seminggu dua kali juga sudah cukup.” Si anak keempat yang tinggal paling jauh di kota D adalah anak yang paling banyak mengirim uang bulanan kepada Buhaji. Semua permintaan Buhaji hampir selalu dituruti oleh anak keempat ini.

Aku mendengarkan sambil mengernyit, menghentikan bunyi centong dan gelas yang berbenturan karena menuang es kelapa. Anak kedua tak banyak bicara. Pernah dia berkata pada ibuku bahwa sebagai sesama perempuan, dia tahu rasanya kelelahan mengurus Buhaji.

Dia juga pernah mencoba membawa Buhaji tinggal di kota S bersamanya. Rasa lelahnya bertambah jadi tiga kali lipat karena dia juga harus berusaha membuat Buhaji betah dan bekerja sepanjang hari. Tanpa bantuan pekerja rumah tangga dan anak-anak angkat yang selama ini menuruti setiap perintah Buhaji, dia merasa tak sanggup.

Meskipun santer terdengar ungkapan ”satu ibu sanggup mengurus sepuluh anak, tapi sepuluh anak belum tentu sanggup mengurus satu ibu”, untuk kasus Buhaji aku bisa menjamin semua anak kandung dan angkatnya pasti tetap akan merasa kelimpungan mengurus Buhaji.

Aku tahu. Akulah yang selalu menemaninya sepulang sekolah dan tidur di sampingnya hingga usiaku 17 tahun. Namun, aku juga yang akan jadi sasaran omelan ibuku jika di hari-hari besar aku duduk bersama cucu-cucu kandung Buhaji, ikut makan dari meja utama, atau tidak segera membantu mencuci piring-piring bekas makan mereka.

”Semua sudah dianggap seperti anak dan cucu sendiri. Walau ibu sudah tidak ada, kami akan tetap datang ke rumah ini. Dua-tiga bulan sekali, yang pasti pas Lebaran ke sini,” begitu penjelasan anak-anak Buhaji di depan tamu-tamu yang melayat beberapa hari kemudian.

Aku memandangi ibu. Dia masih bergeming, terlihat sedikit melamun, kemudian membuang napas pelan begitu anak pertama Buhaji mengakhiri kalimatnya.

”Ayo pulang.”

”Sekarang?” tanyaku bingung, tamu-tamu jauh belum juga pulang.

”Kalau kamu masih mau di sini, ibu bisa pulang sendiri.”

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore